<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>qianwoole11xd</title>
    <link>https://qianwoole11xd.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Sun, 31 May 2026 17:54:54 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Sekali lagi</title>
      <link>https://qianwoole11xd.writeas.com/sekali-lagi-3qm8?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Cw // sad(?)&#xA;&#xA;Jake menatap layar ponselnya yang menyala di tengah malam yang sunyi. Hujan gerimis membasahi jendela kamarnya, seolah ikut merasakan kegelisahan yang memenuhi dadanya. Udah hampir tengah malam, tapi Heeseung belum pulang juga. Bukan sekali dua kali kayak gini, tapi malam ini terasa berbeda, entah kenapa.&#xA;&#xA;“Hee,” Jake mengetik pesan pertamanya. “Dimana?” lanjutnya. “Belom pulang?”&#xA;&#xA;Beberapa menit belum ada balasan dari Heeseung. Sampai akhirnya satu foto masuk. Tanpa kata. Tanpa penjelasan.&#xA;Foto itu membuat dada Jake seperti tertusuk jarum dari dalam dadanya.&#xA;&#xA;Heeseung, di dalam mobil, menggenggam tangan seseorang dan mencium punggung tangan itu dengan lembut. Penuh kasih. Tapi yang jelas itu bukan tangan Jake. Jaketnya asing. Posisinya salah. Waktunya juga gak tepat. Jake menatap layar cukup lama, berusaha memahami dan menolak rasa sakit yang merambat perlahan, seperti racun yang baru bekerja setelah beberapa detik.&#xA;&#xA;Lalu ia membalas, satu kalimat yang lebih berat dari ribuan kata lainnya.&#xA;“Gimana Hee?”&#xA;Itu bukan pertanyaan biasa. Itu bukan sekadar &#34;lagi dimana&#34;. Itu bukan &#34;lagi sama siapa&#34;. Melainkan itu sebuah pertanyaan yang seperti “Foto apa yang kamu kirim ke aku Hee?”&#xA;&#xA;Tapi Jake gak meledak. Gak marah juga, Ia hanya duduk diam di kamar gelap, menggenggam ponsel erat-erat, mencoba menyembunyikan tangis yang akhirnya tak bisa dia tahan. Karena dia tahu, dari malam itu mereka gak lagi berdiri di tempat yang sama.&#xA;&#xA;Setelah mengetik pesan terakhirnya, “Gimana, Hee?”, Jake menaruh ponsel di meja kecil di samping ranjang. Tapi tangannya gemetar, jantungnya tak kunjung tenang. Ia menatap ke arah kamar Abi sang anak, pintu kamarnya sedikit terbuka, lampu kecil di dalamnya menyala, memberi cahaya remang yang membuat suasana makin sepi, makin menyesakkan. &#xA;&#xA;Dengan langkah perlahan, Jake berjalan ke arah kamar Abi. Anak itu tengah belajar, di dinding dekat meja belajar terdapat tempelan gambar-gambar hasil corat-coret Abi saat bermain dengan Jake pada saat usia lima tahun masih tergantung. Jake melihat ada satu gambar kecil yang digambar pakai krayon biru, bertuliskan: “Abi, Apah, Apih❤️” dengan love merah yang tertampang jelas di depannya.&#xA;&#xA;Jake menahan napas. Kata-kata itu, gambar kecil itu… menyayat hati Jake saat ini. Ia berdiri di belakang Abi, membelai rambut anaknya dengan lembut. Anak itu menatap Jake, dan berkata “kenapa Apih?” Jake menunduk, mencium kening Abi, lalu berbisik pelan: “Apih gak tau harus bilang apa, Bi… Tapi kamu harus tahu, Apih sayang kamu. Sayang banget.” Ucapnya.&#xA;&#xA;Tangannya mencengkram bajunya sendiri. Matanya panas. Tapi lagi-lagi, air mata Jake tak turun. Ia kembali berbisik pelan ke sang anak “Mau dibantu ngerjain tugasnya?” Ucapnya dan Abi mengangguk. &#xA;&#xA;Layar ponsel Abi menyala, terdapat notif kalau Heeseung mengabari mereka. &#xA;“Apah pulang yaa” Jake tersenyum kecil.Apah pulang yaa” Heeseung sama sekali benar-benar gak ada rasa bersalah setelah mengirim foto dirinya sedang mencium tangan orang lain.&#xA;&#xA;Jake berdiri, kembali ke ruang tengah. Tapi sebelum ia meninggalkan kamar, ia menoleh lagi ke arah Abi. Kamar kecil itu.. yang dulu mereka cat bertiga saat Abi masih dalam kandungan, kini jadi saksi bisu tentang keluarga yang mulai retak perlahan.&#xA;&#xA;Di meja kecil di sudut kamar, terdapat foto mereka bertiga, yang seharusnya foto itu ketika dilihat tampak bikin suasana hati Jake adem, sekarang hanya bikin suasana hati Jake merasa tertusuk paku.&#xA;&#xA;Pukul 01:00, pintu Rumah dari keluarga Seoksoo berderit. Heeseung masuk, pelan, seperti biasa. Ia berjalan menuju dapur, dan ingin mengambil sebuah cemilan dari kulkas. Mungkin ia mengira Jake udah tidur. Tapi Jake berdiri di ambang pintu kamar Abi, bersandar diam. Cahaya redup dari dalam kamar menyorot wajahnya yang dingin, kaku, dan tak ada sedikit pun sisa senyum.&#xA;“Hee,” panggilnya lirih.&#xA;&#xA;Heeseung terkejut. “Jake? Belum tidur?”&#xA;Jake tak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya sebentar, lalu berkata dengan nada datar, “Abi baru aja tidur. Jangan berisik.” Heeseung mengangguk pelan, menunduk. Tapi sebelum ia melangkah memasuki kamar, Jake bertanya pelan tanpa emosi, tanpa intonasi, “Kamu sengaja kirim foto itu, kan?” Hening.&#xA;&#xA;Heeseung menatap Jake bingung. Wajahnya berubah, seperti tak tahu apa-apa. “Maksudnya gimana?” Tanyanya.&#xA;&#xA;Jake melanjutkan, suaranya pelan tapi mengiris, “Apa kamu kira aku gak bisa lihat perbedaan tangan aku sama tangan dia?apa kamu kira aku sepolos itu, Hee?” Heeseung terdiam. Ia benar-benar tak tahu apa-apa, karena foto yang Jake maksud tak ada.&#xA;&#xA;“Kamu ini ngomong apa si, sayang..” Heeseung hendak mengelus rambut Jake, tetapi Jake lebih dulu menepisnya. “JAWAB!” Nada Jake saat ini meninggi. Heeseung yang takut membangunkan ayah, papih, dan juga anaknya itu, ia segera menarik Jake ke kamar mereka berdua.&#xA;&#xA;“Coba jelasin maksudnya apa Jake?” Tanyanya lembut. &#xA;&#xA;Jake menarik napas panjang, lalu berkata,&#xA;“Aku gak mau Abi, ayah, sama papih bangun dan liat kita ribut kayak gini. Nanti pagi, kita omongin. Bukan buat kita, tapi buat ABI.”&#xA;&#xA;Heeseung masih mencoba mencerna perkataan dari suaminya itu. Tapi Jake udah lebih dulu menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Heeseung berdiri di sisi kamar, diam. Napasnya bergetar. Ia menatap punggung Jake yang membelakanginya, tampak rapuh tapi tegas. Ruangan terasa sesak oleh keheningan, oleh kata-kata yang tertahan, dan oleh luka yang belum sempat mengering tapi sudah makin menganga.&#xA;&#xA;“Jake…” ucapnya lirih, berharap masih ada celah untuk menjelaskan. Tapi Jake hanya diam, matanya terpejam seakan menolak kenyataan. Heeseung menghela napas, menunduk, lalu perlahan berjalan ke sisi ranjang dan duduk, menjaga jarak.&#xA;Waktu berjalan lambat. Detik terasa menit. Menit terasa jam. Heeseung pun hanya bisa menatap wajah Jake dari samping, menyadari bahwa jarak di antara mereka malam ini bukan sekadar ruang… tapi hati yang sudah jauh.&#xA;&#xA;Pagi harinya, sinar matahari menembus tirai jendela dengan hangat yang menyakitkan. Jake sudah bangun lebih dulu, seperti biasa. Ia sudah menyiapkan sarapan untuk Abi, dan juga keluarga dari sang suami. Menaruh bekal ke dalam tas Abi, dan mengecek ulang PR yang semalam mereka kerjakan bersama. Tapi kali ini, semua dilakukan dengan hampa. Seperti tubuhnya bergerak tanpa ruh.&#xA;&#xA;Heeseung duduk di ruang makan bersama ayah, dan juga papihnya. Ia tak menyentuh makanannya. Hanya memandangi punggung Jake, yang bahkan pagi ini tak menoleh sekali pun ke arahnya. Biasanya, selalu ada pelukan hangat, ciuman ringan di pipi, atau sekadar ucapan “pagi, pah.” Tapi hari ini… sunyi.&#xA;&#xA;Abi datang sambil memakaikan dasi ke kerah bajunya, lalu memeluk Jake. “Apih, nanti jemput Abi ya?” Jake mengangguk dan membalas pelukan itu, mencium pipi Abi, sambil merapihkan baju sang anak yang masih terlihat kurang rapih. “Pasti. Hati-hati di sekolah ya, Abi. Salim sama ompa, ompi.” Abi menganggu.&#xA; “Apah?” panggil Abi sambil menoleh ke Heeseung.&#xA; “Iya, sayang?”&#xA; “Abi mau main ps sama apah. Jadi, apah pulangnya cepet, yaa! Nanti Abi bilang sama ompa suruh Apah pulang cepet.” &#xA;&#xA;Kata-kata itu bikin Jake terharu, dikarenakan Abi yang saat ini kurang perhatian dari Heeseung, entah ia kerja atau apa, Ia hanya bisa tersenyum lemah sambil menyembunyikan gejolak di dadanya. &#xA;&#xA;Setelah Abi pergi, rumah kembali hening. Sampai akhirnya Jake berjalan menuju ke kamarnya, “ayah, papih, aku izin ngobrol berdua dulu sama Hee dikamar, yaa. Selamat makan ayah, papih.” Jake menarik tangan Heeseung dengan cepat, dan menutup pintu kamar.&#xA;&#xA;“Kita mulai aja,” katanya tanpa menoleh. Ia duduk di sofa kamarnya, melipat tangannya di dada. Heeseung menatapnya, lalu duduk perlahan di sampingnya. “Aku gak mau muter-muter, Hee. Aku udah tahu. Aku lihat sendiri. Jadi aku cuma mau tahu satu hal… kenapa?” Sambil menunjukkan foto yang semalem dikirim oleh seseorang lewat ponsel suaminya.&#xA;&#xA;Heeseung diam. Bibirnya bergetar, tapi kata-kata sulit keluar. “Jake, aku... aku gak tahu harus mulai dari mana. Aku gak pernah bermaksud nyakitin kamu. Tapi aku... aku ngerasa kesepian.”&#xA;&#xA;Jake tertawa kecil, pahit. “Kesepian? Kamu yang jarang pulang. Kamu yang mulai jarang ngobrol. Kamu yang mulai tidur lebih dulu, bangun lebih telat. Tapi kamu yang kesepian?” Ucapnya yang sambil berdiri berjalan ke arah kasur.&#xA;&#xA;“Aku ngerasa kamu sibuk sama Abi terus… ngurus toko cookies kamu. Aku ngerasa, kamu gak ngelihat aku lagi sebagai pasangan. Cuma sebagai orang tua Abi.” Kata Heeseung. Jake mengangguk pelan. “Jadi kamu memilih nyari tangan lain buat dicium? Buat merasa ‘terlihat’? Kalau gitu… kenapa gak dari awal bilang?“&#xA;&#xA;Heeseung menunduk. Air matanya jatuh. “Aku takut, Jake. Aku takut kamu makin jauh. Aku takut kamu marah.” Jake memejamkan mata, menarik napas panjang “Terlambat, Hee. Aku udah jauh sekarang. Dan bukan karena aku marah... tapi karena aku kecewa. Kamu hancurin kepercayaan yang aku jaga selama ini. Kamu hancurin rumah yang kita bangun dari nol, dari sakit, dari susah, dari air mata, dari impian.”&#xA;&#xA;Heeseung berdiri, berjalan menghampiri Jake, lalu berlutut. “Tolong... kasih aku kesempatan, Jake. Aku salah. Aku ngaku aku salah. Aku mau berubah. Aku mau perbaiki semuanya.”&#xA;&#xA;Jake menatap mata Heeseung untuk pertama kalinya hari itu. Mata yang dulu selalu memberi ketenangan, kini hanya memantulkan bayangan pengkhianatan. “Aku gak bisa jawab sekarang,” kata Jake pelan. “Aku butuh waktu. Aku butuh ruang. Buat berpikir. Buat lihat apakah masih ada yang bisa diselamatkan.”&#xA;Heeseung menggenggam tangan Jake erat-erat. Tapi Jake melepaskannya perlahan, dan menuju ke kamar Abi sambil menangis.&#xA;&#xA;Ayah dan papih yang mendengar dan juga melihatnya, ia sebenarnya tak mau ikut campur, tetapi sikap anaknya sudah keterlaluan menurutnya. Sedangkan Heeseung masih terduduk di lantai ruang kamarnya, napasnya tersengal di antara isak. Ruangan itu kini sunyi, tapi sunyi yang tajam, seolah tiap detiknya menegaskan betapa besar kesalahan yang baru saja ia buat. &#xA;Langkah kaki pelan terdengar dari arah depan pintu. Dokyeom, ayahnya, muncul dengan raut wajah keras, diikuti Joshua yang menatapnya dengan sorot kecewa yang tak bisa ia sembunyikan lagi. Mereka tak langsung bicara. Dokyeom hanya berdiri di depan Heeseung yang masih berlutut, membiarkan anaknya menunduk dalam diam.&#xA; Heeseung bisa merasakan tatapan sang ayah yang menusuk ubun-ubunnya. Ia bahkan tak berani mendongak. Suara Joshua memecah hening lebih dulu, tapi suaranya bukan suara lembut yang biasa ia dengar sangat menenangkan. Ada kekecewaan berat di sana. “Heeseung…” panggil Joshua pelan, nadanya dingin. “Lihat Papih.” Heeseung mengangkat wajahnya pelan, matanya merah bengkak, bibirnya bergetar. “Papih… Ayah… abang…” “Diam dulu,” sang ayah memotong pembicaraan Hee dengan tajam. &#xA;&#xA;Suaranya datar, tapi menekan di dada Heeseung. “Jangan banyak alesan. Papih sama Ayah mau kamu denger dulu.” Joshua melipat tangannya di dada. “Kamu kan udah papih wanti-wanti buat gak kayak ayah kamu, tapi malah kenapa kayak ayah kamu? Bahkan lebih jahat.” Ucap Joshua.&#xA; Heeseung terisak, “abang… abang gak bermaksud nyakitin Jake. Abang cuma…” Dokyeom menahan marahnya. “Cuma apa? Cuma test kesetiaan Jake sama kamu? Kamu kira Jake itu bakal ninggalin kamu gitu aja? Kamu kira dia gak sayang sama kamu? Dia sayang sama kamu, padahal banyak cowok diluar sana yang bisa Jake dapetin. Tapi dia tetep milih kamu. Anak AYAH!”&#xA;Nafas Dokyeom memburu. &#xA;&#xA;Heeseung tetap diam. Namun, matanya kembali membasah, air mata menetes satu-satu membasahi punggung tangannya yang gemetar memegangi lantai. Ruangan itu seolah makin menyempit, suara detak jantungnya bergema di telinga, bercampur suara Dokyeom yang masih menahan bara di dada.&#xA;&#xA;Joshua menarik napas panjang, menoleh ke Dokyeom sejenak seolah meminta ayahnya menahan diri. “Heeseung…” Suaranya melembut sedikit, tapi masih penuh luka. “Jake itu suami kamu sekarang, apih dari anak kamu. Apa kamu tega bikin dia ngerasa sekecewa itu? Dia udah kasih semua waktunya, semua hatinya, buat kamu. Ini balesan kamu?”&#xA;&#xA;Heeseung memejamkan mata, menekuk badannya makin rendah seolah ingin merangkak masuk ke lantai agar bisa lenyap. Tubuhnya bergetar, bahunya naik-turun, sedangkan mulutnya hanya mampu menggumam pelan. “Papih… Ayah… Hee… maaf… Hee salah… Hee salah banget…”&#xA;Tapi Dokyeom justru menoleh ke arah pintu kamar Abi di mana Jake berada. &#xA;&#xA;Dokyeom menyuruh sang anak untuk menghampiri Jake yang berada di sebrangnya. “Minta maaf ke Jake.” Ketusnya.&#xA;&#xA;Heeseung masuk ke kamar sang anak yang dimana suaminya itu berada. Ia melihat Jake tengah menatap ke arah jendela, wajah Jake dingin, matanya sembab tapi tatapannya kosong, seolah habis hujan tapi awan hitamnya masih menutup seluruh langit hatinya.&#xA;&#xA;“Jake…” panggilnya pelan. “Maaf…” lanjutnya.&#xA;&#xA;Jake menatap Heeseung dalam-dalam, tapi tatapan itu tak lagi hangat, tak lagi menenangkan. Tatapan Jake kosong, lebih dingin dari hujan yang kini jatuh di luar jendela. Bibirnya sedikit terbuka, seolah ingin bicara, tapi hanya udara dingin yang lolos.&#xA;&#xA;“Aku… aku minta maaf, Jake… aku salah… aku nyesel… beneran nyesel banget…” Suara Heeseung makin lirih. Ia berjalan pelan ke arah Jake, lalu berlutut di kaki Jake. “Jake, tampar aku… pukul aku, Jake… tapi jangan pernah tinggalin aku… jangan pergi, Jake…”&#xA;&#xA;Jake menahan napasnya. Tangannya mengepal, bergetar di sisi pinggangnya. Tatapannya jatuh ke bawah, melihat Heeseung yang kini bersujud di depannya. Laki-laki yang dulu selalu berdiri gagah, sekarang mencengkram kakinya seperti anak kecil yang takut kehilangan rumah.&#xA;&#xA;“Sayang… Yeyun, aku mohon… Hee mohon banget… maafin Hee… Hee gak akan ngulangin lagi… demi Papih sama Ayah… demi perasaan Jake, demi Abi juga… Aku bener-bener minta maaf…” Suara Heeseung pecah di ujung kalimatnya. Pipinya basah oleh air mata yang menetes tak tertahan. &#xA;&#xA;Joshua akhirnya membalik badan, membelakangi pemandangan itu. Dokyeom menghela napas panjang, wajahnya muram tapi keras, ini konsekuensi yang harus anaknya tanggung.&#xA;&#xA;Jake membungkuk sedikit, menyentuh pundak Heeseung. Sentuhan itu membuat tubuh Heeseung menegang sejenak. Seberkas harap kembali tumbuh di matanya yang basah. Tapi Jake menyingkirkan tangannya pelan. “Heeseung…” Suaranya serak. “Kamu tahu gak, sakitnya ini tuh gak kayak ditusuk. Tapi ini kayak… kayak kamu nyabut jantung aku pas aku lagi percaya-percayanya sama kamu.”&#xA;&#xA;Jake menghela napas lagi, panjang, seolah paru-parunya pun berat menahan sesak. Ia menunduk, menatap Heeseung yang masih gemetar di bawah sana. Satu sisi hatinya menjerit, ingin memeluk Heeseung, menenangkannya, bilang kalo ini semua akan baik-baik saja. Tapi sisi lainnya menolak, menolak dibegoin lagi, menolak disakiti dengan cara yang sama.&#xA;&#xA;“Heeseung…,” Jake berbisik, suaranya pecah di tengah hening ruang keluarga yang kini seakan berubah jadi penjara bagi mereka berdua. “Aku ini udah kasih semuanya. Waktu, hati, hidup… Bahkan harga diri aku pun udah aku taro di depan kamu. Biar kamu ngerasa dicintai sepenuhnya.”&#xA;&#xA;Heeseung mengangkat wajahnya, memohon lewat tatapan. “Aku tau… aku… aku nyesel banget, Jake…”&#xA;&#xA;“Tau?” Jake menahan isak di tenggorokan. Ia tersenyum miring setelah mendengar ucapan Heeseung barusan. “Kalo kamu beneran tau, harusnya kamu jaga aku. Harusnya kamu ingat waktu aku rela begadang nemenin kamu kerja, waktu kamu nyuruh aku ngegugurin Abi, tapi masih aku pertahanin! Harusnya kamu ingat, Heeseung.”&#xA;&#xA;Heeseung makin menunduk, mencium punggung tangan Jake yang kini gemetar. “Aku inget… aku inget, Yeyun… maafin aku… Aku janji gak akan ngulang…” Jake memejamkan matanya, air matanya akhirnya jatuh, menetes satu demi satu ke rambut Heeseung. “Aku gak tau aku ini bego atau emang hati aku sebegitu lemahnya sama kamu… Tapi satu hal, Heeseung, Kalo aku mau nyoba lagi, ini bukan karena aku udah lupa sama sakitnya. Ini justru karena aku mau lihat, mau buktiin kalo kamu masih layak apa engga buat aku pertahanin.”&#xA;&#xA;Heeseung menegakkan badan, matanya sembab tapi ada sedikit cahaya di sana. “Aku mau, Yeyun! Aku mau buktiin! Aku mau lakuin apa aja… Aku akan tebus semua—”&#xA;Jake memotong cepat. “Dengerin dulu.” Suaranya rendah, tegas, tapi gemetar. “Sekali. Ini cuma sekali. Kalo kamu ngulang, meski cuma setitik, meski cuma boong kecil, aku pergi. Beneran pergi. Dan gak akan pernah nengok lagi, Hee.”&#xA;&#xA;Heeseung meraih tangannya, menggenggamnya erat seolah takut Jake menghilang saat itu juga. “Enggak, aku gak akan nyakitin kamu lagi… aku bakal jadi suami dan apah yang baik untuk kamu dan juga Abi. Aku janji.”&#xA;&#xA;Jake menarik napas dalam, membiarkan genggaman itu ada. Sakitnya masih ada, akan lama ada. Tapi di balik luka itu, dia masih melihat Heeseung yang dulu, anak manja yang selalu lari ke pelukannya, yang dulu menatapnya seperti rumah. Perlahan Jake membungkuk, menyentuh kening Heeseung dengan keningnya. Sama-sama terisak, sama-sama goyah. “Tebus janji kamu, Hee. Buktiin, kalo kamu masih layak aku sebut rumah.”&#xA;&#xA;Di sudut ruangan, Dokyeom menoleh ke Joshua yang diam-diam menatap pemandangan itu. Mereka berdua tak mengucap apa-apa, hanya saling mengangguk pelan. Karena pada akhirnya, sekeras apapun orang tua menahan, mereka tau, kalo rumah tangga itu tetap milik anak anak mereka untuk dipertahankan, atau dihancurkan sekali lagi.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Cw // sad(?)</p>

<p>Jake menatap layar ponselnya yang menyala di tengah malam yang sunyi. Hujan gerimis membasahi jendela kamarnya, seolah ikut merasakan kegelisahan yang memenuhi dadanya. Udah hampir tengah malam, tapi Heeseung belum pulang juga. Bukan sekali dua kali kayak gini, tapi malam ini terasa berbeda, entah kenapa.</p>

<p>“Hee,” Jake mengetik pesan pertamanya. “Dimana?” lanjutnya. “Belom pulang?”</p>

<p>Beberapa menit belum ada balasan dari Heeseung. Sampai akhirnya satu foto masuk. Tanpa kata. Tanpa penjelasan.
Foto itu membuat dada Jake seperti tertusuk jarum dari dalam dadanya.</p>

<p>Heeseung, di dalam mobil, menggenggam tangan seseorang dan mencium punggung tangan itu dengan lembut. Penuh kasih. Tapi yang jelas itu bukan tangan Jake. Jaketnya asing. Posisinya salah. Waktunya juga gak tepat. Jake menatap layar cukup lama, berusaha memahami dan menolak rasa sakit yang merambat perlahan, seperti racun yang baru bekerja setelah beberapa detik.</p>

<p>Lalu ia membalas, satu kalimat yang lebih berat dari ribuan kata lainnya.
“Gimana Hee?”
Itu bukan pertanyaan biasa. Itu bukan sekadar “lagi dimana”. Itu bukan “lagi sama siapa”. Melainkan itu sebuah pertanyaan yang seperti “Foto apa yang kamu kirim ke aku Hee?”</p>

<p>Tapi Jake gak meledak. Gak marah juga, Ia hanya duduk diam di kamar gelap, menggenggam ponsel erat-erat, mencoba menyembunyikan tangis yang akhirnya tak bisa dia tahan. Karena dia tahu, dari malam itu mereka gak lagi berdiri di tempat yang sama.</p>

<p>Setelah mengetik pesan terakhirnya, “Gimana, Hee?”, Jake menaruh ponsel di meja kecil di samping ranjang. Tapi tangannya gemetar, jantungnya tak kunjung tenang. Ia menatap ke arah kamar Abi sang anak, pintu kamarnya sedikit terbuka, lampu kecil di dalamnya menyala, memberi cahaya remang yang membuat suasana makin sepi, makin menyesakkan.</p>

<p>Dengan langkah perlahan, Jake berjalan ke arah kamar Abi. Anak itu tengah belajar, di dinding dekat meja belajar terdapat tempelan gambar-gambar hasil corat-coret Abi saat bermain dengan Jake pada saat usia lima tahun masih tergantung. Jake melihat ada satu gambar kecil yang digambar pakai krayon biru, bertuliskan: “Abi, Apah, Apih❤️” dengan love merah yang tertampang jelas di depannya.</p>

<p>Jake menahan napas. Kata-kata itu, gambar kecil itu… menyayat hati Jake saat ini. Ia berdiri di belakang Abi, membelai rambut anaknya dengan lembut. Anak itu menatap Jake, dan berkata “kenapa Apih?” Jake menunduk, mencium kening Abi, lalu berbisik pelan: “Apih gak tau harus bilang apa, Bi… Tapi kamu harus tahu, Apih sayang kamu. Sayang banget.” Ucapnya.</p>

<p>Tangannya mencengkram bajunya sendiri. Matanya panas. Tapi lagi-lagi, air mata Jake tak turun. Ia kembali berbisik pelan ke sang anak “Mau dibantu ngerjain tugasnya?” Ucapnya dan Abi mengangguk.</p>

<p>Layar ponsel Abi menyala, terdapat notif kalau Heeseung mengabari mereka.
“Apah pulang yaa” Jake tersenyum kecil.Apah pulang yaa” Heeseung sama sekali benar-benar gak ada rasa bersalah setelah mengirim foto dirinya sedang mencium tangan orang lain.</p>

<p>Jake berdiri, kembali ke ruang tengah. Tapi sebelum ia meninggalkan kamar, ia menoleh lagi ke arah Abi. Kamar kecil itu.. yang dulu mereka cat bertiga saat Abi masih dalam kandungan, kini jadi saksi bisu tentang keluarga yang mulai retak perlahan.</p>

<p>Di meja kecil di sudut kamar, terdapat foto mereka bertiga, yang seharusnya foto itu ketika dilihat tampak bikin suasana hati Jake adem, sekarang hanya bikin suasana hati Jake merasa tertusuk paku.</p>

<p>Pukul 01:00, pintu Rumah dari keluarga Seoksoo berderit. Heeseung masuk, pelan, seperti biasa. Ia berjalan menuju dapur, dan ingin mengambil sebuah cemilan dari kulkas. Mungkin ia mengira Jake udah tidur. Tapi Jake berdiri di ambang pintu kamar Abi, bersandar diam. Cahaya redup dari dalam kamar menyorot wajahnya yang dingin, kaku, dan tak ada sedikit pun sisa senyum.
“Hee,” panggilnya lirih.</p>

<p>Heeseung terkejut. “Jake? Belum tidur?”
Jake tak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya sebentar, lalu berkata dengan nada datar, “Abi baru aja tidur. Jangan berisik.” Heeseung mengangguk pelan, menunduk. Tapi sebelum ia melangkah memasuki kamar, Jake bertanya pelan tanpa emosi, tanpa intonasi, “Kamu sengaja kirim foto itu, kan?” Hening.</p>

<p>Heeseung menatap Jake bingung. Wajahnya berubah, seperti tak tahu apa-apa. “Maksudnya gimana?” Tanyanya.</p>

<p>Jake melanjutkan, suaranya pelan tapi mengiris, “Apa kamu kira aku gak bisa lihat perbedaan tangan aku sama tangan dia?apa kamu kira aku sepolos itu, Hee?” Heeseung terdiam. Ia benar-benar tak tahu apa-apa, karena foto yang Jake maksud tak ada.</p>

<p>“Kamu ini ngomong apa si, sayang..” Heeseung hendak mengelus rambut Jake, tetapi Jake lebih dulu menepisnya. “JAWAB!” Nada Jake saat ini meninggi. Heeseung yang takut membangunkan ayah, papih, dan juga anaknya itu, ia segera menarik Jake ke kamar mereka berdua.</p>

<p>“Coba jelasin maksudnya apa Jake?” Tanyanya lembut.</p>

<p>Jake menarik napas panjang, lalu berkata,
“Aku gak mau Abi, ayah, sama papih bangun dan liat kita ribut kayak gini. Nanti pagi, kita omongin. Bukan buat kita, tapi buat ABI.”</p>

<p>Heeseung masih mencoba mencerna perkataan dari suaminya itu. Tapi Jake udah lebih dulu menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Heeseung berdiri di sisi kamar, diam. Napasnya bergetar. Ia menatap punggung Jake yang membelakanginya, tampak rapuh tapi tegas. Ruangan terasa sesak oleh keheningan, oleh kata-kata yang tertahan, dan oleh luka yang belum sempat mengering tapi sudah makin menganga.</p>

<p>“Jake…” ucapnya lirih, berharap masih ada celah untuk menjelaskan. Tapi Jake hanya diam, matanya terpejam seakan menolak kenyataan. Heeseung menghela napas, menunduk, lalu perlahan berjalan ke sisi ranjang dan duduk, menjaga jarak.
Waktu berjalan lambat. Detik terasa menit. Menit terasa jam. Heeseung pun hanya bisa menatap wajah Jake dari samping, menyadari bahwa jarak di antara mereka malam ini bukan sekadar ruang… tapi hati yang sudah jauh.</p>

<p>Pagi harinya, sinar matahari menembus tirai jendela dengan hangat yang menyakitkan. Jake sudah bangun lebih dulu, seperti biasa. Ia sudah menyiapkan sarapan untuk Abi, dan juga keluarga dari sang suami. Menaruh bekal ke dalam tas Abi, dan mengecek ulang PR yang semalam mereka kerjakan bersama. Tapi kali ini, semua dilakukan dengan hampa. Seperti tubuhnya bergerak tanpa ruh.</p>

<p>Heeseung duduk di ruang makan bersama ayah, dan juga papihnya. Ia tak menyentuh makanannya. Hanya memandangi punggung Jake, yang bahkan pagi ini tak menoleh sekali pun ke arahnya. Biasanya, selalu ada pelukan hangat, ciuman ringan di pipi, atau sekadar ucapan “pagi, pah.” Tapi hari ini… sunyi.</p>

<p>Abi datang sambil memakaikan dasi ke kerah bajunya, lalu memeluk Jake. “Apih, nanti jemput Abi ya?” Jake mengangguk dan membalas pelukan itu, mencium pipi Abi, sambil merapihkan baju sang anak yang masih terlihat kurang rapih. “Pasti. Hati-hati di sekolah ya, Abi. Salim sama ompa, ompi.” Abi menganggu.
 “Apah?” panggil Abi sambil menoleh ke Heeseung.
 “Iya, sayang?”
 “Abi mau main ps sama apah. Jadi, apah pulangnya cepet, yaa! Nanti Abi bilang sama ompa suruh Apah pulang cepet.”</p>

<p>Kata-kata itu bikin Jake terharu, dikarenakan Abi yang saat ini kurang perhatian dari Heeseung, entah ia kerja atau apa, Ia hanya bisa tersenyum lemah sambil menyembunyikan gejolak di dadanya.</p>

<p>Setelah Abi pergi, rumah kembali hening. Sampai akhirnya Jake berjalan menuju ke kamarnya, “ayah, papih, aku izin ngobrol berdua dulu sama Hee dikamar, yaa. Selamat makan ayah, papih.” Jake menarik tangan Heeseung dengan cepat, dan menutup pintu kamar.</p>

<p>“Kita mulai aja,” katanya tanpa menoleh. Ia duduk di sofa kamarnya, melipat tangannya di dada. Heeseung menatapnya, lalu duduk perlahan di sampingnya. “Aku gak mau muter-muter, Hee. Aku udah tahu. Aku lihat sendiri. Jadi aku cuma mau tahu satu hal… kenapa?” Sambil menunjukkan foto yang semalem dikirim oleh seseorang lewat ponsel suaminya.</p>

<p>Heeseung diam. Bibirnya bergetar, tapi kata-kata sulit keluar. “Jake, aku... aku gak tahu harus mulai dari mana. Aku gak pernah bermaksud nyakitin kamu. Tapi aku... aku ngerasa kesepian.”</p>

<p>Jake tertawa kecil, pahit. “Kesepian? Kamu yang jarang pulang. Kamu yang mulai jarang ngobrol. Kamu yang mulai tidur lebih dulu, bangun lebih telat. Tapi kamu yang kesepian?” Ucapnya yang sambil berdiri berjalan ke arah kasur.</p>

<p>“Aku ngerasa kamu sibuk sama Abi terus… ngurus toko cookies kamu. Aku ngerasa, kamu gak ngelihat aku lagi sebagai pasangan. Cuma sebagai orang tua Abi.” Kata Heeseung. Jake mengangguk pelan. “Jadi kamu memilih nyari tangan lain buat dicium? Buat merasa ‘terlihat’? Kalau gitu… kenapa gak dari awal bilang?“</p>

<p>Heeseung menunduk. Air matanya jatuh. “Aku takut, Jake. Aku takut kamu makin jauh. Aku takut kamu marah.” Jake memejamkan mata, menarik napas panjang “Terlambat, Hee. Aku udah jauh sekarang. Dan bukan karena aku marah... tapi karena aku kecewa. Kamu hancurin kepercayaan yang aku jaga selama ini. Kamu hancurin rumah yang kita bangun dari nol, dari sakit, dari susah, dari air mata, dari impian.”</p>

<p>Heeseung berdiri, berjalan menghampiri Jake, lalu berlutut. “Tolong... kasih aku kesempatan, Jake. Aku salah. Aku ngaku aku salah. Aku mau berubah. Aku mau perbaiki semuanya.”</p>

<p>Jake menatap mata Heeseung untuk pertama kalinya hari itu. Mata yang dulu selalu memberi ketenangan, kini hanya memantulkan bayangan pengkhianatan. “Aku gak bisa jawab sekarang,” kata Jake pelan. “Aku butuh waktu. Aku butuh ruang. Buat berpikir. Buat lihat apakah masih ada yang bisa diselamatkan.”
Heeseung menggenggam tangan Jake erat-erat. Tapi Jake melepaskannya perlahan, dan menuju ke kamar Abi sambil menangis.</p>

<p>Ayah dan papih yang mendengar dan juga melihatnya, ia sebenarnya tak mau ikut campur, tetapi sikap anaknya sudah keterlaluan menurutnya. Sedangkan Heeseung masih terduduk di lantai ruang kamarnya, napasnya tersengal di antara isak. Ruangan itu kini sunyi, tapi sunyi yang tajam, seolah tiap detiknya menegaskan betapa besar kesalahan yang baru saja ia buat. 
Langkah kaki pelan terdengar dari arah depan pintu. Dokyeom, ayahnya, muncul dengan raut wajah keras, diikuti Joshua yang menatapnya dengan sorot kecewa yang tak bisa ia sembunyikan lagi. Mereka tak langsung bicara. Dokyeom hanya berdiri di depan Heeseung yang masih berlutut, membiarkan anaknya menunduk dalam diam.
 Heeseung bisa merasakan tatapan sang ayah yang menusuk ubun-ubunnya. Ia bahkan tak berani mendongak. Suara Joshua memecah hening lebih dulu, tapi suaranya bukan suara lembut yang biasa ia dengar sangat menenangkan. Ada kekecewaan berat di sana. “Heeseung…” panggil Joshua pelan, nadanya dingin. “Lihat Papih.” Heeseung mengangkat wajahnya pelan, matanya merah bengkak, bibirnya bergetar. “Papih… Ayah… abang…” “Diam dulu,” sang ayah memotong pembicaraan Hee dengan tajam.</p>

<p>Suaranya datar, tapi menekan di dada Heeseung. “Jangan banyak alesan. Papih sama Ayah mau kamu denger dulu.” Joshua melipat tangannya di dada. “Kamu kan udah papih wanti-wanti buat gak kayak ayah kamu, tapi malah kenapa kayak ayah kamu? Bahkan lebih jahat.” Ucap Joshua.
 Heeseung terisak, “abang… abang gak bermaksud nyakitin Jake. Abang cuma…” Dokyeom menahan marahnya. “Cuma apa? Cuma test kesetiaan Jake sama kamu? Kamu kira Jake itu bakal ninggalin kamu gitu aja? Kamu kira dia gak sayang sama kamu? Dia sayang sama kamu, padahal banyak cowok diluar sana yang bisa Jake dapetin. Tapi dia tetep milih kamu. Anak AYAH!”
Nafas Dokyeom memburu.</p>

<p>Heeseung tetap diam. Namun, matanya kembali membasah, air mata menetes satu-satu membasahi punggung tangannya yang gemetar memegangi lantai. Ruangan itu seolah makin menyempit, suara detak jantungnya bergema di telinga, bercampur suara Dokyeom yang masih menahan bara di dada.</p>

<p>Joshua menarik napas panjang, menoleh ke Dokyeom sejenak seolah meminta ayahnya menahan diri. “Heeseung…” Suaranya melembut sedikit, tapi masih penuh luka. “Jake itu suami kamu sekarang, apih dari anak kamu. Apa kamu tega bikin dia ngerasa sekecewa itu? Dia udah kasih semua waktunya, semua hatinya, buat kamu. Ini balesan kamu?”</p>

<p>Heeseung memejamkan mata, menekuk badannya makin rendah seolah ingin merangkak masuk ke lantai agar bisa lenyap. Tubuhnya bergetar, bahunya naik-turun, sedangkan mulutnya hanya mampu menggumam pelan. “Papih… Ayah… Hee… maaf… Hee salah… Hee salah banget…”
Tapi Dokyeom justru menoleh ke arah pintu kamar Abi di mana Jake berada.</p>

<p>Dokyeom menyuruh sang anak untuk menghampiri Jake yang berada di sebrangnya. “Minta maaf ke Jake.” Ketusnya.</p>

<p>Heeseung masuk ke kamar sang anak yang dimana suaminya itu berada. Ia melihat Jake tengah menatap ke arah jendela, wajah Jake dingin, matanya sembab tapi tatapannya kosong, seolah habis hujan tapi awan hitamnya masih menutup seluruh langit hatinya.</p>

<p>“Jake…” panggilnya pelan. “Maaf…” lanjutnya.</p>

<p>Jake menatap Heeseung dalam-dalam, tapi tatapan itu tak lagi hangat, tak lagi menenangkan. Tatapan Jake kosong, lebih dingin dari hujan yang kini jatuh di luar jendela. Bibirnya sedikit terbuka, seolah ingin bicara, tapi hanya udara dingin yang lolos.</p>

<p>“Aku… aku minta maaf, Jake… aku salah… aku nyesel… beneran nyesel banget…” Suara Heeseung makin lirih. Ia berjalan pelan ke arah Jake, lalu berlutut di kaki Jake. “Jake, tampar aku… pukul aku, Jake… tapi jangan pernah tinggalin aku… jangan pergi, Jake…”</p>

<p>Jake menahan napasnya. Tangannya mengepal, bergetar di sisi pinggangnya. Tatapannya jatuh ke bawah, melihat Heeseung yang kini bersujud di depannya. Laki-laki yang dulu selalu berdiri gagah, sekarang mencengkram kakinya seperti anak kecil yang takut kehilangan rumah.</p>

<p>“Sayang… Yeyun, aku mohon… Hee mohon banget… maafin Hee… Hee gak akan ngulangin lagi… demi Papih sama Ayah… demi perasaan Jake, demi Abi juga… Aku bener-bener minta maaf…” Suara Heeseung pecah di ujung kalimatnya. Pipinya basah oleh air mata yang menetes tak tertahan.</p>

<p>Joshua akhirnya membalik badan, membelakangi pemandangan itu. Dokyeom menghela napas panjang, wajahnya muram tapi keras, ini konsekuensi yang harus anaknya tanggung.</p>

<p>Jake membungkuk sedikit, menyentuh pundak Heeseung. Sentuhan itu membuat tubuh Heeseung menegang sejenak. Seberkas harap kembali tumbuh di matanya yang basah. Tapi Jake menyingkirkan tangannya pelan. “Heeseung…” Suaranya serak. “Kamu tahu gak, sakitnya ini tuh gak kayak ditusuk. Tapi ini kayak… kayak kamu nyabut jantung aku pas aku lagi percaya-percayanya sama kamu.”</p>

<p>Jake menghela napas lagi, panjang, seolah paru-parunya pun berat menahan sesak. Ia menunduk, menatap Heeseung yang masih gemetar di bawah sana. Satu sisi hatinya menjerit, ingin memeluk Heeseung, menenangkannya, bilang kalo ini semua akan baik-baik saja. Tapi sisi lainnya menolak, menolak dibegoin lagi, menolak disakiti dengan cara yang sama.</p>

<p>“Heeseung…,” Jake berbisik, suaranya pecah di tengah hening ruang keluarga yang kini seakan berubah jadi penjara bagi mereka berdua. “Aku ini udah kasih semuanya. Waktu, hati, hidup… Bahkan harga diri aku pun udah aku taro di depan kamu. Biar kamu ngerasa dicintai sepenuhnya.”</p>

<p>Heeseung mengangkat wajahnya, memohon lewat tatapan. “Aku tau… aku… aku nyesel banget, Jake…”</p>

<p>“Tau?” Jake menahan isak di tenggorokan. Ia tersenyum miring setelah mendengar ucapan Heeseung barusan. “Kalo kamu beneran tau, harusnya kamu jaga aku. Harusnya kamu ingat waktu aku rela begadang nemenin kamu kerja, waktu kamu nyuruh aku ngegugurin Abi, tapi masih aku pertahanin! Harusnya kamu ingat, Heeseung.”</p>

<p>Heeseung makin menunduk, mencium punggung tangan Jake yang kini gemetar. “Aku inget… aku inget, Yeyun… maafin aku… Aku janji gak akan ngulang…” Jake memejamkan matanya, air matanya akhirnya jatuh, menetes satu demi satu ke rambut Heeseung. “Aku gak tau aku ini bego atau emang hati aku sebegitu lemahnya sama kamu… Tapi satu hal, Heeseung, Kalo aku mau nyoba lagi, ini bukan karena aku udah lupa sama sakitnya. Ini justru karena aku mau lihat, mau buktiin kalo kamu masih layak apa engga buat aku pertahanin.”</p>

<p>Heeseung menegakkan badan, matanya sembab tapi ada sedikit cahaya di sana. “Aku mau, Yeyun! Aku mau buktiin! Aku mau lakuin apa aja… Aku akan tebus semua—”
Jake memotong cepat. “Dengerin dulu.” Suaranya rendah, tegas, tapi gemetar. “Sekali. Ini cuma sekali. Kalo kamu ngulang, meski cuma setitik, meski cuma boong kecil, aku pergi. Beneran pergi. Dan gak akan pernah nengok lagi, Hee.”</p>

<p>Heeseung meraih tangannya, menggenggamnya erat seolah takut Jake menghilang saat itu juga. “Enggak, aku gak akan nyakitin kamu lagi… aku bakal jadi suami dan apah yang baik untuk kamu dan juga Abi. Aku janji.”</p>

<p>Jake menarik napas dalam, membiarkan genggaman itu ada. Sakitnya masih ada, akan lama ada. Tapi di balik luka itu, dia masih melihat Heeseung yang dulu, anak manja yang selalu lari ke pelukannya, yang dulu menatapnya seperti rumah. Perlahan Jake membungkuk, menyentuh kening Heeseung dengan keningnya. Sama-sama terisak, sama-sama goyah. “Tebus janji kamu, Hee. Buktiin, kalo kamu masih layak aku sebut rumah.”</p>

<p>Di sudut ruangan, Dokyeom menoleh ke Joshua yang diam-diam menatap pemandangan itu. Mereka berdua tak mengucap apa-apa, hanya saling mengangguk pelan. Karena pada akhirnya, sekeras apapun orang tua menahan, mereka tau, kalo rumah tangga itu tetap milik anak anak mereka untuk dipertahankan, atau dihancurkan sekali lagi.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://qianwoole11xd.writeas.com/sekali-lagi-3qm8</guid>
      <pubDate>Sun, 29 Jun 2025 15:14:46 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Sekali lagi</title>
      <link>https://qianwoole11xd.writeas.com/sekali-lagi-24rl?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Sekali lagi]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h1 id="sekali-lagi" id="sekali-lagi">Sekali lagi</h1>
]]></content:encoded>
      <guid>https://qianwoole11xd.writeas.com/sekali-lagi-24rl</guid>
      <pubDate>Sun, 29 Jun 2025 15:14:18 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Sekali lagi</title>
      <link>https://qianwoole11xd.writeas.com/sekali-lagi?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Sekali lagi]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://qianwoole11xd.writeas.com/tag:Sekali" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Sekali</span></a> lagi</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://qianwoole11xd.writeas.com/sekali-lagi</guid>
      <pubDate>Sun, 29 Jun 2025 15:14:13 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Penyesalan</title>
      <link>https://qianwoole11xd.writeas.com/penyesalan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Malam itu, Rooftop Rumah terasa dingin, diterangi lampu-lampu kecil yang bergantung. Joshua yang sudah dari siang tiba di Rumah, ia menunggu kedatangan suaminya. Suaminya menginap di Rumah iparnya itu sejak saat mereka bertengkar. &#xA;&#xA;Dilihatnya dari atas rooftop mobil Mingyu tiba. Ia melipat kedua tangannya sambil melihat ke arah mobil Mingyu. Namun, yang di dalam mobil sadar akan Joshua yang memperhatikannya dari atas. “Kyeom, suami lu udah pulang tuh” ucap Mingyu, dan Dokyeom mengangguk. “Selesain baik-baik, ya? Jangan sampe pisah lagi.. kasian keluarga lu.” Lanjut Mingyu. “Iya, Gyu.” Jawab Dokyeom.&#xA;&#xA;Dokyeom turun dari mobil, dan tak lupa ia mengucapkan terimakasih kepada teman sekaligus iparnya itu. “Makasih, Gyu.” Ucapnya. Mingyu mulai meninggalkan Rumah Dokyeom setelah mengantarkan pemilik Rumah tersebut.&#xA;&#xA;Dokyeom ragu-ragu untuk memasuki Rumahnya, namun ia harus memberanikan diri untuk bertemu suaminya itu. Ia inget pesan Seungcheol untuk menyelesaikan masalahnya, bukan hubungannya. Maka dari itu, ia mulai menaiki anak tangga secara perlahan untuk bertemu suaminya. &#xA;&#xA;“Chu” panggil Dokyeom pelan, berdiri di ujung rooftop.&#xA;&#xA;Joshua hanya melirik sekilas, tidak menjawab panggilan suaminya itu. Matanya kembali menatap ke langit-langit yang penuh bintang, sikapnya yang dingin, saat ini sulit ditembus.&#xA;&#xA;Dokyeom menelan ludah, dengan ragu ia melangkah mendekati suaminya itu. Tapi, dia berhenti di jarak yang ia tau, itu gaakan terlalu memaksa kehadirannya ke dalam ruang suaminya yang masih terluka. &#xA;&#xA;“Chu…” suaranya gemetar. “Aku mau minta maaf.”&#xA;&#xA;Joshua tetap diam, tangannya ia kepal disisi tubuhnya, seolah menahan sesuatu. &#xA;&#xA;“Aku… aku tau aku keterlaluan,” lanjut Dokyeom, dengan suaranya yang serak. “Aku tau, aku udah nyakitin kamu.” &#xA;&#xA;Angin malam mengibaskan rambutnya, membuat tubuhnya yang sudah gemetar karena rasa bersalah, terlihat semakin rapuh.&#xA;&#xA;“Aku kabur waktu seharusnya aku jujur di depan kamu,” ucap Dokyeom. “Tapi, aku malah gak jujur dan lebih milih numpang di Rumah kakak aku sendiri. Aku… aku lebih milih nyerah, daripada berjuang, Chu.” &#xA;&#xA;Ia menarik napas panjang, menahan sesak yang mulai naik ke dadanya.&#xA;&#xA;“Aku salah,” lanjutnya lagi, lebih keras, lebih dalam. “Semua ini salah aku. Salah karna aku bosan sama kamu… padahal, kamu aja gak pernah bosan sama aku.” &#xA;&#xA;Joshua masih tak mau bicara, tapi matanya mulai berkaca-kaca. Namun, ia tetap bertahan menahan air matanya agar tak jatuh.&#xA;&#xA;“Josh…” Dokyeom maju satu langkah. “Aku minta maaf. Aku gak minta kamu langsung maafin aku, karena aku tau, aku gak layak buat dimaafin sekarang.”&#xA;&#xA;Suaranya pecah.&#xA;&#xA;“Aku cuma mau kamu tau, aku sadar. Aku sadar udah nyakitin kamu… aku sadar aku ngehancurin kepercayaan kamu. Dan aku siap dihukum. Aku siap kalo kamu butuh jarak.” &#xA;&#xA;Dokyeom mengusap wajahnya yang sudah basah karna air matanya yang sedari tadi jatuh. Ia berlutut perlahan, sambil kepalanya tertunduk rendah.&#xA;&#xA;“Aku gaakan bosen, dan gaakan kabur lagi. Aku disini, kamu kalo mau marah, mau benci sama aku, aku disini, Chu.” Ia tak berani menyentuh Joshua sedikit pun. &#xA;&#xA;Beberapa detik berlalu. Sunyi, berat, menyakitkan menjadi satu. Hingga akhirnya, Joshua mengeluarkan suaranya, suaranya yang pelan dan hampir berbisik itu.&#xA;&#xA;“Kenapa…?” Tanyanya, dengan nada gemetar. “Kenapa kamu bisa bosen sama aku?”&#xA;&#xA;Dokyeom mengangkat wajahnya, matanya sudah sembab akibat terlalu lama menangis.&#xA;&#xA;“Aku bosen,” jawabnya dengan jujur. “Aku bosen sama diri aku sendiri, sama ketakutan aku yang gabisa bikin kamu bahagia.” &#xA;&#xA;Joshua menutup matanya, ia merasakan sakit di dadanya semakin keras.&#xA;&#xA;“Aku selalu ngasih apa yang kamu mau, aku selalu nurut sama perkataan kamu, tapi kamu malah bosen sama aku.”&#xA;&#xA;Tangis Dokyeom pecah.&#xA;&#xA;“Aku bego… aku pengecut…” bisiknya. “Aku sayang sama kamu, kata-kata aku yang bilang aku pengen pisah sama kamu, itu boong. Aku gamau, aku gamau pisah lagi…” &#xA;&#xA;Joshua akhirnya berbalik, ia memandang suaminya yang masih berlutut itu. Ia melihat kejujuran yang ada di mata Dokyeom. Keputusasaan, rasa cinta yang masih ada, walaupun terbungkus dengan rasa bersalah.&#xA;&#xA;Hening lagi.&#xA;&#xA;Hanya suara angin malam dan napas berat mereka yang terdengar. &#xA;&#xA;Akhirnya, Joshua melangkah pelan, mendekat ke arah Dokyeom. Ia berjongkok di depan suaminya dan mengangkat wajah Dokyeom dengan kedua tangannya yang gemetar.&#xA;&#xA;“Kamu nyakitin aku lagi, Kyeom,” bisiknya, air matanya jatuh.&#xA;&#xA;Dokyeom mengangguk, bergetar, menerima semua perkataan Joshua.&#xA;&#xA;“Tapi, aku masih sayang sama kamu,” lanjut Joshua, “masih terlalu sayang buat ngelepas kamu, mas.” Suaranya bergetar.&#xA;&#xA;Ia langsung menarik tubuh suaminya ke dalam pelukannya. Erat. Lama.&#xA;&#xA;“Buktiin ke aku, buktiin kalo kamu masih mau sama aku. Bukan cuma hari ini, tapi hari-hari berikutnya.” &#xA;&#xA;Dokyeom memeluknya balik, gemetar, menangis di bahu Joshua. Ia peluk suaminya dengan erat, seolah kalo ia melepasnya, semuanya akan runtuh lagi. &#xA;&#xA;“Aku janji, aku janji bakal ngebuktiin kalo aku bakal tetep disini sama kamu.”&#xA;&#xA;Joshua membelai lembut rambut suaminya, berusaha menahan air matanya sendiri. Ia bisa merasakan betapa tulus ketakutan dan penyesalan yang mengalir dari tubuh suaminya ke tubuhnya itu.&#xA;&#xA;Perlahan, Joshua melepaskan pelukan itu, cukup hanya melihat wajah Dokyeom, ia mengusap air mata yang ada di pipi suaminya dengan kedua ibu jarinya.&#xA;&#xA;“Mata kamu bengkak, jelek banget kalo kayak gini.” Ucapnya.&#xA;&#xA;Dokyeom tersenyum kecil, penuh rasa bersalah. Ia tau kalo suaminya itu lagi mencoba mencairkan suasana, meski hatinya masih penuh luka yang dirinya buat.&#xA;&#xA;“Aku gapapa jelek, asalkan masih sama kamu terus, Chu.”&#xA;&#xA;“Kalo kamu mau beneran bertahan, kita mulai dari awal, ya?”&#xA;&#xA;Dokyeom mengangguk. “Aku mau. Aku mau mulai dari awal, belajar jadi suami yang lebih baik buat kamu. Buat kita.” Ucapnya.&#xA;&#xA;“Tapi, ini gak gampang,” katanya. “Ada banyak hal yang harus kita perbaiki. Kamu… dan aku.”&#xA;&#xA;“Aku siap.”&#xA;&#xA;Joshua tersenyum tipis, lukanya perlahan mulai hilang. Ia kaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Dokyeom.&#xA;&#xA;“Janji?” Kata Joshua, “kita sama-sama belajar, ya?”&#xA;&#xA;“Janji.”&#xA;&#xA;Mereka saling mengenggam tangan, erat, seolah dunia di sekitar mereka menghilang dan hanya ada mereka berdua, dengan tekat untuk memperbaiki segalanya.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Malam itu, <em>Rooftop</em> Rumah terasa dingin, diterangi lampu-lampu kecil yang bergantung. Joshua yang sudah dari siang tiba di Rumah, ia menunggu kedatangan suaminya. Suaminya menginap di Rumah iparnya itu sejak saat mereka bertengkar.</p>

<p>Dilihatnya dari atas <em>rooftop</em> mobil Mingyu tiba. Ia melipat kedua tangannya sambil melihat ke arah mobil Mingyu. Namun, yang di dalam mobil sadar akan Joshua yang memperhatikannya dari atas. “Kyeom, suami lu udah pulang tuh” ucap Mingyu, dan Dokyeom mengangguk. “Selesain baik-baik, ya? Jangan sampe pisah lagi.. kasian keluarga lu.” Lanjut Mingyu. “Iya, Gyu.” Jawab Dokyeom.</p>

<p>Dokyeom turun dari mobil, dan tak lupa ia mengucapkan terimakasih kepada teman sekaligus iparnya itu. “Makasih, Gyu.” Ucapnya. Mingyu mulai meninggalkan Rumah Dokyeom setelah mengantarkan pemilik Rumah tersebut.</p>

<p>Dokyeom ragu-ragu untuk memasuki Rumahnya, namun ia harus memberanikan diri untuk bertemu suaminya itu. Ia inget pesan Seungcheol untuk menyelesaikan masalahnya, bukan hubungannya. Maka dari itu, ia mulai menaiki anak tangga secara perlahan untuk bertemu suaminya.</p>

<p>“Chu” panggil Dokyeom pelan, berdiri di ujung <em>rooftop</em>.</p>

<p>Joshua hanya melirik sekilas, tidak menjawab panggilan suaminya itu. Matanya kembali menatap ke langit-langit yang penuh bintang, sikapnya yang dingin, saat ini sulit ditembus.</p>

<p>Dokyeom menelan ludah, dengan ragu ia melangkah mendekati suaminya itu. Tapi, dia berhenti di jarak yang ia tau, itu gaakan terlalu memaksa kehadirannya ke dalam ruang suaminya yang masih terluka.</p>

<p>“Chu…” suaranya gemetar. “Aku mau minta maaf.”</p>

<p>Joshua tetap diam, tangannya ia kepal disisi tubuhnya, seolah menahan sesuatu.</p>

<p>“Aku… aku tau aku keterlaluan,” lanjut Dokyeom, dengan suaranya yang serak. “Aku tau, aku udah nyakitin kamu.”</p>

<p>Angin malam mengibaskan rambutnya, membuat tubuhnya yang sudah gemetar karena rasa bersalah, terlihat semakin rapuh.</p>

<p>“Aku kabur waktu seharusnya aku jujur di depan kamu,” ucap Dokyeom. “Tapi, aku malah gak jujur dan lebih milih numpang di Rumah kakak aku sendiri. Aku… aku lebih milih nyerah, daripada berjuang, Chu.”</p>

<p>Ia menarik napas panjang, menahan sesak yang mulai naik ke dadanya.</p>

<p>“Aku salah,” lanjutnya lagi, lebih keras, lebih dalam. “Semua ini salah aku. Salah karna aku bosan sama kamu… padahal, kamu aja gak pernah bosan sama aku.”</p>

<p>Joshua masih tak mau bicara, tapi matanya mulai berkaca-kaca. Namun, ia tetap bertahan menahan air matanya agar tak jatuh.</p>

<p>“Josh…” Dokyeom maju satu langkah. “Aku minta maaf. Aku gak minta kamu langsung maafin aku, karena aku tau, aku gak layak buat dimaafin sekarang.”</p>

<p>Suaranya pecah.</p>

<p>“Aku cuma mau kamu tau, aku sadar. Aku sadar udah nyakitin kamu… aku sadar aku ngehancurin kepercayaan kamu. Dan aku siap dihukum. Aku siap kalo kamu butuh jarak.”</p>

<p>Dokyeom mengusap wajahnya yang sudah basah karna air matanya yang sedari tadi jatuh. Ia berlutut perlahan, sambil kepalanya tertunduk rendah.</p>

<p>“Aku gaakan bosen, dan gaakan kabur lagi. Aku disini, kamu kalo mau marah, mau benci sama aku, aku disini, Chu.” Ia tak berani menyentuh Joshua sedikit pun.</p>

<p>Beberapa detik berlalu. Sunyi, berat, menyakitkan menjadi satu. Hingga akhirnya, Joshua mengeluarkan suaranya, suaranya yang pelan dan hampir berbisik itu.</p>

<p>“Kenapa…?” Tanyanya, dengan nada gemetar. “Kenapa kamu bisa bosen sama aku?”</p>

<p>Dokyeom mengangkat wajahnya, matanya sudah sembab akibat terlalu lama menangis.</p>

<p>“Aku bosen,” jawabnya dengan jujur. “Aku bosen sama diri aku sendiri, sama ketakutan aku yang gabisa bikin kamu bahagia.”</p>

<p>Joshua menutup matanya, ia merasakan sakit di dadanya semakin keras.</p>

<p>“Aku selalu ngasih apa yang kamu mau, aku selalu nurut sama perkataan kamu, tapi kamu malah bosen sama aku.”</p>

<p>Tangis Dokyeom pecah.</p>

<p>“Aku bego… aku pengecut…” bisiknya. “Aku sayang sama kamu, kata-kata aku yang bilang aku pengen pisah sama kamu, itu boong. Aku gamau, aku gamau pisah lagi…”</p>

<p>Joshua akhirnya berbalik, ia memandang suaminya yang masih berlutut itu. Ia melihat kejujuran yang ada di mata Dokyeom. Keputusasaan, rasa cinta yang masih ada, walaupun terbungkus dengan rasa bersalah.</p>

<p>Hening lagi.</p>

<p>Hanya suara angin malam dan napas berat mereka yang terdengar.</p>

<p>Akhirnya, Joshua melangkah pelan, mendekat ke arah Dokyeom. Ia berjongkok di depan suaminya dan mengangkat wajah Dokyeom dengan kedua tangannya yang gemetar.</p>

<p>“Kamu nyakitin aku lagi, Kyeom,” bisiknya, air matanya jatuh.</p>

<p>Dokyeom mengangguk, bergetar, menerima semua perkataan Joshua.</p>

<p>“Tapi, aku masih sayang sama kamu,” lanjut Joshua, “masih terlalu sayang buat ngelepas kamu, mas.” Suaranya bergetar.</p>

<p>Ia langsung menarik tubuh suaminya ke dalam pelukannya. Erat. Lama.</p>

<p>“Buktiin ke aku, buktiin kalo kamu masih mau sama aku. Bukan cuma hari ini, tapi hari-hari berikutnya.”</p>

<p>Dokyeom memeluknya balik, gemetar, menangis di bahu Joshua. Ia peluk suaminya dengan erat, seolah kalo ia melepasnya, semuanya akan runtuh lagi.</p>

<p>“Aku janji, aku janji bakal ngebuktiin kalo aku bakal tetep disini sama kamu.”</p>

<p>Joshua membelai lembut rambut suaminya, berusaha menahan air matanya sendiri. Ia bisa merasakan betapa tulus ketakutan dan penyesalan yang mengalir dari tubuh suaminya ke tubuhnya itu.</p>

<p>Perlahan, Joshua melepaskan pelukan itu, cukup hanya melihat wajah Dokyeom, ia mengusap air mata yang ada di pipi suaminya dengan kedua ibu jarinya.</p>

<p>“Mata kamu bengkak, jelek banget kalo kayak gini.” Ucapnya.</p>

<p>Dokyeom tersenyum kecil, penuh rasa bersalah. Ia tau kalo suaminya itu lagi mencoba mencairkan suasana, meski hatinya masih penuh luka yang dirinya buat.</p>

<p>“Aku gapapa jelek, asalkan masih sama kamu terus, Chu.”</p>

<p>“Kalo kamu mau beneran bertahan, kita mulai dari awal, ya?”</p>

<p>Dokyeom mengangguk. “Aku mau. Aku mau mulai dari awal, belajar jadi suami yang lebih baik buat kamu. Buat kita.” Ucapnya.</p>

<p>“Tapi, ini gak gampang,” katanya. “Ada banyak hal yang harus kita perbaiki. Kamu… dan aku.”</p>

<p>“Aku siap.”</p>

<p>Joshua tersenyum tipis, lukanya perlahan mulai hilang. Ia kaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Dokyeom.</p>

<p>“Janji?” Kata Joshua, “kita sama-sama belajar, ya?”</p>

<p>“Janji.”</p>

<p>Mereka saling mengenggam tangan, erat, seolah dunia di sekitar mereka menghilang dan hanya ada mereka berdua, dengan tekat untuk memperbaiki segalanya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://qianwoole11xd.writeas.com/penyesalan</guid>
      <pubDate>Sat, 26 Apr 2025 18:37:20 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Sampai Ketemu di Kehidupan Selanjutnya Chu</title>
      <link>https://qianwoole11xd.writeas.com/sampai-ketemu-di-kehidupan-selanjutnya-chu?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Cw // sad&#xA;Tw // bl00d, car accident, dll&#xA;&#xA;———————————————————&#xA;&#xA;Hari itu, cuaca cukup dingin dan jalanan sudah mulai sepi. Di dalam mobil, Dokyeom dan Joshua berbicara tentang kehidupan mereka berdua setelah menikah. Dari yang dipandang keluarga cemara, keluarga toxic, hingga harmonis. Mereka baru saja menyelesaikan kencan yang penuh tawa bahagia. Tidak ada lagi yang mereka pikirkan selain kebahagiaan malam ini.&#xA;&#xA;Dokyeom tersenyum memandangi wajah Joshua yang indah, ia membayangkan bagaimana hidupnya kalau tak ada suaminya saat ini. “Maafin kesalahan mas waktu itu ya, chu?” Kata Dokyeom yang sambil mengemudi dan memegang tangan Joshua. &#xA;&#xA;“Aku udah maafin kamu dari lama, mas. Kenapa minta maaf lagi?” Tanyanya.&#xA;&#xA;“Mas takut.. mas takut kalau nantinya dikehidupan selanjutnya, mas gak ketemu kamu lagi.”&#xA;&#xA;“HUST! Gak boleh ngomong gitu.. kita bakal sama-sama terus. Lagian kamu ini kenapa si? Aneh banget.” &#xA;&#xA;“Kita harus banyak-banyak ketawa, mas. Soalnya kita udah jadi ompa-ompi buat Abi. Nanti Abi ngadu ke abang kalau kita sedih.” &#xA;&#xA;Suara tawa Joshua mengisi dalam mobil. Namun, ada keheningan dalam diri Dokyeom. Ia masih memikirkan masa lalu yang udah ia lakukan terhadap suaminya itu. Meski Joshua sudah berusaha agar suasana di dalam mobil tidak hening, tetapi, Dokyeom tetap dihantui rasa penyesalan. Walaupun suaminya sudah memaafkannya dari lama. &#xA;&#xA;“Mas?” Joshua menatap suaminya dengan tatapan bingung, “kamu ini kenapa si?” Lanjutnya.&#xA;&#xA;Yang ditanya justru hanya bisa melihat ke luar jendela mobil, ada firasat buruk yang tak bisa ia jelaskan. “Aku, aku takut, Chu.. Aku takut kalo ada yang misahin kita.” Ucapnya, ia menahan sesek di dalam dadanya.&#xA;&#xA;“Hah?” Joshua tak paham dengan maksud suaminya itu. “Mas, udah deh.. jangan alay gini. Kamu, aku udah ngelewatin angin di pernikahan kita, masa masih ada yang mau misahin kita?” Joshua lupa kalau ada MAUT yang bakal memisahkan mereka berdua. &#xA;&#xA;Dokyeom hanya tersenyum. Namun, ketakutan itu justru semakin terasa, kala jalanan malam itu semakin sepi dan hanya suara mesin mobil mereka yang terdengar. Mereka berdua saling hening dan terus memikirkan ketakutan itu sendiri. &#xA;&#xA;Tanpa ada yang menyadari, tiba-tiba suara klakson kencang terdengar dari arah berlawanan. Sebuah mobil melaju kencang menghantam mobil mereka dengan sangat keras. Firasat buruk inilah yang menghantui Dokyeom sedari tadi. Malam ini, dunia mereka berubah, tubuh mereka terlempar ke depan, kaca pecah, dan hanya terdengar suara benturan yang begitu keras. &#xA;&#xA;Semuanya gelap.&#xA;&#xA;Dokyeom sadarkan diri untuk pertama kali, ia menghampiri dengan perlahan tubuh sang suami yang terlempar cukup jauh darinya. Tubuhnya terasa seperti tertimpa ribuan kayu gede panjang, kepalanya pusing, tubuhnya sakit, namun, rasa sakit yang ia rasakan tak ada apa-apanya dibandingkan suaminya yang tergeletak di jalan dengan darah berlumuran, serpihan kaca ada di dekat tubuh Joshua. “C-Chu…” suara Dokyeom yang terbata-bata, ia mencoba menggerakkan tubuh sang suami, dan menaruh kepala Joshua di pahanya. “Chu! Jawab, mas.. ayok bangun, sayang…” &#xA;&#xA;Namun, tak ada jawaban.&#xA;&#xA;Dengan tenaga yang tersisah, ia melihat mobil mereka yang terguling, dan tubuhnya yang merasakan sakit, tetapi hatinya lebih sakit melihat sang suami tak sadarkan diri. Suara sirine menghampirinya, diangkatnya tubuh Joshua ke dalam mobil Ambulance , ia kemelihat tubuh suaminya terbaring lemah di sampingnya. Darah mengalir dari dahinya, Joshua yang biasa tersenyum, kini tak terlihat lagi.&#xA;&#xA;Dokyeom mengenggam tangan Joshua, namun anehnya tangan itu terasa dingin tak seperti biasanya. “Chu.. bangun, sayang… mas disini.. bangun, Chu.. Abi masih butuh ompinya, Abang sama adek masih butuh kamu, Chu.. begitu juga dengan aku. Bangun, sayang…” untuk yang kedua kalinya, tak ada pergerakan dan jawaban.&#xA;&#xA;Saat itu, Dokyeom ngerasa dunia sudah runtuh diatas kepalanya. Ia ingin berteriak sekencang mungkin, ingin melakukan apapun, namun tubuhnya terasa kaku, dan tak bisa bergerak. &#xA;&#xA;Wajah Joshua yang malam itu sangat ceria, manis, terus ada di dalam pikirannya. Mengingatkan Dokyeom pada saat kencan tadi, pada pesan yang suaminya itu sampaikan, dan kini semuanya hanya tinggal kenangan. Tidak ada lagi wajah ceria dari suaminya, tidak ada lagi senyuman manis yang akan menyambutnya bangun dipagi hari, dan tak ada lagi panggilan MAS dari suaranya. &#xA;&#xA;Dokyeom benar-benar merasa jiwanya sudah terpisah dari tubuhnya, mengambang begitu saja setelah kejadian malam itu. &#xA;&#xA;Terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru, dokter datang untuk menenangkan Dokyeom dan juga memeriksanya. Mereka berbicara sesuatu yang tak bisa dimengerti oleh Dokyeom, karena pikirannya benar-benar sudah sangat kacau. Semuanya seperti mimpi buruk yang tak akan pernah hilang. &#xA;&#xA;Setelah Dokyeom selesai diperiksa, ia menelpon Heeseung untuk mengabarinya bahwa saat ini ia dan jig Joshua berada di Rumah Sakit.&#xA;&#xA;”Hee”&#xA;&#xA;”iya, Ayah?”&#xA;&#xA;”Ayah.. Ayah di Rumah Sakit..” suaranya bergetar, ia sangat hancur malam ini. &#xA;&#xA;”Ayah kenapa??”&#xA;&#xA;”Ayah sama papih kecelakaan, bang” &#xA;&#xA;Deg&#xA;&#xA;Jantung Hee berhenti sejenak. Ia mencerna apa yang baru saja Ayahnya katakan.&#xA;&#xA;”D-dimana, yah…”&#xA;&#xA;”Di Rumah Sakit Permata Harapan”&#xA;&#xA;”Tapi, Hee jangan sedih, ya? Nanti papih sedih juga..” lagi, lagi Hee tak mengerti apa yang Ayahnya ucapkan. Saat ini, dirinya hanya ingin segera menuju ke Rumah Sakit tersebut.&#xA;&#xA;”Hee otw”&#xA;&#xA;Telpon diakhiri.&#xA;&#xA;Beberapa jam setelah kecelakaan tersebut, waktu seolah berhenti. Dokyeom duduk dan memandangi lorong Rumah Sakit yang sunyi malam ini, tangannya masih memegang ponsel Joshua yang masih menyala walau dengan keadaan retak. Terlihat jelas foto mereka berdua di Wallpaper ponsel suaminya. Tangisnya tak bisa ia tahan, saat Heeseung tiba di Rumah Sakit bersama Seungcheol, Jeonghan, dan juga yang lainnya.&#xA;&#xA;Tubuhnya di peluk erat dengan Seungcheol, seakan-akan ia tahu kalau saat ini suami dari mantannya itu sedang hancur. “Kuat! Gue tau lu kuat! Gue yakin Joshua bisa ngelawan rasa sakitnya di dalam situ.” Ucap Cheol.&#xA;&#xA;Dokter akhirnya keluar menghampiri mereka, dan menunduk pelan. “Maaf.. kita sudah berusaha semaksimal mungkin, namun pasien tidak bisa diselamatkan akibat benturan keras dari kecelakaan tersebut.” Kalimat itu seperti palu besar yang menghantam dada Heeseung, Eunchae, dan juga Dokyeom. &#xA;&#xA;Dokyeom langsung berlari masuk ke Ruangan tempat Joshua berada. Ia memegang wajah Joshua yang sudah pucat, dan juga dingin. “Chu.. jangan tinggalin, mas, Chu… katanya kita bakal bareng terus, Chu.. tapi kenapa kamu ingkar?” Tangis Dokyeom pecah, menggema di Ruangan yang dingin itu.&#xA;&#xA;Ruangan itu menjadi saksi bisu dari cinta yang hancur. Tempat yang seharusnya menjadi HARAPAN bagi Dokyeom, kini hanya menyisakan kesedihan. Dokyeom memeluk tubuh suami tercintanya, mencium keningnya, berharap keajaiban datang. Tapi, tak ada lagi detak jantung Joshua, tak ada lagi senyum manis Joshua saat sedang manja, tak ada suara lembut yang biasa memanggil dirinya dengan indah. &#xA;&#xA;Tangannya bergetar hebat saat mengenggam tangan Joshua yang masih memakai cincin pernikahannya. “Bangun, Chu.. bilang kalo ini mimpi. Ayok marahin aku, marahin aku karna godain Abi sama adek. Ayok marahin, Chu.. bangun…” di Sudut ruangan, Heeseung berdiri kaku, wajahnya sudah basah oleh air mata yang terus mengalir. Ia ingin sekali memeluk sang papih untuk terakhir kalinya, tapi tubuhnya tak bisa ia gerakkan. Ia masih mencerna kejadian malam ini. Heeseung hanya bisa menyaksikan perpisahan sang ayah dan papih yang terlalu cepat dan juga menyakitkan.&#xA;&#xA;Eunchae berjalan menuju ranjang Rumah Sakit, ia memeluk tubuh sang papih yang sudah tak lagi hangat. “Papih.. bangun, papih… adek masih butuh papih…” suara Eunchae menggema seperti sembilu, menyayat hati bagi mereka yang ada disana. &#xA;&#xA;Jeonghan yang hanya berdiri di depan pintu, menunduk dan menutup mulutnya yang bergetar. Ia memutar pandangan tak sanggup melihat sahabatnya kehilangan nyawanya. Sementara itu, Seungcheol berpura-pura tegar. Ia berulang kali memutarkan tubuhnya untuk menyeka air matanya yang jatuh. Semua orang tau, kalau Joshua bukan hanya suaminya, melainkan cahaya dalam kehidupan mereka. &#xA;&#xA;Jake, menantu dari Dokyeom dan juga Joshua, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan menangis tanpa suara. Joshua yang selalu membela dirinya, Joshua yang menyambutnya dengan hangat saat ia main kerumahnya waktu Heeseung dan juga dirinya masih berpacaran, Joshua juga yang memberi tahu kalau Heeseung lagi marah cara membujuknya bagaimana. &#xA;&#xA;Jake menghampiri Joshua yang sudah terbaring tak ada nyawa, “Pih.. Jake belum sempet bilang makasih ke papih.. makasih papih.. makasih udah nganggep Jake seperti anak papih sendiri..” Heeseung yang mendengarnya, ia langsung memeluk tubuh suaminya itu. &#xA;&#xA;Wonwoo, kakak dari Dokyeom, tiba dengan langkah yang berat bersama dengan Mingyu. Ia sempat membantah saat diberitahu kabar itu, “kak Shua? Boong. Dia kuat kok. Gamungkin.” Tapi, kenyataannya.. Wonwoo melihat tubuh Joshua yang sudah terbujur kaku, kakak sekaligus adik ipar yang selama ini ia lihat, terasa runtuh. &#xA;&#xA;“Kak, bangunin kak Shua, kak.. bilang ke dia kalau aku udah berubah.. bilang kalau aku gabisa hidup tanpa dia..” Wonwoo yang mendengarnya hanya bisa memeluk tubuh sang adik.&#xA;&#xA;“Gue juga pengennya gitu.. tapi gabisa. Tuhan lebih sayang kak Shua…” &#xA;&#xA;Pemakaman dilakukan besoknya. Di bawah langit mendung yang seolah ikut berkabung, Dokyeom berdiri paling depan bersama anak-anaknya, memegang foto besar Joshua dengan tangan yang hampir tak kuat untuk menopangnya. &#xA;&#xA;Dunia seolah berjalan lambat, suara tangis dan doa bercampur menjadi satu.&#xA;&#xA;—belom end, nanti dilanjut lagi setelah suasana beda gaada papih—&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Cw // sad
Tw // bl00d, car accident, dll</p>

<p>———————————————————</p>

<p>Hari itu, cuaca cukup dingin dan jalanan sudah mulai sepi. Di dalam mobil, Dokyeom dan Joshua berbicara tentang kehidupan mereka berdua setelah menikah. Dari yang dipandang keluarga cemara, keluarga toxic, hingga harmonis. Mereka baru saja menyelesaikan kencan yang penuh tawa bahagia. Tidak ada lagi yang mereka pikirkan selain kebahagiaan malam ini.</p>

<p>Dokyeom tersenyum memandangi wajah Joshua yang indah, ia membayangkan bagaimana hidupnya kalau tak ada suaminya saat ini. “Maafin kesalahan mas waktu itu ya, chu?” Kata Dokyeom yang sambil mengemudi dan memegang tangan Joshua.</p>

<p>“Aku udah maafin kamu dari lama, mas. Kenapa minta maaf lagi?” Tanyanya.</p>

<p>“Mas takut.. mas takut kalau nantinya dikehidupan selanjutnya, mas gak ketemu kamu lagi.”</p>

<p>“HUST! Gak boleh ngomong gitu.. kita bakal sama-sama terus. Lagian kamu ini kenapa si? Aneh banget.”</p>

<p>“Kita harus banyak-banyak ketawa, mas. Soalnya kita udah jadi ompa-ompi buat Abi. Nanti Abi ngadu ke abang kalau kita sedih.”</p>

<p>Suara tawa Joshua mengisi dalam mobil. Namun, ada keheningan dalam diri Dokyeom. Ia masih memikirkan masa lalu yang udah ia lakukan terhadap suaminya itu. Meski Joshua sudah berusaha agar suasana di dalam mobil tidak hening, tetapi, Dokyeom tetap dihantui rasa penyesalan. Walaupun suaminya sudah memaafkannya dari lama.</p>

<p>“Mas?” Joshua menatap suaminya dengan tatapan bingung, “kamu ini kenapa si?” Lanjutnya.</p>

<p>Yang ditanya justru hanya bisa melihat ke luar jendela mobil, ada firasat buruk yang tak bisa ia jelaskan. “Aku, aku takut, Chu.. Aku takut kalo ada yang misahin kita.” Ucapnya, ia menahan sesek di dalam dadanya.</p>

<p>“Hah?” Joshua tak paham dengan maksud suaminya itu. “Mas, udah deh.. jangan alay gini. Kamu, aku udah ngelewatin angin di pernikahan kita, masa masih ada yang mau misahin kita?” Joshua lupa kalau ada MAUT yang bakal memisahkan mereka berdua.</p>

<p>Dokyeom hanya tersenyum. Namun, ketakutan itu justru semakin terasa, kala jalanan malam itu semakin sepi dan hanya suara mesin mobil mereka yang terdengar. Mereka berdua saling hening dan terus memikirkan ketakutan itu sendiri.</p>

<p>Tanpa ada yang menyadari, tiba-tiba suara klakson kencang terdengar dari arah berlawanan. Sebuah mobil melaju kencang menghantam mobil mereka dengan sangat keras. Firasat buruk inilah yang menghantui Dokyeom sedari tadi. Malam ini, dunia mereka berubah, tubuh mereka terlempar ke depan, kaca pecah, dan hanya terdengar suara benturan yang begitu keras.</p>

<p>Semuanya gelap.</p>

<p>Dokyeom sadarkan diri untuk pertama kali, ia menghampiri dengan perlahan tubuh sang suami yang terlempar cukup jauh darinya. Tubuhnya terasa seperti tertimpa ribuan kayu gede panjang, kepalanya pusing, tubuhnya sakit, namun, rasa sakit yang ia rasakan tak ada apa-apanya dibandingkan suaminya yang tergeletak di jalan dengan darah berlumuran, serpihan kaca ada di dekat tubuh Joshua. “C-Chu…” suara Dokyeom yang terbata-bata, ia mencoba menggerakkan tubuh sang suami, dan menaruh kepala Joshua di pahanya. “Chu! Jawab, mas.. ayok bangun, sayang…”</p>

<p>Namun, tak ada jawaban.</p>

<p>Dengan tenaga yang tersisah, ia melihat mobil mereka yang terguling, dan tubuhnya yang merasakan sakit, tetapi hatinya lebih sakit melihat sang suami tak sadarkan diri. Suara sirine menghampirinya, diangkatnya tubuh Joshua ke dalam mobil <em>Ambulance</em> , ia kemelihat tubuh suaminya terbaring lemah di sampingnya. Darah mengalir dari dahinya, Joshua yang biasa tersenyum, kini tak terlihat lagi.</p>

<p>Dokyeom mengenggam tangan Joshua, namun anehnya tangan itu terasa dingin tak seperti biasanya. “Chu.. bangun, sayang… mas disini.. bangun, Chu.. Abi masih butuh ompinya, Abang sama adek masih butuh kamu, Chu.. begitu juga dengan aku. Bangun, sayang…” untuk yang kedua kalinya, tak ada pergerakan dan jawaban.</p>

<p>Saat itu, Dokyeom ngerasa dunia sudah runtuh diatas kepalanya. Ia ingin berteriak sekencang mungkin, ingin melakukan apapun, namun tubuhnya terasa kaku, dan tak bisa bergerak.</p>

<p>Wajah Joshua yang malam itu sangat ceria, manis, terus ada di dalam pikirannya. Mengingatkan Dokyeom pada saat kencan tadi, pada pesan yang suaminya itu sampaikan, dan kini semuanya hanya tinggal kenangan. Tidak ada lagi wajah ceria dari suaminya, tidak ada lagi senyuman manis yang akan menyambutnya bangun dipagi hari, dan tak ada lagi panggilan MAS dari suaranya.</p>

<p>Dokyeom benar-benar merasa jiwanya sudah terpisah dari tubuhnya, mengambang begitu saja setelah kejadian malam itu.</p>

<p>Terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru, dokter datang untuk menenangkan Dokyeom dan juga memeriksanya. Mereka berbicara sesuatu yang tak bisa dimengerti oleh Dokyeom, karena pikirannya benar-benar sudah sangat kacau. Semuanya seperti mimpi buruk yang tak akan pernah hilang.</p>

<p>Setelah Dokyeom selesai diperiksa, ia menelpon Heeseung untuk mengabarinya bahwa saat ini ia dan jig Joshua berada di Rumah Sakit.</p>

<p><em>”Hee”</em></p>

<p><em>”iya, Ayah?”</em></p>

<p><em>”Ayah.. Ayah di Rumah Sakit..”</em> suaranya bergetar, ia sangat hancur malam ini.</p>

<p><em>”Ayah kenapa??”</em></p>

<p><em>”Ayah sama papih kecelakaan, bang</em>”</p>

<p><em>Deg</em></p>

<p>Jantung Hee berhenti sejenak. Ia mencerna apa yang baru saja Ayahnya katakan.</p>

<p><em>”D-dimana, yah…</em>”</p>

<p><em>”Di Rumah Sakit Permata Harapan</em>”</p>

<p><em>”Tapi, Hee jangan sedih, ya? Nanti papih sedih juga..</em>” lagi, lagi Hee tak mengerti apa yang Ayahnya ucapkan. Saat ini, dirinya hanya ingin segera menuju ke Rumah Sakit tersebut.</p>

<p><em>”Hee otw”</em></p>

<p>Telpon diakhiri.</p>

<p>Beberapa jam setelah kecelakaan tersebut, waktu seolah berhenti. Dokyeom duduk dan memandangi lorong Rumah Sakit yang sunyi malam ini, tangannya masih memegang ponsel Joshua yang masih menyala walau dengan keadaan retak. Terlihat jelas foto mereka berdua di Wallpaper ponsel suaminya. Tangisnya tak bisa ia tahan, saat Heeseung tiba di Rumah Sakit bersama Seungcheol, Jeonghan, dan juga yang lainnya.</p>

<p>Tubuhnya di peluk erat dengan Seungcheol, seakan-akan ia tahu kalau saat ini suami dari mantannya itu sedang hancur. “Kuat! Gue tau lu kuat! Gue yakin Joshua bisa ngelawan rasa sakitnya di dalam situ.” Ucap Cheol.</p>

<p>Dokter akhirnya keluar menghampiri mereka, dan menunduk pelan. “Maaf.. kita sudah berusaha semaksimal mungkin, namun pasien tidak bisa diselamatkan akibat benturan keras dari kecelakaan tersebut.” Kalimat itu seperti palu besar yang menghantam dada Heeseung, Eunchae, dan juga Dokyeom.</p>

<p>Dokyeom langsung berlari masuk ke Ruangan tempat Joshua berada. Ia memegang wajah Joshua yang sudah pucat, dan juga dingin. “Chu.. jangan tinggalin, mas, Chu… katanya kita bakal bareng terus, Chu.. tapi kenapa kamu ingkar?” Tangis Dokyeom pecah, menggema di Ruangan yang dingin itu.</p>

<p>Ruangan itu menjadi saksi bisu dari cinta yang hancur. Tempat yang seharusnya menjadi HARAPAN bagi Dokyeom, kini hanya menyisakan kesedihan. Dokyeom memeluk tubuh suami tercintanya, mencium keningnya, berharap keajaiban datang. Tapi, tak ada lagi detak jantung Joshua, tak ada lagi senyum manis Joshua saat sedang manja, tak ada suara lembut yang biasa memanggil dirinya dengan indah.</p>

<p>Tangannya bergetar hebat saat mengenggam tangan Joshua yang masih memakai cincin pernikahannya. “Bangun, Chu.. bilang kalo ini mimpi. Ayok marahin aku, marahin aku karna godain Abi sama adek. Ayok marahin, Chu.. bangun…” di Sudut ruangan, Heeseung berdiri kaku, wajahnya sudah basah oleh air mata yang terus mengalir. Ia ingin sekali memeluk sang papih untuk terakhir kalinya, tapi tubuhnya tak bisa ia gerakkan. Ia masih mencerna kejadian malam ini. Heeseung hanya bisa menyaksikan perpisahan sang ayah dan papih yang terlalu cepat dan juga menyakitkan.</p>

<p>Eunchae berjalan menuju ranjang Rumah Sakit, ia memeluk tubuh sang papih yang sudah tak lagi hangat. “Papih.. bangun, papih… adek masih butuh papih…” suara Eunchae menggema seperti sembilu, menyayat hati bagi mereka yang ada disana.</p>

<p>Jeonghan yang hanya berdiri di depan pintu, menunduk dan menutup mulutnya yang bergetar. Ia memutar pandangan tak sanggup melihat sahabatnya kehilangan nyawanya. Sementara itu, Seungcheol berpura-pura tegar. Ia berulang kali memutarkan tubuhnya untuk menyeka air matanya yang jatuh. Semua orang tau, kalau Joshua bukan hanya suaminya, melainkan cahaya dalam kehidupan mereka.</p>

<p>Jake, menantu dari Dokyeom dan juga Joshua, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan menangis tanpa suara. Joshua yang selalu membela dirinya, Joshua yang menyambutnya dengan hangat saat ia main kerumahnya waktu Heeseung dan juga dirinya masih berpacaran, Joshua juga yang memberi tahu kalau Heeseung lagi marah cara membujuknya bagaimana.</p>

<p>Jake menghampiri Joshua yang sudah terbaring tak ada nyawa, “Pih.. Jake belum sempet bilang makasih ke papih.. makasih papih.. makasih udah nganggep Jake seperti anak papih sendiri..” Heeseung yang mendengarnya, ia langsung memeluk tubuh suaminya itu.</p>

<p>Wonwoo, kakak dari Dokyeom, tiba dengan langkah yang berat bersama dengan Mingyu. Ia sempat membantah saat diberitahu kabar itu, “kak Shua? Boong. Dia kuat kok. Gamungkin.” Tapi, kenyataannya.. Wonwoo melihat tubuh Joshua yang sudah terbujur kaku, kakak sekaligus adik ipar yang selama ini ia lihat, terasa runtuh.</p>

<p>“Kak, bangunin kak Shua, kak.. bilang ke dia kalau aku udah berubah.. bilang kalau aku gabisa hidup tanpa dia..” Wonwoo yang mendengarnya hanya bisa memeluk tubuh sang adik.</p>

<p>“Gue juga pengennya gitu.. tapi gabisa. Tuhan lebih sayang kak Shua…”</p>

<p>Pemakaman dilakukan besoknya. Di bawah langit mendung yang seolah ikut berkabung, Dokyeom berdiri paling depan bersama anak-anaknya, memegang foto besar Joshua dengan tangan yang hampir tak kuat untuk menopangnya.</p>

<p>Dunia seolah berjalan lambat, suara tangis dan doa bercampur menjadi satu.</p>

<p>—belom end, nanti dilanjut lagi setelah suasana beda gaada papih—</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://qianwoole11xd.writeas.com/sampai-ketemu-di-kehidupan-selanjutnya-chu</guid>
      <pubDate>Wed, 09 Apr 2025 17:43:15 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Sampi Ketemu di Kehidupan Selanjutnya Chu</title>
      <link>https://qianwoole11xd.writeas.com/sampi-ketemu-di-kehidupan-selanjutnya-chu-w12s?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Cw // sad&#xA;Tw // bl00d, car accident, dll&#xA;&#xA;———————————————————&#xA;&#xA;Hari itu, cuaca cukup dingin dan jalanan sudah mulai sepi. Di dalam mobil, Dokyeom dan Joshua berbicara tentang kehidupan mereka berdua setelah menikah. Dari yang dipandang keluarga cemara, keluarga toxic, hingga harmonis. Mereka baru saja menyelesaikan kencan yang penuh tawa bahagia. Tidak ada lagi yang mereka pikirkan selain kebahagiaan malam ini.&#xA;&#xA;Dokyeom tersenyum memandangi wajah Joshua yang indah, ia membayangkan bagaimana hidupnya kalau tak ada suaminya saat ini. “Maafin kesalahan mas waktu itu ya, chu?” Kata Dokyeom yang sambil mengemudi dan memegang tangan Joshua. &#xA;&#xA;“Aku udah maafin kamu dari lama, mas. Kenapa minta maaf lagi?” Tanyanya.&#xA;&#xA;“Mas takut.. mas takut kalau nantinya dikehidupan selanjutnya, mas gak ketemu kamu lagi.”&#xA;&#xA;“HUST! Gak boleh ngomong gitu.. kita bakal sama-sama terus. Lagian kamu ini kenapa si? Aneh banget.” &#xA;&#xA;“Kita harus banyak-banyak ketawa, mas. Soalnya kita udah jadi ompa-ompi buat Abi. Nanti Abi ngadu ke abang kalau kita sedih.” &#xA;&#xA;Suara tawa Joshua mengisi dalam mobil. Namun, ada keheningan dalam diri Dokyeom. Ia masih memikirkan masa lalu yang udah ia lakukan terhadap suaminya itu. Meski Joshua sudah berusaha agar suasana di dalam mobil tidak hening, tetapi, Dokyeom tetap dihantui rasa penyesalan. Walaupun suaminya sudah memaafkannya dari lama. &#xA;&#xA;“Mas?” Joshua menatap suaminya dengan tatapan bingung, “kamu ini kenapa si?” Lanjutnya.&#xA;&#xA;Yang ditanya justru hanya bisa melihat ke luar jendela mobil, ada firasat buruk yang tak bisa ia jelaskan. “Aku, aku takut, Chu.. Aku takut kalo ada yang misahin kita.” Ucapnya, ia menahan sesek di dalam dadanya.&#xA;&#xA;“Hah?” Joshua tak paham dengan maksud suaminya itu. “Mas, udah deh.. jangan alay gini. Kamu, aku udah ngelewatin angin di pernikahan kita, masa masih ada yang mau misahin kita?” Joshua lupa kalau ada MAUT yang bakal memisahkan mereka berdua. &#xA;&#xA;Dokyeom hanya tersenyum. Namun, ketakutan itu justru semakin terasa, kala jalanan malam itu semakin sepi dan hanya suara mesin mobil mereka yang terdengar. Mereka berdua saling hening dan terus memikirkan ketakutan itu sendiri. &#xA;&#xA;Tanpa ada yang menyadari, tiba-tiba suara klakson kencang terdengar dari arah berlawanan. Sebuah mobil melaju kencang menghantam mobil mereka dengan sangat keras. Firasat buruk inilah yang menghantui Dokyeom sedari tadi. Malam ini, dunia mereka berubah, tubuh mereka terlempar ke depan, kaca pecah, dan hanya terdengar suara benturan yang begitu keras. &#xA;&#xA;Semuanya gelap.&#xA;&#xA;Dokyeom sadarkan diri untuk pertama kali, ia menghampiri dengan perlahan tubuh sang suami yang terlempar cukup jauh darinya. Tubuhnya terasa seperti tertimpa ribuan kayu gede panjang, kepalanya pusing, tubuhnya sakit, namun, rasa sakit yang ia rasakan tak ada apa-apanya dibandingkan suaminya yang tergeletak di jalan dengan darah berlumuran, serpihan kaca ada di dekat tubuh Joshua. “C-Chu…” suara Dokyeom yang terbata-bata, ia mencoba menggerakkan tubuh sang suami, dan menaruh kepala Joshua di pahanya. “Chu! Jawab, mas.. ayok bangun, sayang…” &#xA;&#xA;Namun, tak ada jawaban.&#xA;&#xA;Dengan tenaga yang tersisah, ia melihat mobil mereka yang terguling, dan tubuhnya yang merasakan sakit, tetapi hatinya lebih sakit melihat sang suami tak sadarkan diri. Suara sirine menghampirinya, diangkatnya tubuh Joshua ke dalam mobil Ambulance , ia kemelihat tubuh suaminya terbaring lemah di sampingnya. Darah mengalir dari dahinya, Joshua yang biasa tersenyum, kini tak terlihat lagi.&#xA;&#xA;Dokyeom mengenggam tangan Joshua, namun anehnya tangan itu terasa dingin tak seperti biasanya. “Chu.. bangun, sayang… mas disini.. bangun, Chu.. Abi masih butuh ompinya, Abang sama adek masih butuh kamu, Chu.. begitu juga dengan aku. Bangun, sayang…” untuk yang kedua kalinya, tak ada pergerakan dan jawaban.&#xA;&#xA;Saat itu, Dokyeom ngerasa dunia sudah runtuh diatas kepalanya. Ia ingin berteriak sekencang mungkin, ingin melakukan apapun, namun tubuhnya terasa kaku, dan tak bisa bergerak. &#xA;&#xA;Wajah Joshua yang malam itu sangat ceria, manis, terus ada di dalam pikirannya. Mengingatkan Dokyeom pada saat kencan tadi, pada pesan yang suaminya itu sampaikan, dan kini semuanya hanya tinggal kenangan. Tidak ada lagi wajah ceria dari suaminya, tidak ada lagi senyuman manis yang akan menyambutnya bangun dipagi hari, dan tak ada lagi panggilan MAS dari suaranya. &#xA;&#xA;Dokyeom benar-benar merasa jiwanya sudah terpisah dari tubuhnya, mengambang begitu saja setelah kejadian malam itu. &#xA;&#xA;Terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru, dokter datang untuk menenangkan Dokyeom dan juga memeriksanya. Mereka berbicara sesuatu yang tak bisa dimengerti oleh Dokyeom, karena pikirannya benar-benar sudah sangat kacau. Semuanya seperti mimpi buruk yang tak akan pernah hilang. &#xA;&#xA;Setelah Dokyeom selesai diperiksa, ia menelpon Heeseung untuk mengabarinya bahwa saat ini ia dan jig Joshua berada di Rumah Sakit.&#xA;&#xA;”Hee”&#xA;&#xA;”iya, Ayah?”&#xA;&#xA;”Ayah.. Ayah di Rumah Sakit..” suaranya bergetar, ia sangat hancur malam ini. &#xA;&#xA;”Ayah kenapa??”&#xA;&#xA;”Ayah sama papih kecelakaan, bang” &#xA;&#xA;Deg&#xA;&#xA;Jantung Hee berhenti sejenak. Ia mencerna apa yang baru saja Ayahnya katakan.&#xA;&#xA;”D-dimana, yah…”&#xA;&#xA;”Di Rumah Sakit Permata Harapan”&#xA;&#xA;”Tapi, Hee jangan sedih, ya? Nanti papih sedih juga..” lagi, lagi Hee tak mengerti apa yang Ayahnya ucapkan. Saat ini, dirinya hanya ingin segera menuju ke Rumah Sakit tersebut.&#xA;&#xA;”Hee otw”&#xA;&#xA;Telpon diakhiri.&#xA;&#xA;Beberapa jam setelah kecelakaan tersebut, waktu seolah berhenti. Dokyeom duduk dan memandangi lorong Rumah Sakit yang sunyi malam ini, tangannya masih memegang ponsel Joshua yang masih menyala walau dengan keadaan retak. Terlihat jelas foto mereka berdua di Wallpaper ponsel suaminya. Tangisnya tak bisa ia tahan, saat Heeseung tiba di Rumah Sakit bersama Seungcheol, Jeonghan, dan juga yang lainnya.&#xA;&#xA;Tubuhnya di peluk erat dengan Seungcheol, seakan-akan ia tahu kalau saat ini suami dari mantannya itu sedang hancur. “Kuat! Gue tau lu kuat! Gue yakin Joshua bisa ngelawan rasa sakitnya di dalam situ.” Ucap Cheol.&#xA;&#xA;Dokter akhirnya keluar menghampiri mereka, dan menunduk pelan. “Maaf.. kita sudah berusaha semaksimal mungkin, namun pasien tidak bisa diselamatkan akibat benturan keras dari kecelakaan tersebut.” Kalimat itu seperti palu besar yang menghantam dada Heeseung, Eunchae, dan juga Dokyeom. &#xA;&#xA;Dokyeom langsung berlari masuk ke Ruangan tempat Joshua berada. Ia memegang wajah Joshua yang sudah pucat, dan juga dingin. “Chu.. jangan tinggalin, mas, Chu… katanya kita bakal bareng terus, Chu.. tapi kenapa kamu ingkar?” Tangis Dokyeom pecah, menggema di Ruangan yang dingin itu.&#xA;&#xA;Ruangan itu menjadi saksi bisu dari cinta yang hancur. Tempat yang seharusnya menjadi HARAPAN bagi Dokyeom, kini hanya menyisakan kesedihan. Dokyeom memeluk tubuh suami tercintanya, mencium keningnya, berharap keajaiban datang. Tapi, tak ada lagi detak jantung Joshua, tak ada lagi senyum manis Joshua saat sedang manja, tak ada suara lembut yang biasa memanggil dirinya dengan indah. &#xA;&#xA;Tangannya bergetar hebat saat mengenggam tangan Joshua yang masih memakai cincin pernikahannya. “Bangun, Chu.. bilang kalo ini mimpi. Ayok marahin aku, marahin aku karna godain Abi sama adek. Ayok marahin, Chu.. bangun…” di Sudut ruangan, Heeseung berdiri kaku, wajahnya sudah basah oleh air mata yang terus mengalir. Ia ingin sekali memeluk sang papih untuk terakhir kalinya, tapi tubuhnya tak bisa ia gerakkan. Ia masih mencerna kejadian malam ini. Heeseung hanya bisa menyaksikan perpisahan sang ayah dan papih yang terlalu cepat dan juga menyakitkan.&#xA;&#xA;Eunchae berjalan menuju ranjang Rumah Sakit, ia memeluk tubuh sang papih yang sudah tak lagi hangat. “Papih.. bangun, papih… adek masih butuh papih…” suara Eunchae menggema seperti sembilu, menyayat hati bagi mereka yang ada disana. &#xA;&#xA;Jeonghan yang hanya berdiri di depan pintu, menunduk dan menutup mulutnya yang bergetar. Ia memutar pandangan tak sanggup melihat sahabatnya kehilangan nyawanya. Sementara itu, Seungcheol berpura-pura tegar. Ia berulang kali memutarkan tubuhnya untuk menyeka air matanya yang jatuh. Semua orang tau, kalau Joshua bukan hanya suaminya, melainkan cahaya dalam kehidupan mereka. &#xA;&#xA;Jake, menantu dari Dokyeom dan juga Joshua, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan menangis tanpa suara. Joshua yang selalu membela dirinya, Joshua yang menyambutnya dengan hangat saat ia main kerumahnya waktu Heeseung dan juga dirinya masih berpacaran, Joshua juga yang memberi tahu kalau Heeseung lagi marah cara membujuknya bagaimana. &#xA;&#xA;Jake menghampiri Joshua yang sudah terbaring tak ada nyawa, “Pih.. Jake belum sempet bilang makasih ke papih.. makasih papih.. makasih udah nganggep Jake seperti anak papih sendiri..” Heeseung yang mendengarnya, ia langsung memeluk tubuh suaminya itu. &#xA;&#xA;Wonwoo, kakak dari Dokyeom, tiba dengan langkah yang berat bersama dengan Mingyu. Ia sempat membantah saat diberitahu kabar itu, “kak Shua? Boong. Dia kuat kok. Gamungkin.” Tapi, kenyataannya.. Wonwoo melihat tubuh Joshua yang sudah terbujur kaku, kakak sekaligus adik ipar yang selama ini ia lihat, terasa runtuh. &#xA;&#xA;“Kak, bangunin kak Shua, kak.. bilang ke dia kalau aku udah berubah.. bilang kalau aku gabisa hidup tanpa dia..” Wonwoo yang mendengarnya hanya bisa memeluk tubuh sang adik.&#xA;&#xA;“Gue juga pengennya gitu.. tapi gabisa. Tuhan lebih sayang kak Shua…” &#xA;&#xA;Pemakaman dilakukan besoknya. Di bawah langit mendung yang seolah ikut berkabung, Dokyeom berdiri paling depan bersama anak-anaknya, memegang foto besar Joshua dengan tangan yang hampir tak kuat untuk menopangnya. &#xA;&#xA;Dunia seolah berjalan lambat, suara tangis dan doa bercampur menjadi satu.&#xA;&#xA;—belom end, nanti dilanjut lagi setelah suasana beda gaada papih—&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Cw // sad
Tw // bl00d, car accident, dll</p>

<p>———————————————————</p>

<p>Hari itu, cuaca cukup dingin dan jalanan sudah mulai sepi. Di dalam mobil, Dokyeom dan Joshua berbicara tentang kehidupan mereka berdua setelah menikah. Dari yang dipandang keluarga cemara, keluarga toxic, hingga harmonis. Mereka baru saja menyelesaikan kencan yang penuh tawa bahagia. Tidak ada lagi yang mereka pikirkan selain kebahagiaan malam ini.</p>

<p>Dokyeom tersenyum memandangi wajah Joshua yang indah, ia membayangkan bagaimana hidupnya kalau tak ada suaminya saat ini. “Maafin kesalahan mas waktu itu ya, chu?” Kata Dokyeom yang sambil mengemudi dan memegang tangan Joshua.</p>

<p>“Aku udah maafin kamu dari lama, mas. Kenapa minta maaf lagi?” Tanyanya.</p>

<p>“Mas takut.. mas takut kalau nantinya dikehidupan selanjutnya, mas gak ketemu kamu lagi.”</p>

<p>“HUST! Gak boleh ngomong gitu.. kita bakal sama-sama terus. Lagian kamu ini kenapa si? Aneh banget.”</p>

<p>“Kita harus banyak-banyak ketawa, mas. Soalnya kita udah jadi ompa-ompi buat Abi. Nanti Abi ngadu ke abang kalau kita sedih.”</p>

<p>Suara tawa Joshua mengisi dalam mobil. Namun, ada keheningan dalam diri Dokyeom. Ia masih memikirkan masa lalu yang udah ia lakukan terhadap suaminya itu. Meski Joshua sudah berusaha agar suasana di dalam mobil tidak hening, tetapi, Dokyeom tetap dihantui rasa penyesalan. Walaupun suaminya sudah memaafkannya dari lama.</p>

<p>“Mas?” Joshua menatap suaminya dengan tatapan bingung, “kamu ini kenapa si?” Lanjutnya.</p>

<p>Yang ditanya justru hanya bisa melihat ke luar jendela mobil, ada firasat buruk yang tak bisa ia jelaskan. “Aku, aku takut, Chu.. Aku takut kalo ada yang misahin kita.” Ucapnya, ia menahan sesek di dalam dadanya.</p>

<p>“Hah?” Joshua tak paham dengan maksud suaminya itu. “Mas, udah deh.. jangan alay gini. Kamu, aku udah ngelewatin angin di pernikahan kita, masa masih ada yang mau misahin kita?” Joshua lupa kalau ada MAUT yang bakal memisahkan mereka berdua.</p>

<p>Dokyeom hanya tersenyum. Namun, ketakutan itu justru semakin terasa, kala jalanan malam itu semakin sepi dan hanya suara mesin mobil mereka yang terdengar. Mereka berdua saling hening dan terus memikirkan ketakutan itu sendiri.</p>

<p>Tanpa ada yang menyadari, tiba-tiba suara klakson kencang terdengar dari arah berlawanan. Sebuah mobil melaju kencang menghantam mobil mereka dengan sangat keras. Firasat buruk inilah yang menghantui Dokyeom sedari tadi. Malam ini, dunia mereka berubah, tubuh mereka terlempar ke depan, kaca pecah, dan hanya terdengar suara benturan yang begitu keras.</p>

<p>Semuanya gelap.</p>

<p>Dokyeom sadarkan diri untuk pertama kali, ia menghampiri dengan perlahan tubuh sang suami yang terlempar cukup jauh darinya. Tubuhnya terasa seperti tertimpa ribuan kayu gede panjang, kepalanya pusing, tubuhnya sakit, namun, rasa sakit yang ia rasakan tak ada apa-apanya dibandingkan suaminya yang tergeletak di jalan dengan darah berlumuran, serpihan kaca ada di dekat tubuh Joshua. “C-Chu…” suara Dokyeom yang terbata-bata, ia mencoba menggerakkan tubuh sang suami, dan menaruh kepala Joshua di pahanya. “Chu! Jawab, mas.. ayok bangun, sayang…”</p>

<p>Namun, tak ada jawaban.</p>

<p>Dengan tenaga yang tersisah, ia melihat mobil mereka yang terguling, dan tubuhnya yang merasakan sakit, tetapi hatinya lebih sakit melihat sang suami tak sadarkan diri. Suara sirine menghampirinya, diangkatnya tubuh Joshua ke dalam mobil <em>Ambulance</em> , ia kemelihat tubuh suaminya terbaring lemah di sampingnya. Darah mengalir dari dahinya, Joshua yang biasa tersenyum, kini tak terlihat lagi.</p>

<p>Dokyeom mengenggam tangan Joshua, namun anehnya tangan itu terasa dingin tak seperti biasanya. “Chu.. bangun, sayang… mas disini.. bangun, Chu.. Abi masih butuh ompinya, Abang sama adek masih butuh kamu, Chu.. begitu juga dengan aku. Bangun, sayang…” untuk yang kedua kalinya, tak ada pergerakan dan jawaban.</p>

<p>Saat itu, Dokyeom ngerasa dunia sudah runtuh diatas kepalanya. Ia ingin berteriak sekencang mungkin, ingin melakukan apapun, namun tubuhnya terasa kaku, dan tak bisa bergerak.</p>

<p>Wajah Joshua yang malam itu sangat ceria, manis, terus ada di dalam pikirannya. Mengingatkan Dokyeom pada saat kencan tadi, pada pesan yang suaminya itu sampaikan, dan kini semuanya hanya tinggal kenangan. Tidak ada lagi wajah ceria dari suaminya, tidak ada lagi senyuman manis yang akan menyambutnya bangun dipagi hari, dan tak ada lagi panggilan MAS dari suaranya.</p>

<p>Dokyeom benar-benar merasa jiwanya sudah terpisah dari tubuhnya, mengambang begitu saja setelah kejadian malam itu.</p>

<p>Terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru, dokter datang untuk menenangkan Dokyeom dan juga memeriksanya. Mereka berbicara sesuatu yang tak bisa dimengerti oleh Dokyeom, karena pikirannya benar-benar sudah sangat kacau. Semuanya seperti mimpi buruk yang tak akan pernah hilang.</p>

<p>Setelah Dokyeom selesai diperiksa, ia menelpon Heeseung untuk mengabarinya bahwa saat ini ia dan jig Joshua berada di Rumah Sakit.</p>

<p><em>”Hee”</em></p>

<p><em>”iya, Ayah?”</em></p>

<p><em>”Ayah.. Ayah di Rumah Sakit..”</em> suaranya bergetar, ia sangat hancur malam ini.</p>

<p><em>”Ayah kenapa??”</em></p>

<p><em>”Ayah sama papih kecelakaan, bang</em>”</p>

<p><em>Deg</em></p>

<p>Jantung Hee berhenti sejenak. Ia mencerna apa yang baru saja Ayahnya katakan.</p>

<p><em>”D-dimana, yah…</em>”</p>

<p><em>”Di Rumah Sakit Permata Harapan</em>”</p>

<p><em>”Tapi, Hee jangan sedih, ya? Nanti papih sedih juga..</em>” lagi, lagi Hee tak mengerti apa yang Ayahnya ucapkan. Saat ini, dirinya hanya ingin segera menuju ke Rumah Sakit tersebut.</p>

<p><em>”Hee otw”</em></p>

<p>Telpon diakhiri.</p>

<p>Beberapa jam setelah kecelakaan tersebut, waktu seolah berhenti. Dokyeom duduk dan memandangi lorong Rumah Sakit yang sunyi malam ini, tangannya masih memegang ponsel Joshua yang masih menyala walau dengan keadaan retak. Terlihat jelas foto mereka berdua di Wallpaper ponsel suaminya. Tangisnya tak bisa ia tahan, saat Heeseung tiba di Rumah Sakit bersama Seungcheol, Jeonghan, dan juga yang lainnya.</p>

<p>Tubuhnya di peluk erat dengan Seungcheol, seakan-akan ia tahu kalau saat ini suami dari mantannya itu sedang hancur. “Kuat! Gue tau lu kuat! Gue yakin Joshua bisa ngelawan rasa sakitnya di dalam situ.” Ucap Cheol.</p>

<p>Dokter akhirnya keluar menghampiri mereka, dan menunduk pelan. “Maaf.. kita sudah berusaha semaksimal mungkin, namun pasien tidak bisa diselamatkan akibat benturan keras dari kecelakaan tersebut.” Kalimat itu seperti palu besar yang menghantam dada Heeseung, Eunchae, dan juga Dokyeom.</p>

<p>Dokyeom langsung berlari masuk ke Ruangan tempat Joshua berada. Ia memegang wajah Joshua yang sudah pucat, dan juga dingin. “Chu.. jangan tinggalin, mas, Chu… katanya kita bakal bareng terus, Chu.. tapi kenapa kamu ingkar?” Tangis Dokyeom pecah, menggema di Ruangan yang dingin itu.</p>

<p>Ruangan itu menjadi saksi bisu dari cinta yang hancur. Tempat yang seharusnya menjadi HARAPAN bagi Dokyeom, kini hanya menyisakan kesedihan. Dokyeom memeluk tubuh suami tercintanya, mencium keningnya, berharap keajaiban datang. Tapi, tak ada lagi detak jantung Joshua, tak ada lagi senyum manis Joshua saat sedang manja, tak ada suara lembut yang biasa memanggil dirinya dengan indah.</p>

<p>Tangannya bergetar hebat saat mengenggam tangan Joshua yang masih memakai cincin pernikahannya. “Bangun, Chu.. bilang kalo ini mimpi. Ayok marahin aku, marahin aku karna godain Abi sama adek. Ayok marahin, Chu.. bangun…” di Sudut ruangan, Heeseung berdiri kaku, wajahnya sudah basah oleh air mata yang terus mengalir. Ia ingin sekali memeluk sang papih untuk terakhir kalinya, tapi tubuhnya tak bisa ia gerakkan. Ia masih mencerna kejadian malam ini. Heeseung hanya bisa menyaksikan perpisahan sang ayah dan papih yang terlalu cepat dan juga menyakitkan.</p>

<p>Eunchae berjalan menuju ranjang Rumah Sakit, ia memeluk tubuh sang papih yang sudah tak lagi hangat. “Papih.. bangun, papih… adek masih butuh papih…” suara Eunchae menggema seperti sembilu, menyayat hati bagi mereka yang ada disana.</p>

<p>Jeonghan yang hanya berdiri di depan pintu, menunduk dan menutup mulutnya yang bergetar. Ia memutar pandangan tak sanggup melihat sahabatnya kehilangan nyawanya. Sementara itu, Seungcheol berpura-pura tegar. Ia berulang kali memutarkan tubuhnya untuk menyeka air matanya yang jatuh. Semua orang tau, kalau Joshua bukan hanya suaminya, melainkan cahaya dalam kehidupan mereka.</p>

<p>Jake, menantu dari Dokyeom dan juga Joshua, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan menangis tanpa suara. Joshua yang selalu membela dirinya, Joshua yang menyambutnya dengan hangat saat ia main kerumahnya waktu Heeseung dan juga dirinya masih berpacaran, Joshua juga yang memberi tahu kalau Heeseung lagi marah cara membujuknya bagaimana.</p>

<p>Jake menghampiri Joshua yang sudah terbaring tak ada nyawa, “Pih.. Jake belum sempet bilang makasih ke papih.. makasih papih.. makasih udah nganggep Jake seperti anak papih sendiri..” Heeseung yang mendengarnya, ia langsung memeluk tubuh suaminya itu.</p>

<p>Wonwoo, kakak dari Dokyeom, tiba dengan langkah yang berat bersama dengan Mingyu. Ia sempat membantah saat diberitahu kabar itu, “kak Shua? Boong. Dia kuat kok. Gamungkin.” Tapi, kenyataannya.. Wonwoo melihat tubuh Joshua yang sudah terbujur kaku, kakak sekaligus adik ipar yang selama ini ia lihat, terasa runtuh.</p>

<p>“Kak, bangunin kak Shua, kak.. bilang ke dia kalau aku udah berubah.. bilang kalau aku gabisa hidup tanpa dia..” Wonwoo yang mendengarnya hanya bisa memeluk tubuh sang adik.</p>

<p>“Gue juga pengennya gitu.. tapi gabisa. Tuhan lebih sayang kak Shua…”</p>

<p>Pemakaman dilakukan besoknya. Di bawah langit mendung yang seolah ikut berkabung, Dokyeom berdiri paling depan bersama anak-anaknya, memegang foto besar Joshua dengan tangan yang hampir tak kuat untuk menopangnya.</p>

<p>Dunia seolah berjalan lambat, suara tangis dan doa bercampur menjadi satu.</p>

<p>—belom end, nanti dilanjut lagi setelah suasana beda gaada papih—</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://qianwoole11xd.writeas.com/sampi-ketemu-di-kehidupan-selanjutnya-chu-w12s</guid>
      <pubDate>Wed, 09 Apr 2025 17:41:20 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Sampi Ketemu di Kehidupan Selanjutnya Chu</title>
      <link>https://qianwoole11xd.writeas.com/sampi-ketemu-di-kehidupan-selanjutnya-chu?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Cw // sad&#xA;Tw // bl00d, car accident, dll&#xA;&#xA;———————————————————]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Cw // sad
Tw // bl00d, car accident, dll</p>

<p>———————————————————</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://qianwoole11xd.writeas.com/sampi-ketemu-di-kehidupan-selanjutnya-chu</guid>
      <pubDate>Wed, 09 Apr 2025 14:12:38 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>h</title>
      <link>https://qianwoole11xd.writeas.com/h-5pl3?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[h]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://qianwoole11xd.writeas.com/tag:h" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">h</span></a></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://qianwoole11xd.writeas.com/h-5pl3</guid>
      <pubDate>Wed, 09 Apr 2025 14:11:16 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>h</title>
      <link>https://qianwoole11xd.writeas.com/h?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[h]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h1 id="h" id="h">h</h1>
]]></content:encoded>
      <guid>https://qianwoole11xd.writeas.com/h</guid>
      <pubDate>Wed, 09 Apr 2025 14:10:25 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Heeseung segera berlari ke Toilet tempat dimana sang suami berada.</title>
      <link>https://qianwoole11xd.writeas.com/heeseung-segera-berlari-ke-toilet-tempat-dimana-sang-suami-berada?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Heeseung segera berlari ke Toilet tempat dimana sang suami berada. Ia merasa gelisah dengan keadaan Jake saat ini. Padahal, awalnya ini merupakan permainan yang Heeseung buat, tetapi ia juga yang khawatir dengan suaminya itu. Sebab, ia menaruh sebuah obat di dalam sebuah gelas yang Jake akan minum. Ia tak habis pikir kalau obat yang ia taruh, langsung membuat Jake terangsang begitu cepat. &#xA;&#xA;Sesampainya ia di Toilet, ia memanggil nama Jake, “Jake..” Tak ada jawaban. Heeseung mencoba membuka pintu kamar mandi satu persatu. Begitu ia coba pintu terakhir, pintu tersebut terkunci. Ia memanggil suami nya sekali lagi, “Jake” setelah panggilan kedua, Jake membuka pintu kamar mandi, dan langsung menarik Hee begitu saja ke dalam.&#xA;&#xA;“Kamu kenapa?” Tanya Hee.&#xA;&#xA;“Gatau, aku ngerasa panas banget, gerahh, gatel juga lubang aku..” &#xA;&#xA;“Maaf.. aku naruh obat diminuman kamu tadi.”&#xA;&#xA;“Kamu gila? Kenapa gak di Rumah aja? Kenapa harus disini?” Tanya Jake yang sambil membuka seluruh pakaiannya, dan berhasil memperlihatkan tubuhnya yang cantik, seksi menurut suaminya.&#xA;&#xA;Heeseung saat ini merasakan hawa kamar mandi yang menjadi panas, akibat ulah dirinya. Kejantanan Heeseung yang sudah mulai tegak juga sudah tak sabar ingin memasuki lubang milik si cantik nya itu. &#xA;&#xA;“Kenapa? Kenapa gak langsung masukin, Hee? CEPET MASUKIN, AHHHH~” Heeseung langsung membuka celana nya, dan mengoleskan pelumas di penis nya itu agar nanti nya tidak menyakiti Jake. &#xA;&#xA;Heeseung mulai memasuki penisnya ke lubang milik Jake yang sudah berkedut itu. “Ahhhh bang, mentokkin bang arghh.. nnghhhhh bang..” &#xA;&#xA;“Enak ya, Jake? Mau tambah lagi temponya?” Jake mengangguk. Heeseung menambah tempo kecepatan sesuai permintaan si cantik nya.&#xA;&#xA;“Nnnggghhhh ahh ahhh enak Hee, mau di masukin sampe keluar~”&#xA;&#xA;“Akhh ahh ahh ahh ngghh”&#xA;&#xA;Heeseung sangat puas dengan permainannya malam ini. Sampai-sampai ia lupa dengan ketikan Ayahnya tadi, ”Ayah hukum kalian berdua” Sudah mabuk dengan Alkohol ditambah mabuk dengan Jake malam ini. Entah hukuman apa yang Ayahnya berikan pada dirinya, dan juga Jake, ia tak perduli. Yang terpenting malam ini, Heeseung tengah membuat Abi kedua. &#xA;&#xA;“Mau pakai jari juga?” Tanya Hee.&#xA;&#xA;“Bentar Hee.. mau pipis ssshhhh” Jake beneran sudah lemas kali ini akibat permintaannya yang meminta Hee buat menambah tempo genjotannya itu. &#xA;&#xA;“Keluarin Yeyun, keluarin yang banyak di depan aku” Jake langsung mengeluarkan cairannya, dan membuat Hee terpesona dengan muka Jake yang lemas itu.&#xA;&#xA;“Udah Jake? Mau pakai jari sekarang?” Jake mengangguk. Kini, Heeseung mendudukkan tubuh Jake diatas Closet , dan langsung memasukkan dua jarinya tanpa pelumas, karena lubang Jake saat ini sudah sangat basah.&#xA;&#xA;“Aahhhh, ngghhhh enak Hee. Cepetin plisshhh…”&#xA;&#xA;“Kamu sange banget, ya?” &#xA;&#xA;“Ngghhh”&#xA;&#xA;“Gak takut dihukum Ayah? Tadi Ayah udah chat aku” Jake benar-benar tak menghiraukan ucapan dari suaminya itu, saat ini ia benar-benar kacau karena obat yang diberikan oleh Hee.&#xA;&#xA;“Hee, mau keluar ahhhhh ssshhh”&#xA;&#xA;Heeseung melepaskan jarinya, dan membiarkan Jake kembali mengeluarkan cairan.&#xA;&#xA;“Mau kulum penis kamu…” Tanpa menunggu persetujuan Hee, Jake langsung mengulum penis Hee yang gede ke dalam mulutnya.&#xA;&#xA;“Gwedeeee bangethhh sayanghhhh” &#xA;&#xA;“Udah jangan banyak omong, nanti kamu keselek. Inget Abi di Rumah” &#xA;&#xA;“Ngghhhh” Heeseung menikmati kuluman manis dari suami cantiknya. &#xA;&#xA;Heeseung melepaskan penisnya dari dalam mulut Jake, dan menyemburkan spermanya ke arah wajah cantik yang sekarang ada di depannya. &#xA;&#xA;“Cantik, i love you, Jake.”]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Heeseung segera berlari ke Toilet tempat dimana sang suami berada. Ia merasa gelisah dengan keadaan Jake saat ini. Padahal, awalnya ini merupakan permainan yang Heeseung buat, tetapi ia juga yang khawatir dengan suaminya itu. Sebab, ia menaruh sebuah obat di dalam sebuah gelas yang Jake akan minum. Ia tak habis pikir kalau obat yang ia taruh, langsung membuat Jake terangsang begitu cepat.</p>

<p>Sesampainya ia di Toilet, ia memanggil nama Jake, “Jake..” Tak ada jawaban. Heeseung mencoba membuka pintu kamar mandi satu persatu. Begitu ia coba pintu terakhir, pintu tersebut terkunci. Ia memanggil suami nya sekali lagi, “Jake” setelah panggilan kedua, Jake membuka pintu kamar mandi, dan langsung menarik Hee begitu saja ke dalam.</p>

<p>“Kamu kenapa?” Tanya Hee.</p>

<p>“Gatau, aku ngerasa panas banget, gerahh, gatel juga lubang aku..”</p>

<p>“Maaf.. aku naruh obat diminuman kamu tadi.”</p>

<p>“Kamu gila? Kenapa gak di Rumah aja? Kenapa harus disini?” Tanya Jake yang sambil membuka seluruh pakaiannya, dan berhasil memperlihatkan tubuhnya yang cantik, seksi menurut suaminya.</p>

<p>Heeseung saat ini merasakan hawa kamar mandi yang menjadi panas, akibat ulah dirinya. Kejantanan Heeseung yang sudah mulai tegak juga sudah tak sabar ingin memasuki lubang milik si cantik nya itu.</p>

<p>“Kenapa? Kenapa gak langsung masukin, Hee? CEPET MASUKIN, AHHHH~” Heeseung langsung membuka celana nya, dan mengoleskan pelumas di penis nya itu agar nanti nya tidak menyakiti Jake.</p>

<p>Heeseung mulai memasuki penisnya ke lubang milik Jake yang sudah berkedut itu. “Ahhhh bang, mentokkin bang arghh.. nnghhhhh bang..”</p>

<p>“Enak ya, Jake? Mau tambah lagi temponya?” Jake mengangguk. Heeseung menambah tempo kecepatan sesuai permintaan si cantik nya.</p>

<p>“Nnnggghhhh ahh ahhh enak Hee, mau di masukin sampe keluar~”</p>

<p>“Akhh ahh ahh ahh ngghh”</p>

<p>Heeseung sangat puas dengan permainannya malam ini. Sampai-sampai ia lupa dengan ketikan Ayahnya tadi, <em>”Ayah hukum kalian berdua”</em> Sudah mabuk dengan <em>Alkohol</em> ditambah mabuk dengan Jake malam ini. Entah hukuman apa yang Ayahnya berikan pada dirinya, dan juga Jake, ia tak perduli. Yang terpenting malam ini, Heeseung tengah membuat Abi kedua.</p>

<p>“Mau pakai jari juga?” Tanya Hee.</p>

<p>“Bentar Hee.. mau pipis ssshhhh” Jake beneran sudah lemas kali ini akibat permintaannya yang meminta Hee buat menambah tempo genjotannya itu.</p>

<p>“Keluarin Yeyun, keluarin yang banyak di depan aku” Jake langsung mengeluarkan cairannya, dan membuat Hee terpesona dengan muka Jake yang lemas itu.</p>

<p>“Udah Jake? Mau pakai jari sekarang?” Jake mengangguk. Kini, Heeseung mendudukkan tubuh Jake diatas <em>Closet</em> , dan langsung memasukkan dua jarinya tanpa pelumas, karena lubang Jake saat ini sudah sangat basah.</p>

<p>“Aahhhh, ngghhhh enak Hee. Cepetin plisshhh…”</p>

<p>“Kamu sange banget, ya?”</p>

<p>“Ngghhh”</p>

<p>“Gak takut dihukum Ayah? Tadi Ayah udah chat aku” Jake benar-benar tak menghiraukan ucapan dari suaminya itu, saat ini ia benar-benar kacau karena obat yang diberikan oleh Hee.</p>

<p>“Hee, mau keluar ahhhhh ssshhh”</p>

<p>Heeseung melepaskan jarinya, dan membiarkan Jake kembali mengeluarkan cairan.</p>

<p>“Mau kulum penis kamu…” Tanpa menunggu persetujuan Hee, Jake langsung mengulum penis Hee yang gede ke dalam mulutnya.</p>

<p>“Gwedeeee bangethhh sayanghhhh”</p>

<p>“Udah jangan banyak omong, nanti kamu keselek. Inget Abi di Rumah”</p>

<p>“Ngghhhh” Heeseung menikmati kuluman manis dari suami cantiknya.</p>

<p>Heeseung melepaskan penisnya dari dalam mulut Jake, dan menyemburkan spermanya ke arah wajah cantik yang sekarang ada di depannya.</p>

<p>“Cantik, i love you, Jake.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://qianwoole11xd.writeas.com/heeseung-segera-berlari-ke-toilet-tempat-dimana-sang-suami-berada</guid>
      <pubDate>Tue, 01 Apr 2025 17:46:26 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>