Sekali lagi
Cw // sad(?)
Jake menatap layar ponselnya yang menyala di tengah malam yang sunyi. Hujan gerimis membasahi jendela kamarnya, seolah ikut merasakan kegelisahan yang memenuhi dadanya. Udah hampir tengah malam, tapi Heeseung belum pulang juga. Bukan sekali dua kali kayak gini, tapi malam ini terasa berbeda, entah kenapa.
“Hee,” Jake mengetik pesan pertamanya. “Dimana?” lanjutnya. “Belom pulang?”
Beberapa menit belum ada balasan dari Heeseung. Sampai akhirnya satu foto masuk. Tanpa kata. Tanpa penjelasan. Foto itu membuat dada Jake seperti tertusuk jarum dari dalam dadanya.
Heeseung, di dalam mobil, menggenggam tangan seseorang dan mencium punggung tangan itu dengan lembut. Penuh kasih. Tapi yang jelas itu bukan tangan Jake. Jaketnya asing. Posisinya salah. Waktunya juga gak tepat. Jake menatap layar cukup lama, berusaha memahami dan menolak rasa sakit yang merambat perlahan, seperti racun yang baru bekerja setelah beberapa detik.
Lalu ia membalas, satu kalimat yang lebih berat dari ribuan kata lainnya. “Gimana Hee?” Itu bukan pertanyaan biasa. Itu bukan sekadar “lagi dimana”. Itu bukan “lagi sama siapa”. Melainkan itu sebuah pertanyaan yang seperti “Foto apa yang kamu kirim ke aku Hee?”
Tapi Jake gak meledak. Gak marah juga, Ia hanya duduk diam di kamar gelap, menggenggam ponsel erat-erat, mencoba menyembunyikan tangis yang akhirnya tak bisa dia tahan. Karena dia tahu, dari malam itu mereka gak lagi berdiri di tempat yang sama.
Setelah mengetik pesan terakhirnya, “Gimana, Hee?”, Jake menaruh ponsel di meja kecil di samping ranjang. Tapi tangannya gemetar, jantungnya tak kunjung tenang. Ia menatap ke arah kamar Abi sang anak, pintu kamarnya sedikit terbuka, lampu kecil di dalamnya menyala, memberi cahaya remang yang membuat suasana makin sepi, makin menyesakkan.
Dengan langkah perlahan, Jake berjalan ke arah kamar Abi. Anak itu tengah belajar, di dinding dekat meja belajar terdapat tempelan gambar-gambar hasil corat-coret Abi saat bermain dengan Jake pada saat usia lima tahun masih tergantung. Jake melihat ada satu gambar kecil yang digambar pakai krayon biru, bertuliskan: “Abi, Apah, Apih❤️” dengan love merah yang tertampang jelas di depannya.
Jake menahan napas. Kata-kata itu, gambar kecil itu… menyayat hati Jake saat ini. Ia berdiri di belakang Abi, membelai rambut anaknya dengan lembut. Anak itu menatap Jake, dan berkata “kenapa Apih?” Jake menunduk, mencium kening Abi, lalu berbisik pelan: “Apih gak tau harus bilang apa, Bi… Tapi kamu harus tahu, Apih sayang kamu. Sayang banget.” Ucapnya.
Tangannya mencengkram bajunya sendiri. Matanya panas. Tapi lagi-lagi, air mata Jake tak turun. Ia kembali berbisik pelan ke sang anak “Mau dibantu ngerjain tugasnya?” Ucapnya dan Abi mengangguk.
Layar ponsel Abi menyala, terdapat notif kalau Heeseung mengabari mereka. “Apah pulang yaa” Jake tersenyum kecil.Apah pulang yaa” Heeseung sama sekali benar-benar gak ada rasa bersalah setelah mengirim foto dirinya sedang mencium tangan orang lain.
Jake berdiri, kembali ke ruang tengah. Tapi sebelum ia meninggalkan kamar, ia menoleh lagi ke arah Abi. Kamar kecil itu.. yang dulu mereka cat bertiga saat Abi masih dalam kandungan, kini jadi saksi bisu tentang keluarga yang mulai retak perlahan.
Di meja kecil di sudut kamar, terdapat foto mereka bertiga, yang seharusnya foto itu ketika dilihat tampak bikin suasana hati Jake adem, sekarang hanya bikin suasana hati Jake merasa tertusuk paku.
Pukul 01:00, pintu Rumah dari keluarga Seoksoo berderit. Heeseung masuk, pelan, seperti biasa. Ia berjalan menuju dapur, dan ingin mengambil sebuah cemilan dari kulkas. Mungkin ia mengira Jake udah tidur. Tapi Jake berdiri di ambang pintu kamar Abi, bersandar diam. Cahaya redup dari dalam kamar menyorot wajahnya yang dingin, kaku, dan tak ada sedikit pun sisa senyum. “Hee,” panggilnya lirih.
Heeseung terkejut. “Jake? Belum tidur?” Jake tak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya sebentar, lalu berkata dengan nada datar, “Abi baru aja tidur. Jangan berisik.” Heeseung mengangguk pelan, menunduk. Tapi sebelum ia melangkah memasuki kamar, Jake bertanya pelan tanpa emosi, tanpa intonasi, “Kamu sengaja kirim foto itu, kan?” Hening.
Heeseung menatap Jake bingung. Wajahnya berubah, seperti tak tahu apa-apa. “Maksudnya gimana?” Tanyanya.
Jake melanjutkan, suaranya pelan tapi mengiris, “Apa kamu kira aku gak bisa lihat perbedaan tangan aku sama tangan dia?apa kamu kira aku sepolos itu, Hee?” Heeseung terdiam. Ia benar-benar tak tahu apa-apa, karena foto yang Jake maksud tak ada.
“Kamu ini ngomong apa si, sayang..” Heeseung hendak mengelus rambut Jake, tetapi Jake lebih dulu menepisnya. “JAWAB!” Nada Jake saat ini meninggi. Heeseung yang takut membangunkan ayah, papih, dan juga anaknya itu, ia segera menarik Jake ke kamar mereka berdua.
“Coba jelasin maksudnya apa Jake?” Tanyanya lembut.
Jake menarik napas panjang, lalu berkata, “Aku gak mau Abi, ayah, sama papih bangun dan liat kita ribut kayak gini. Nanti pagi, kita omongin. Bukan buat kita, tapi buat ABI.”
Heeseung masih mencoba mencerna perkataan dari suaminya itu. Tapi Jake udah lebih dulu menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Heeseung berdiri di sisi kamar, diam. Napasnya bergetar. Ia menatap punggung Jake yang membelakanginya, tampak rapuh tapi tegas. Ruangan terasa sesak oleh keheningan, oleh kata-kata yang tertahan, dan oleh luka yang belum sempat mengering tapi sudah makin menganga.
“Jake…” ucapnya lirih, berharap masih ada celah untuk menjelaskan. Tapi Jake hanya diam, matanya terpejam seakan menolak kenyataan. Heeseung menghela napas, menunduk, lalu perlahan berjalan ke sisi ranjang dan duduk, menjaga jarak. Waktu berjalan lambat. Detik terasa menit. Menit terasa jam. Heeseung pun hanya bisa menatap wajah Jake dari samping, menyadari bahwa jarak di antara mereka malam ini bukan sekadar ruang… tapi hati yang sudah jauh.
Pagi harinya, sinar matahari menembus tirai jendela dengan hangat yang menyakitkan. Jake sudah bangun lebih dulu, seperti biasa. Ia sudah menyiapkan sarapan untuk Abi, dan juga keluarga dari sang suami. Menaruh bekal ke dalam tas Abi, dan mengecek ulang PR yang semalam mereka kerjakan bersama. Tapi kali ini, semua dilakukan dengan hampa. Seperti tubuhnya bergerak tanpa ruh.
Heeseung duduk di ruang makan bersama ayah, dan juga papihnya. Ia tak menyentuh makanannya. Hanya memandangi punggung Jake, yang bahkan pagi ini tak menoleh sekali pun ke arahnya. Biasanya, selalu ada pelukan hangat, ciuman ringan di pipi, atau sekadar ucapan “pagi, pah.” Tapi hari ini… sunyi.
Abi datang sambil memakaikan dasi ke kerah bajunya, lalu memeluk Jake. “Apih, nanti jemput Abi ya?” Jake mengangguk dan membalas pelukan itu, mencium pipi Abi, sambil merapihkan baju sang anak yang masih terlihat kurang rapih. “Pasti. Hati-hati di sekolah ya, Abi. Salim sama ompa, ompi.” Abi menganggu. “Apah?” panggil Abi sambil menoleh ke Heeseung. “Iya, sayang?” “Abi mau main ps sama apah. Jadi, apah pulangnya cepet, yaa! Nanti Abi bilang sama ompa suruh Apah pulang cepet.”
Kata-kata itu bikin Jake terharu, dikarenakan Abi yang saat ini kurang perhatian dari Heeseung, entah ia kerja atau apa, Ia hanya bisa tersenyum lemah sambil menyembunyikan gejolak di dadanya.
Setelah Abi pergi, rumah kembali hening. Sampai akhirnya Jake berjalan menuju ke kamarnya, “ayah, papih, aku izin ngobrol berdua dulu sama Hee dikamar, yaa. Selamat makan ayah, papih.” Jake menarik tangan Heeseung dengan cepat, dan menutup pintu kamar.
“Kita mulai aja,” katanya tanpa menoleh. Ia duduk di sofa kamarnya, melipat tangannya di dada. Heeseung menatapnya, lalu duduk perlahan di sampingnya. “Aku gak mau muter-muter, Hee. Aku udah tahu. Aku lihat sendiri. Jadi aku cuma mau tahu satu hal… kenapa?” Sambil menunjukkan foto yang semalem dikirim oleh seseorang lewat ponsel suaminya.
Heeseung diam. Bibirnya bergetar, tapi kata-kata sulit keluar. “Jake, aku... aku gak tahu harus mulai dari mana. Aku gak pernah bermaksud nyakitin kamu. Tapi aku... aku ngerasa kesepian.”
Jake tertawa kecil, pahit. “Kesepian? Kamu yang jarang pulang. Kamu yang mulai jarang ngobrol. Kamu yang mulai tidur lebih dulu, bangun lebih telat. Tapi kamu yang kesepian?” Ucapnya yang sambil berdiri berjalan ke arah kasur.
“Aku ngerasa kamu sibuk sama Abi terus… ngurus toko cookies kamu. Aku ngerasa, kamu gak ngelihat aku lagi sebagai pasangan. Cuma sebagai orang tua Abi.” Kata Heeseung. Jake mengangguk pelan. “Jadi kamu memilih nyari tangan lain buat dicium? Buat merasa ‘terlihat’? Kalau gitu… kenapa gak dari awal bilang?“
Heeseung menunduk. Air matanya jatuh. “Aku takut, Jake. Aku takut kamu makin jauh. Aku takut kamu marah.” Jake memejamkan mata, menarik napas panjang “Terlambat, Hee. Aku udah jauh sekarang. Dan bukan karena aku marah... tapi karena aku kecewa. Kamu hancurin kepercayaan yang aku jaga selama ini. Kamu hancurin rumah yang kita bangun dari nol, dari sakit, dari susah, dari air mata, dari impian.”
Heeseung berdiri, berjalan menghampiri Jake, lalu berlutut. “Tolong... kasih aku kesempatan, Jake. Aku salah. Aku ngaku aku salah. Aku mau berubah. Aku mau perbaiki semuanya.”
Jake menatap mata Heeseung untuk pertama kalinya hari itu. Mata yang dulu selalu memberi ketenangan, kini hanya memantulkan bayangan pengkhianatan. “Aku gak bisa jawab sekarang,” kata Jake pelan. “Aku butuh waktu. Aku butuh ruang. Buat berpikir. Buat lihat apakah masih ada yang bisa diselamatkan.” Heeseung menggenggam tangan Jake erat-erat. Tapi Jake melepaskannya perlahan, dan menuju ke kamar Abi sambil menangis.
Ayah dan papih yang mendengar dan juga melihatnya, ia sebenarnya tak mau ikut campur, tetapi sikap anaknya sudah keterlaluan menurutnya. Sedangkan Heeseung masih terduduk di lantai ruang kamarnya, napasnya tersengal di antara isak. Ruangan itu kini sunyi, tapi sunyi yang tajam, seolah tiap detiknya menegaskan betapa besar kesalahan yang baru saja ia buat. Langkah kaki pelan terdengar dari arah depan pintu. Dokyeom, ayahnya, muncul dengan raut wajah keras, diikuti Joshua yang menatapnya dengan sorot kecewa yang tak bisa ia sembunyikan lagi. Mereka tak langsung bicara. Dokyeom hanya berdiri di depan Heeseung yang masih berlutut, membiarkan anaknya menunduk dalam diam. Heeseung bisa merasakan tatapan sang ayah yang menusuk ubun-ubunnya. Ia bahkan tak berani mendongak. Suara Joshua memecah hening lebih dulu, tapi suaranya bukan suara lembut yang biasa ia dengar sangat menenangkan. Ada kekecewaan berat di sana. “Heeseung…” panggil Joshua pelan, nadanya dingin. “Lihat Papih.” Heeseung mengangkat wajahnya pelan, matanya merah bengkak, bibirnya bergetar. “Papih… Ayah… abang…” “Diam dulu,” sang ayah memotong pembicaraan Hee dengan tajam.
Suaranya datar, tapi menekan di dada Heeseung. “Jangan banyak alesan. Papih sama Ayah mau kamu denger dulu.” Joshua melipat tangannya di dada. “Kamu kan udah papih wanti-wanti buat gak kayak ayah kamu, tapi malah kenapa kayak ayah kamu? Bahkan lebih jahat.” Ucap Joshua. Heeseung terisak, “abang… abang gak bermaksud nyakitin Jake. Abang cuma…” Dokyeom menahan marahnya. “Cuma apa? Cuma test kesetiaan Jake sama kamu? Kamu kira Jake itu bakal ninggalin kamu gitu aja? Kamu kira dia gak sayang sama kamu? Dia sayang sama kamu, padahal banyak cowok diluar sana yang bisa Jake dapetin. Tapi dia tetep milih kamu. Anak AYAH!” Nafas Dokyeom memburu.
Heeseung tetap diam. Namun, matanya kembali membasah, air mata menetes satu-satu membasahi punggung tangannya yang gemetar memegangi lantai. Ruangan itu seolah makin menyempit, suara detak jantungnya bergema di telinga, bercampur suara Dokyeom yang masih menahan bara di dada.
Joshua menarik napas panjang, menoleh ke Dokyeom sejenak seolah meminta ayahnya menahan diri. “Heeseung…” Suaranya melembut sedikit, tapi masih penuh luka. “Jake itu suami kamu sekarang, apih dari anak kamu. Apa kamu tega bikin dia ngerasa sekecewa itu? Dia udah kasih semua waktunya, semua hatinya, buat kamu. Ini balesan kamu?”
Heeseung memejamkan mata, menekuk badannya makin rendah seolah ingin merangkak masuk ke lantai agar bisa lenyap. Tubuhnya bergetar, bahunya naik-turun, sedangkan mulutnya hanya mampu menggumam pelan. “Papih… Ayah… Hee… maaf… Hee salah… Hee salah banget…” Tapi Dokyeom justru menoleh ke arah pintu kamar Abi di mana Jake berada.
Dokyeom menyuruh sang anak untuk menghampiri Jake yang berada di sebrangnya. “Minta maaf ke Jake.” Ketusnya.
Heeseung masuk ke kamar sang anak yang dimana suaminya itu berada. Ia melihat Jake tengah menatap ke arah jendela, wajah Jake dingin, matanya sembab tapi tatapannya kosong, seolah habis hujan tapi awan hitamnya masih menutup seluruh langit hatinya.
“Jake…” panggilnya pelan. “Maaf…” lanjutnya.
Jake menatap Heeseung dalam-dalam, tapi tatapan itu tak lagi hangat, tak lagi menenangkan. Tatapan Jake kosong, lebih dingin dari hujan yang kini jatuh di luar jendela. Bibirnya sedikit terbuka, seolah ingin bicara, tapi hanya udara dingin yang lolos.
“Aku… aku minta maaf, Jake… aku salah… aku nyesel… beneran nyesel banget…” Suara Heeseung makin lirih. Ia berjalan pelan ke arah Jake, lalu berlutut di kaki Jake. “Jake, tampar aku… pukul aku, Jake… tapi jangan pernah tinggalin aku… jangan pergi, Jake…”
Jake menahan napasnya. Tangannya mengepal, bergetar di sisi pinggangnya. Tatapannya jatuh ke bawah, melihat Heeseung yang kini bersujud di depannya. Laki-laki yang dulu selalu berdiri gagah, sekarang mencengkram kakinya seperti anak kecil yang takut kehilangan rumah.
“Sayang… Yeyun, aku mohon… Hee mohon banget… maafin Hee… Hee gak akan ngulangin lagi… demi Papih sama Ayah… demi perasaan Jake, demi Abi juga… Aku bener-bener minta maaf…” Suara Heeseung pecah di ujung kalimatnya. Pipinya basah oleh air mata yang menetes tak tertahan.
Joshua akhirnya membalik badan, membelakangi pemandangan itu. Dokyeom menghela napas panjang, wajahnya muram tapi keras, ini konsekuensi yang harus anaknya tanggung.
Jake membungkuk sedikit, menyentuh pundak Heeseung. Sentuhan itu membuat tubuh Heeseung menegang sejenak. Seberkas harap kembali tumbuh di matanya yang basah. Tapi Jake menyingkirkan tangannya pelan. “Heeseung…” Suaranya serak. “Kamu tahu gak, sakitnya ini tuh gak kayak ditusuk. Tapi ini kayak… kayak kamu nyabut jantung aku pas aku lagi percaya-percayanya sama kamu.”
Jake menghela napas lagi, panjang, seolah paru-parunya pun berat menahan sesak. Ia menunduk, menatap Heeseung yang masih gemetar di bawah sana. Satu sisi hatinya menjerit, ingin memeluk Heeseung, menenangkannya, bilang kalo ini semua akan baik-baik saja. Tapi sisi lainnya menolak, menolak dibegoin lagi, menolak disakiti dengan cara yang sama.
“Heeseung…,” Jake berbisik, suaranya pecah di tengah hening ruang keluarga yang kini seakan berubah jadi penjara bagi mereka berdua. “Aku ini udah kasih semuanya. Waktu, hati, hidup… Bahkan harga diri aku pun udah aku taro di depan kamu. Biar kamu ngerasa dicintai sepenuhnya.”
Heeseung mengangkat wajahnya, memohon lewat tatapan. “Aku tau… aku… aku nyesel banget, Jake…”
“Tau?” Jake menahan isak di tenggorokan. Ia tersenyum miring setelah mendengar ucapan Heeseung barusan. “Kalo kamu beneran tau, harusnya kamu jaga aku. Harusnya kamu ingat waktu aku rela begadang nemenin kamu kerja, waktu kamu nyuruh aku ngegugurin Abi, tapi masih aku pertahanin! Harusnya kamu ingat, Heeseung.”
Heeseung makin menunduk, mencium punggung tangan Jake yang kini gemetar. “Aku inget… aku inget, Yeyun… maafin aku… Aku janji gak akan ngulang…” Jake memejamkan matanya, air matanya akhirnya jatuh, menetes satu demi satu ke rambut Heeseung. “Aku gak tau aku ini bego atau emang hati aku sebegitu lemahnya sama kamu… Tapi satu hal, Heeseung, Kalo aku mau nyoba lagi, ini bukan karena aku udah lupa sama sakitnya. Ini justru karena aku mau lihat, mau buktiin kalo kamu masih layak apa engga buat aku pertahanin.”
Heeseung menegakkan badan, matanya sembab tapi ada sedikit cahaya di sana. “Aku mau, Yeyun! Aku mau buktiin! Aku mau lakuin apa aja… Aku akan tebus semua—” Jake memotong cepat. “Dengerin dulu.” Suaranya rendah, tegas, tapi gemetar. “Sekali. Ini cuma sekali. Kalo kamu ngulang, meski cuma setitik, meski cuma boong kecil, aku pergi. Beneran pergi. Dan gak akan pernah nengok lagi, Hee.”
Heeseung meraih tangannya, menggenggamnya erat seolah takut Jake menghilang saat itu juga. “Enggak, aku gak akan nyakitin kamu lagi… aku bakal jadi suami dan apah yang baik untuk kamu dan juga Abi. Aku janji.”
Jake menarik napas dalam, membiarkan genggaman itu ada. Sakitnya masih ada, akan lama ada. Tapi di balik luka itu, dia masih melihat Heeseung yang dulu, anak manja yang selalu lari ke pelukannya, yang dulu menatapnya seperti rumah. Perlahan Jake membungkuk, menyentuh kening Heeseung dengan keningnya. Sama-sama terisak, sama-sama goyah. “Tebus janji kamu, Hee. Buktiin, kalo kamu masih layak aku sebut rumah.”
Di sudut ruangan, Dokyeom menoleh ke Joshua yang diam-diam menatap pemandangan itu. Mereka berdua tak mengucap apa-apa, hanya saling mengangguk pelan. Karena pada akhirnya, sekeras apapun orang tua menahan, mereka tau, kalo rumah tangga itu tetap milik anak anak mereka untuk dipertahankan, atau dihancurkan sekali lagi.