qianwoole11xd

Kini semua sudah berada di Rumah Sakit tempat Joshua melahirkan. Kecuali dengan suaminya itu, Dokyeom. Ia benar-benar tak membalas pesan dari siapapun, bahkan dari kakak nya sendiri. Walaupun semuanya sudah tau kalau Dokyeom itu selingkuh, tetapi, ini menyangkut nyawa anak, dan suaminya.

“Nu, udah di telpon Dokyeom?” Tanya Seungcheol kepada Wonwoo.

“Udah bang. Tapi gadiangkat…” katanya.

“Adek lu anjing juga gue liat-liat, Nu..” ucap Seungcheol yang sudah tak bisa menahan amarahnya.

“Mas, tahan, ya? Joshua lagi berjuang di dalem.. kamu jangan gegabah.” Itu suara Han yang sambil mengelus bahu Seungcheol.

“Iya, Han.”

15 menit menunggu, akhirnya suara yang ditunggu tiba.

Oeee.. oee…

Dokter pun keluar, “suami pasien yang mana?” Tanyanya. Dan semua orang yang berada disitu saling tatap.

Jeonghan mengangkat tangannya, “saya kakaknya, Dok. Suaminya lagi diluar kota.”

“Ohh boleh.. silahkan masuk.” Jeonghan dan juga Dokter masuk ke ruang bersalin. Melihat Joshua yang tengah mencium sang buah hati.

“Han.. Dokyeom ada?” Jeonghan tak menjawab.

“Han?”

“Gaada, Shu. Dia lagi sama selingkuhannya..”

Sakit. Benar-benar sakit. Disaat dirinya sedang mempertaruhkan nyawanya, justru sang suami malah asik bermain dengan selingkuhannya itu.

“Gue mau kesana, Han. Pegang bayiknyaa..” Joshua melepas semua alat yang ada di tubuhnya, dan ia mencoba menguatkan diri untuk bangkit dari ranjang.

“Josh, jangan.” Han tetap menahan Joshua, tetapi tak bisa. Bahkan orang yang di dalem pun juga tak bisa.

Pintu kebuka, Joshua keluar dengan air mata yang menahan sakit di hati nya. Tak hanya sakit hati, ia juga sakit fisik karna baru saja melahirkan.

“Shu, mau kemanaaaa?” Tanya Seungcheol.

“Gue mau ke Dokyeom, Cheol.. anterin gue plishhh..” Joshua meringis kesakitan.

“Engga. Lu harus disini, Shu. Lu belum sembuh total..” kata Seungcheol yang masih berusaha menahan Joshua.

“Kalo lu gamau anterin, GUE BISA NAIK TAKSI!” Tegasnya.

“Okee. Okee, gue anterin. Tapi lu pas disana jangan gegabah.” Joshua mengangguk. “Siapa yang mau ikut gue?” Tanya Seungcheol.

“Gue.” Mingyu menjawab.

“Gue, bang.” Wonwoo juga.

“Oke. Yang lain bantuin Han urus bayiknya, ya.” Semua mengangguk. Kini Seungcheol, Mingyu, Wonwoo, dan juga Joshua, segera berangkat menuju Hotel yang sudah terdektesi di handphone milik Joshua. Sebab, ia menaruh alat pelacak di tempat yang tak diketahui oleh suaminya itu.

Jarak antara Rumah Sakit dan juga Hotelnya sekitar 30 menit. Joshua berusaha menahan sakitnya demi bertemu suaminya itu.

Mereka tiba di Hotel tersebut, dan menanyakan ruangan tempat Dokyeom menginap.

“Misi mba, mau nanya, atas nama Lee Seokmin diruang berapa, ya?” Tanya Wonwoo.

“Ruang 202, mas. Di lantai 2.”

“Baik, mba. Terimakasih.”

Mereka berjalan ke arah lift untuk menuju ruangan Dokyeom berada. Joshua benar-benar tak bisa menahan sakitnya. Mingyu mengambil kursi roda yang telah di berikan oleh security. “Kak, naik ini, ya?” Joshua menuruti perkataan Mingyu, dan dirinya duduk di kursi roda tersebut.

Tiba di lantai 2, mereka segera mencari ruanga 202 tersebut. Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka menemukannya. Seungcheol menekan bel yang ada di depan pintu kamar nya.

ting nong

ting nong

Pintu terbuka, betul. Dokyeom yang membukanya. Ia membuka dengan mata yang masih sayup, ia tak sadar bahwa yang datang itu ialah suaminya.

“Mas” ucap Joshua yang sambil gemetar.

Dokyeom mengucek matanya, “CHU?? Kamu ngapain disi—“ Dokyeom juga melihat ada sang kakak, Mingyu, dan juga Seungcheol. “Loh, kok? Kalian ngapain disini? Aku lagi kerja loh..” ucapnya

“Kerja sambil ngewe?” Wonwoo menunjukkan postingan yang ada pada akun Dokyeom.

“Kak? Itu dapet darimana?”

“Akun lu lah. Galiat ini nama nya?”

“Kak..”

Seungcheol nerabas masuk kedalam, dan benar saja ada seorang wanita yang tak mengenakan pakaian dan hanya dililit oleh selimut.

“kalian ngapain disini?” Tanya cewek tersebut.

“JUSTRU GUE YANG HARUS NYA NANYA SAMA LO! NGAPAIN SAMA SUAMI GUEE BRENGSEK?!” Ucap Joshua.

“Chu udah, Chu.. jangan kayak gini.. malu nanti orang Hotel pada tau.” Ucap Dokyeom yang mencoba menahan emosi sang suami.

“Mas, kamu tau enggak si kalo aku ini lahiran? Kamu cek handphone kamu enggak si? Hah?!”

“Chu.. mas minta maaf.. mas beneran minta maaf..” Dokyeom kini berlutut dihadapan Joshua.

“Gausah kayak gini mas. BASI!” Ucap Joshua.

“Bisa-bisanya kamu ngewe pas aku mau lahiran, mas.. anak ketiga kamu, mas, mau lahir.. mau liat Dunia. Tapi apa? Ayahnya malah jadi bajingan kayak gini. Jangan harap ya mas kamu bisa liat anak ketiga kamu. Dan semoga Abang enggak mukulin kamu.” Kata Joshua yang keluar dari kamar tersebut.

Sebelum yang lainnya keluar, Seungcheol menghantam pipi kiri Dokyeom.

BUGH

“ANJING! HARUSNYA JOSHUA GAUSAH RUJUK SAMA LO BANGSAT!”

“Bang.. gue minta maaf..” suara Dokyeom yang menahan rasa sakit dari pukulan Seungcheol.

“Kali ini gue bener-bener benci sama lo! Anak-anak lo biar gue aja yang urus. Lo urus lonte lo ini aja!!” Ucap Seungcheol yang juga ikut keluar dari kamar najis tersebut.

Joshua menangis dengan didampingi Wonwoo. Benar, Wonwoo tak buka suara selain tadi di pintu. Ia benar-benar malu dengan perilaku adiknya itu. Bahkan, ia juga udah tak sudi menyebut Dokyeom dengan sebutan Adik.

Demi Tuhan, rasanya Wonwoo ingin membunuh sang adik waktu itu juga. Tetapi, Wonwoo masih memikirkan perasaan Joshua yang statusnya masih menjadi suami adiknya itu. Dan ia juga memikirkan ponakannya tersebut. Bagaimana perasaan Heeseung dan juga Enchae, kalau tau Ayahnya menjadi bajingan lagi. Dan bagaimana hancurnya hati Heeseung yang lagi-lagi melihat perilaku buruk Ayahnya itu.

”Hee, semoga sikap kamu enggak seperti Ayah kamu yang brengsek itu, yaa..” ucapnya dalam hati.

Heeseung tiba terlebih dahulu di Cafe yang sudah diberitahu oleh Jake. Ia duduk di meja pojok dekat dengan jendela agar bisa menatap langit yang cukup cerah petang ini.

Tak lama, Jake tiba di Cafe terserbut dan mencari keberadaan Heeseung. Jake melihat Heeseung yang sudah tiba di meja pojok tadi, ia segera menghampiri nya. “Hai. Maaf lama.” Ucap Jake yang dipersilahkan duduk oleh Hee. “Udah mesen minum, atau makan?” Tanya Jake. Hee menggeleng. Menandakan ia belum memesan apapun.

“Aku pesenin minuman, ya?” Hee mengangguk. “Kamu mau minum apa?” Lanjutnya.

“Air putih aja, Jake.” Ucapnya.

Lalu Jake berjalan ke arah kasir untuk memesan minuman minuman untuknya dan juga untuk Heeseung.

“Mas, mau satu ice chocolate, dan satu air putih. Duduknya dipojok yang itu ya, mas.”

“Baik, kak. Ada lagi?”

“Itu aja.”

“Totalnya 25.000, kak.” Jake membayarnya, dan uang itupun diterima oleh kasir. “Baik, terimakasih kak. Nanti minumannya kami antar.” Jake meninggalkan kasir tersebut dan kembali duduk di mejanya.

“Udah nunggu lama, ya?” Tanya Jake pada Hee.

“Belum, kok.”

“Jadi, tujuan kamu ngajak ketemu itu buat apa, Hee? Setelah kamu ninggalin aku sendirian dalam keadaan aku hamil Abi.” Ucap Jake.

“Maaf, Jake.. aku terlalu pengecut waktu itu. Bahkan, aku gatenang dalam 10 tahun ini. Aku waktu itu takut sama Ayah, dan papih. Jadi, aku ninggalin kamu.. maaf sekali lagi..” ucapnya yang sambil memegang tangan Jake.

“Lepasin Hee, udah bukan siapa-siapa.”

Sakit. Memang sakit bagi Hee. Namun, ia melepaskan tangannya dari tangan Jake sesuai permintaannya.

“Abi besar tanpa sosok Ayah, Hee, asal kamu tau. Aku tiap malem nangis, ngebayangin dia gedenya bakal gimana, bakal nanyain tentang Ayahnya atau engga, dibully temen-temennya atau engga, aku juga gatenang Hee selama ini. Untungnya Sunghoon sama Sunoo pindah rumah deket sama aku. Jadinya Abi main sama anak mereka dirumahnya. Aku kerja, banting tulang sendiri, demi siapa? Demi Abi. Tapi kamu tiba-tiba dateng, Hee. Setelah 10 tahun, kamu kemana!!” Jake berbicara sambil mulut bergetar.. ia tak benar-benar menahan semuanya sendirian selama 10 tahun.

“Kalo kamu minta untuk balik, aku belum siap. Tapi kalo kamu minta buat ketemu sama Abi, nanti aku tanyain dulu anaknya mau apa engga.” Lanjut Jake.

“Aku bener-bener minta maaf Jake atas kesalahan aku selama 10 tahun ini yang udah bikin kamu menderita.. aku gamaksa kamu buat nerima aku lagi. Tapi tolong, temuin aku sama anak aku.. aku mau liat anak aku hidup, Jake.. tolong izinkan aku..” Heeseung benar-benar mengemis agar ia di izinkan untuk bertemu sang anak.

“Nanti aku kasih nomor Abi. Cuma, tunggu dapet izin dari dia dulu. Dia sekarang lagi main dirumah Hoon.”

“Iya, Jake, makasih, yaa..”

“Ayah, sama papih apa kabar?” Tanya Jake.

“Baik. Papih kadang masih suka nanyain kamu.. aku udah jujur ke papih, tapi ke Ayah belum.. takut. Cuma papih ngasih syarat, kalo Abi sama kamu kerumah, nanti dibantuin ngomong sama papih.”

“Nanti aku kasih kabar lagi ya, Hee. Abi lagi sibuk-sibuknya main.. apalagi Taesan rumahnya deket.”

“Taesan?”

“Anak Sunghoon sama Sunoo.”

“Ohh”

“Yauda, diminum Hee.”

Heeseung izin kembali ke kamar sebentar untuk berbicara dengan suaminya. “Yah, bentar, yaa..” Dokyeom mengangguk.

Ia membuka pintu kamar, dan melihat Jake yang sudah menangis di pojokkan. “Jake” panggil Heeseung. Sebenarnya Jake takut dengan panggilan itu. Karena, itu panggilan dari Heeseung kalo ia sedang marah.

“Liat aku” Jake menuruti permintaan suaminya, dan menatap mata Hee. “Aku gasuka kamu ngetik kayak tadi. Aku cuma mau ngurusin kerjaan bentar.. sama aku mau nanya ke papih tentang masalah kandungan. Dan satu lagi, kamu punya aku, Jake. Punya papih, punya Ayah, kamu gasendirian. Aku gasuka Jake..” lanjutnya.

“Kamu sibuk, Hee. Kamu kalo pulang kerja selalu langsung tidur. Kalo engga tidur, ke kamar Ayah atau ke Ruang tamu. Aku kangen di perhatiin kamu..”

“Kan aku bilang tadi, aku ngurusin kerjaan..”

“Yauda kalo gitu kamu gausah kerja deh.”

Heeseung terkejut dengan ucapan suaminya itu. “Maksudnya?” Tanyanya bingung.

“Kamu gausah kerja, biar Ayah yang kerja. Kamu sama aku aja dirumah.”

“Jake, gila kamu ya? Kalo aku gakerja, kamu mau makan apa? Mau makan nasi sama garem?”

“Aku gamakan juga gapapa!”

“Kamu ini lagi kenapa si?”

“AKU TUH KANGEN HEE” Jake meninggikan nada bicaranya.

“Ya kalo kangen bilang! Nanti aku lakuin yang kamu mau.”

“Aku capek. Aku capek bawa anak kamu kemana-mana, aku capek, Hee. Aku butuh di semangatin sama kamu!”

“Kamu pikir aku di kantor gak capek? CAPEK! Jangan seolah-olah kamu doang yang capek, Jake.” Heeseung tak mau kalah, dirinya juga ikut meninggikan nada bicaranya.

“Capek apa? Aku tau dari Chenle kalo kamu sering ke Cafe. Emang aku gapunya mata-mata?!”

“Kalo kamu emang capek bawa anak kita, yauda. ILANGIN AJA ITU BAYIKNYA!” Perkataan Heeseung kali ini benar-benar menyakitkan, ia langsung lemas terduduk di lantai. Ia tak bisa membalas perkataan Hee yang tadi keluar dari mulutnya.

“Jahat kamu! Aku benci sama kamu!”

“Terserah!” Heesung mendobrak pintu kamarnya dan segera kembali menuju ke Ruang tamu.

Sedangkan Jake di kamar hanya bisa menangis, kata-kata yang tadi Hee lontarkan terus terngiang-ngiang di telinganya. * ILANGIN AJA ITU BAYIKNYA* sungguh ia benar-benar membenci suaminya itu. Bisa-bisanya Heeseung berbicara seperti itu pada saat mendekati tanggal persalinan.

Heeseung duduk di Ruang tamu dengan sang papih, dan ayah. “Kenapa?” Tanya Ayah.

“Gapapa”

“Tadi Ayah sama papih denger. Kamu nyuruh Jake gugurin kandungannya disaat tanggal persalinannya sudah deket?” Heeseung menunduk. “JAWAB!” Kini dirinya yang dimarahi oleh sang ayah.

“Iya. Abisnya Jake nyuruh Hee berhenti kerja, terus dia bilang capek bawa-bawa anak aku.” Papih hanya bisa mengelus dadanya disaat rumah tangga sang anak tengah diterpa angin.

“Terus kamu bales dengan ngomong kayak gitu Hee? Apa kamu gakasian sama Jake? Kan yang ngehamilin Jake kamu juga. Jadi ini bukan tanggung jawab Jake doang, tapi kamu juga. Kalo emang kamu gamau anak itu, biar ayah kasih ke daddy sama papah.” Ucap sang ayah yang sudah benar-benar tak habis pikir dengan putranya itu.

“Terus Hee harus apa..”

“Ya minta maaf. Hee, hormon orang hamil gabisa ditebak. Kamu bisa sampai sebesar ini karna siapa? Karna papih sama ayah kamu. Dulu papih juga sempet nyerah karna waktu papih hamil kamu, ayah ngelakuin kesalahan fatal. Tapi apa? Papih berhasil mempertahankan kamu, dan ngasih ayah kamu kesempatan. Minta maaf Hee, minta maaf sebelum Jake bawa anak kamu pergi. Kalo Jake masih marah, biarin aja. Wajar. Karna kata-kata kamu udah nyakitin perasaan dia. Papih sama Ayah gangajarin kamu kayak gini. Minta maaf ya, abang..” kata papih yang berhasil mengetuk pintu hati Hee.

“Iya papih.”

Heeseung kembali memasuki kamarnya. Jake masih menangis di pojokkan sambil mengelus perutnya. Hee mendekati Jake secara perlahan, “Yeyun..” yang dipanggil tak membalas. “Maafin aku.. maaf soal perkataan aku.. aku nyesel. Maafin aku sayang..” Hee menunduk di hadapan Jake. Sedangkan Jake, ia masih tak mau membalas perkataan Hee.

Papih mencoba masuk ke kamar mereka berdua, dan membantu untuk mencari jalan keluar dari masalah tersebut.

“Jake..” panggil Papih.

Mata Jake sungguh sembab, ia seperti tak tidur beberapa hari. “Maafin anak papih ya? Mungkin dia gatau kalo hormon orang hamil seperti ini.. apalagi kalian kan baru menjadi orang tua, jadi maklum aja kalo Hee gatau. Papih bukan membela anak papih, tapi.. yang papih bicarakan betul bukan?” Jake mengangguk. “Nah, gapapa ya Hee kerja? Nanti papih suruh dia lebih perhatian sama kamu.. atau kamu kalo bete, ke kamar papih aja. Atau mau coba belanja baju bayik? Kalo emang masih butuh waktu, bilang ya nak..” ucap papih.

“Jake masih butuh waktu, pih.. kata-kata Hee tadi masih terdengar jelas di telinga aku.” Katanya.

“Oh yasudah, nanti papih suruh Hee tidur di kamar adeknya dulu, yaa.. kalo kamu butuh sesuatu, chat papih.” Jake mengangguk.

“Makasih papih.”

“Hee, kamu ke kamar adek kamu dulu, yaa.. biarin Jake nenangin diri.”

“Iya pih.”

Mereka akhirnya tiba kembali di Hotel setelah membuat kerajinan dari tanah liat. “Aku mandi dulu ya, Hee” ucapnya. Namun, tangan Jake ditahan oleh Heeseung. “Kenapa? Tanyanya.

“Duduk dulu deh dipangkuan aku” Jake menuruti permintaan Heeseung, “kamu cantik banget. Makasih ya udah mau nerima aku jadi suami kamu. Aku beneran bersyukur punya kamu.. nanti kalo kita punya anak, aku mau dipanggil apah dan kamu apih. Aku janji gaakan bikin kamu kecewa, Jake. I love you.” Heeseung mencium singkat bibir Jake. Yang dicium justru tersenyum.

“I love you too apah” Jake segera bangun dari pangkuan Heeseung untuk membersihkan dirinya.

Setelah membersihkan dirinya sekitar 20 menit, Jake keluar dari kamar mandi. “Wangi amat si.. suami siapa ini??” Gombal Heeseung yang berhasil bikin pipi Jake memerah.

“Apasi! Mending kamu mandi.” Bukannya menuruti perkataan Jake, justru ia memeluk Jake dengan erat.

“I love you YEYUN~”

“Iyaaa hee i love you too!!! Lepasin! Aku sesek nih..” Hee melepaskan pelukannya, dan tiba-tiba..

cup

“Ayok, Jake.” Ajak Hee.

“Aku baru mandi.. masa nanti subuh mandi lagi”

“Gapapa. Mandi bareng”

Jake saat ini hanya bisa pasrah. Biar gimanapun, Heeseung dan juga dirinya sudah menjadi pasangan sah. Jadi, tidak seperti waktu itu. Sebenarnya kejadian malam itu tidak sengaja, walaupun Heeseung dalam keadaan setengah sadar akibat mabuk, tetapi Heeseung tidak kebablasan.

“Hee, aku siap digempur kamu lagi kayak waktu itu. Tapi sekarang, versi kamu sadar.” Heeseung tersenyum mendengar ucapan yang keluar dari mulut Jake.

“Aku mainnya pelan-pelan, ya? Biar kamu gakesakitan kayak waktu itu.”

“Kasar juga gapapa. Aku suka Hee~” Sungguh, Yeyun nya saat ini benar-benar mode Jake.

Heeseung mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Jake. Jake memejamkan matanya dan membiarkan Heeseung yang memulai.

Heeseung mencium bibir Jake, abis itu melumatnya. Tak lupa, ia meminta Jake untuk membuka mulutnya agar ia lebih leluasa menjelajah area dalamnya.

“Hmmphhh” satu lenguhan berhasil keluar dari mulut Jake.

Dirinya terus menjelajahi area rongga mulut Jake, dan membiarkan mereka berdua saling bertukar saliva.

Dirasa sudah keabisan oksigen, Jake meminta agar Heeseung berhenti sebentar. “Maaf, maaf..” ucap Hee.

“Gapapa.. aku cuma sesek aja. Padahal baru awal, ternyata kamu beneran main kasar” Heeseung tertawa mendengarnya.

“Kan kamu sendiri yang minta kasar.. gaboleh disia-siain. Apalagi kamu abis mandi. Wangi banget berasa nyium bidadari~”

“Yuk” Ajak Jake yang ingin meminta permainan malam ini dilanjut.

“Gapapa?” Jake mengangguk. “Kan Ayah kamu minta oleh-oleh cucu, jadi yauda kita lanjutin sampe jadi.” Ucapnya.

“Kamu tau darimana?”

“Aku gasengaja baca di handphone kamu”

“Hehehe. Yauda, yauda, ini mau mulai darimana?” Tanya Hee kepada Jake.

“Terserah.. mau langsung masuk boleh, pelan-pelan juga boleh”

Heeseung terkekeh mendengar perkataan yang baru saja keluar dari mulut suaminya, “lucu banget si” ucapnya.

“Aku buka baju dulu, yaa”

“Lagian kenapa make baju di dalem kamar mandi si? Kayak sama siapa aja”

“Malu..”

“Kan aku udah pernah ngeliat tubuh kamu sebelumnya”

“Maaf..”

“Udah ah ayok lanjut”

Kini Jake mendekatkan dirinya terlebih dahulu, dan berbisik di dekat telinga Heeseung. “Ayok kita bikin HeeJake junior” jujur.. Heeseung merinding. Tapi, ia sudah tak sabar ingin memakan suaminya yang cantik ini.

Heeseung dengan kasar mencium, bahkan meremas dada Jake hingga Jake terjatuh ke kasur. “Eunghhhh”

Tubuhnya saat ini berada dibawah, sedangkan Heeseung berada di atasnya. Heeseung yang tadinya bermain di area mulutnya, kini berpindah ke dada milik Jake. Ia menghisap payudara milik Jake dengan kuat seperti bayik yang sedang kehausan. “Ahhhh pelanh pelanh heehh” Sakit, tapi nikmat. Itu yang Jake rasakan malam ini.

Heeseung terus menghisap dada sebelah kanan, sedangkan tangannya yang satu memilin puting sebelah kiri Jake. Jake benar-benar seperti sedang menyusui anak bayik yang kehausan.

Setelah adegan memilin, tangan Heeseung berpindah kebawah, dan mulai memasukkan jarinya secara perlahan.

“Arghhhh sakithhh”

Heeseung yang mendengarnya, ia kembali mengeluarkan jarinya. “Maaf, maaf”

“Gapapa~ lanjutin, Hee.” Pinta Jake.

Heeseung kembali memasukkan jarinya, satu jari, hingga dua jari ke dalam lubang milik Jake. Ia terus keluar masuk kan jarinya di dalam.

“Ahhh ahhh heeseunghhh~ akuhhh mau keluar arhhhhh”

“Jangan keluar, sebelum aku masukin kontol aku.”

Heeseung kini membuka resleting celanya, dan memperlihatkan penisnya yang kini sudah menegang. Tak lupa, ia beri pelumas ke penisnya agar Jake tidak kembali kesakitan. “Aku masukin ya, Jake?” Yang ditanya mengangguk.

“Nggghhhh.. punya kamu gede bangethhh”

Jake mengigit bibirnya saat Heeseung mulai menghentakan tubuhnya. “Ahh ahh~ terushh mashh”

Heeseung melebarkan kedua kaki Jake agar mempermudah dirinya untuk menggenjot sang suami.

“Ughh.. ughh.. enak bangethh mashh” genjotan demi genjotan yang Heeseung lakukan saat ini, bahkan kecepatannya semakin meningkat, Jake rasakan. Tak lupa Heeseung menjilati bahkan menghisap area lehernya hingga meninggalkan jejak yang sangat indah.

Ia yang melihat wajah Jake seperti sedang menikmati permainannya, ia terus menambah tempo kecepatan.

*PLOK..

*PLOK..

*PLOK..

“Heee pelanh-pelanhh~ nanti kedengeran tamu hotel yang lainhhh” Heeseung tak mendengarnya, justru ia saat ini fokus menggenjot sang cantik.

“Kamu cantikh bangethhh Yeyunhhh~ milik akuhhhh” Hee terus menggenjot dengan keras, hingga membuat Jake kewalahan.

“Banghhh stophhh~ akuhhhh mauuh keluarhh” Hee akhirnya mengeluarkan penisnya dari lubang cantik milik Jake.

“Udah?” Jake mengangguk.

“Mau main lagih…” rengek Jake.

“Okeoke. Sekarang nungging!”

Jake menuruti permintaan Heeseung dan membiarkan pantatnya terlihat oleh suaminya. “Cantik” ucap Heeseung.

*PLAK

*PLAK

Heeseung memukul bongkahan pantat milik Jake terlebih dahulu, sebelum kembali memasukkan penisnya.

“EUNGHHH ABANGHHH”

Permainan kembali berlanjut, Heeseung kini bermain dengan lembut tidak seperti awal. Tetapi, rambut Jake dijambak oleh Heeseung agar memperlihatkan wajah cantiknya. “Akuh mauhh liatthh wajahh kamuuh kalo lagi sangee”

Heeseung menghentakkan pinggulnya agar penisnya masuk lebih dalam. “akhh heeseunghh~ nikmathhh” ucap Jake yang saat ini benar-benar tak ingin berhenti bermain.

Satu hentakan

Dua hentakan

Hingga tiga hentakan, sebelum mencabut penisnya, Heeseung mengeluarkan cairan sperma miliknya ke dalam lubang Jake. “Ahhhhh selesaihhh” Jake benar-benar lemas digempur abis-abisan oleh suaminya itu.

“Makasih, sayangkuh” ucap Hee yang menciub kening Jake.

Setelah mendapatkan lokasi yang diberikan oleh Enchae, Dokyeom langsunh pergi begitu saja meninggalkan Jun, dan anak-anak kantor. “Lu mau kemana??” Tanya Jun.

“Jemput keluarga gue” ucapnya yang sambil berlari.

Dokyeom tiba di parkiran mobil, dan keluar parkiran untuk menuju tempat yang sudah diberitahu.

Sementara itu, Joshua, Enchae, dan juga Heeseung, kebingungan harus kemana lagi. “Ini kemana lagi pih?” Tanya Heeseung.

“Papih juga gatau.. soalnya tadi satpam udah nanyain papih terus..”

“Ohiya, ayah ngechat tadi di hp papih. Kayaknya ayah beneran panik..”

“Pih, tadi adek juga di chat sama ayah, terus adek bagikan lokasi..” Joshua dan Heeseung hanya bisa tersenyum melihat tingkah Enchae.

“Lu ngapain kasih tau adek..” kata Heeseung yang sudah capek dengan tingkah polos adeknya itu.

“Ihh kan biar ayah kesini, terus kita bilang prankkkk

“Pinter kamu, Dek. Sekarang, papih mau ngumpet dulu. Kalo Ayah nyadar mobil kita, kamu bilang aja, papih udah pulang duluan naik taksi.” Kedua anak nya kini mengangguk, “baik pih.” Kata Heeseung.

Dokyeom pun tiba di Rumah Sakit yang sesuai lokasi, ia memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam lobby. Ia menuju ke tempat satpam terlebih dahulu, “misi pak, saya mau tanya, kalo ruangan buat operasi plastik itu dimana, ya?” Tanyanya.

“Bapak naik ke lantai 2, nanti ruangannya ada di sebelah kanan.”

“Terimakasih, pak.” Dokyeom pergi menuju lantai 2 untuk bertemu dengan Joshua yang sedang melakukan operasi plastik.

Sementara yang dicari, ia justru terus mondar-mandir di dalam lobby untuk menghindari bertemu suaminya. “Jangan sampe ketemu ayah” ucapnya.

Joshua menaiki lift untuk menghindar suaminya saat ini. Saat tiba di lantai 2, Joshua justru melihat seseorang yang tak asing, ia seperti melihat Dokyeom saat ini. “Mampus.. itu ayah kan?” Batinnya. Ia kembali memasuki lift yang belum sempat tertutup rapat.

Dokyeom yang menyadari ada seseorang memasuki lift, ia segera mengikutinya.

Joshua keluar dari lift dan berpura-pura bertanya satu hal kepada pak satpam. “Mas, mas ngapain bolak balik terus?” Tanya pak satpam.

“Diem pak. Saya lagi ngeprank suam—“ bahu Joshua tiba-tiba ditepuk oleh seseorang.

“Halo sayang” itu Dokyeom. Rupanya yang menepuk bahunya saat ini suaminya sendiri. “Maaf, pak. Dia suami saya, emang suka gitu iseng.. untung lucu. Makasih ya pak udah dijagain” pak satpam hanya bisa tertawa melihat tingkah keduanya.

“Hehehe mamas.. tapi aku beneran mau operasi plastik kok.” Ucapnya yang sambil senyum-senyum karna gagal ngeprank suaminya kembali.

“Gaada, ya, chu! Aku gasuka kamu operasi plastik. Muka kamu udah cantik, seksi gitu apa yang mau diubah?”

“Pelit!”

“Kamu kesini sama anak-anak kan?” Joshua mengangguk. “Pada dimana?” Lanjutnya.

“Di parkiran, mas.”

Kini Joshua dan Dokyeom menuju ke tempat mobil dimana Heeseung, dan Enchae berada.

Dokyeom membuka pintu mobil, “abang, kamu sama adek, ya? Papih kamu sama ayah.” Heeseung mengangguk. Ia tahu betul kalau rencana papihnya saat ini gagal.

Dokyeom menggandeng tangan Joshua untuk ikut ke dalam mobilnya. “Ihhh aku mau sama anak-anak!” Ucap Joshua yang saat ini sedang kesal.

“Kamu ikut mas. Mas mau hukum kamu! Soalnya udah ngeprank mas”

“Kok?? Kemarin kamu gak aku hukum tuh????”

“Aku tidur di ruang tamu, itu yang kamu bilang gak ngehukum aku?” Joshua menggaruk kepalanya, “hehehe. Yauda sekarang mau kemana?” Tanya Joshua.

“Hotel. Soal baju, nanti aku suruh bi Nanda kirim make ojek”

“Mas???”

“Yah, udahan ah ngeprank papihnya.. Hee takut.” Ucap Heeseung yang saat ini benar-benar takut dengan rencana prank yang dibuat oleh ayahnya.

“Ayah juga takut..”

“Lagian si! Yauda ayok pulang. Hee udah selesai bilas juga” ajak Hee untuk segera pulang.

Kini mereka berdua sudah menuju ke rumah untuk meminta maaf kepada Joshua.

“Ini serius Hee kita udahin aja?” Hee mengangguk. “Iya. Hee takut, Ayah.. kasihan papih. Pasti udah nangis” balas Hee.

Sesampainya dirumah, Dokyeom melihat suaminya tengah duduk di ruang tamu bersama anak kedua mereka. “Hikss.. abang… abang ninggalin kita, dek… hikss hiksss…” Dokyeom yang mendengar tangisan Joshua, ia semakin panik.

“Bang, papih nangis..”

“TUHKAN! Hee bilang apa Ayah…”

Mereka berdua sangat ketakutan saat ini. Bahkan Dokyeom yang tadi sudah masuk, ia keluar lagi. Begitu juga dengan Heeseung, ia tak berani masuk karna takut diomelin papihnya.

Enchae yang mendengar seperti ada orang diluar, ia segera menghampirinya. “Pih, adek keluar dulu yaa” ucap Enchae.

Benar saja, diluar ada Ayah dan juga abangnya. “DOR”

“ANJING” Abang sontak terkejut dengan kelakuan adiknya saat ini. “Ngapain si kamu?” Tanyanya.

“Ya abang sama Ayah ngapain? Mana make bisik-bisik lagi. Tuh papih di dalem nangis, katanya abang ninggalin papih. Pasti rencana kalian berdua, ya?” Heeseung menunjuk Ayahnya yang saat ini berada di sampingnya, “enak aja. Ayah tuh! Abang cuma ikutan aja..” jawabnya.

“Tapi kamu setuju! Kok jadi Ayah yang dituduh?”

“Orang Ayah yang mu—“ tiba-tiba papih keluar setelah mendengar keributan diluar.

“STOP! Kalian nih apa-apaansi?” Kini mereka semua menunduk. “Loh abang?” Lanjut Joshua.

Heeseung segera memeluk sang papih, “PAPIH.. maafin abang.. ini semua salah ayah! Abang cuma ikut-ikutan aja..” Joshua tak menjawabnya, justru ia membalas pelukan sang anak.

“Abang.. jangan kayak gitu lagi, ya? Papih beneran sedih.. papih takut abang beneran ninggalin papih selamanya…” Joshua masih menangis dipelukan sang anak. Sementara Ayah juga masih menunduk. Ia sudah tahu bahwa dirinya malam ini bakal dihukum tidur di ruang tamu.

Joshua melepaskan pelukannya, “abang, abang tidur kamar papih, ya? Sama adek juga.” Enchae sontak melirik ke arah ayah.

“Ayah?”

“Tidur ruang tamu. Abisnya udah bikin papih nangis.”

“Chu.. mas minta maaf..”

“Besok aja, sekarang udah close sesi minta maafnya.”

Joshua, Heeseung, dan juga Enchae naik ke kamar milik Dokyeom, dan dirinya. Sementara Dokyeom hanya mengikuti nya dari belakang. “Kamu ngapain?” Tanya Joshua.

“Mau ambil bantal”

“Ambil dikamar abang. Oh, iya, sama tolong ambilin bantal di kamar adek, buat adek tidur di kamar.” Dokyeom hanya menuruti permintaan suaminya, daripada nambah masalah.

“Abang, yuk kita berangkat” ucap Joshua yang kini sudah rapih.

“Okee, papih.”

Kini keluarga Seoksoo tengah menuju Rumah Sakit tempat Bunda nya Jake di rawat.

Sesampainya di Rumah Sakit, suasananya cukup hening. Heeseung sangat khawatir dengan keadaan calon mertuanya itu. “Bunda sakit apa?” Tanyanya.

“Kanker paru-paru, Hee. Udah stadium empat. Itu juga aku baru tau tadi.. Bunda selama ini nahan sakit sendirian ya, Hee? Aku gagal jadi anak buat Bunda.. aku ganganterin Bunda ke Rumah Sakit buat kemo, aku ngebiarin Bunda nahan sakitnya sendiri, Hee.. aku gagal, Hee..” Heeseung yang mendengar suara Jake yang sudah bergetar, ia segera memeluknya untuk menenangkan.

“Hey.. kamu gak gagal, kok. Kamu anak yang hebat, Yeyun. Bunda pasti bangga sama kamu. Kita doain aja, ya, semoga bunda cepet sembuh.” Jake masih menangis dipelukan Heeseung. Sedangkan Ayah dan Papih yang melihatnya sangat bangga. Karena sekarang anak pertamanya itu bisa dipercaya.

“Mas.. abang udah gede, ya? Aku ganyangka.. padahal dulu abang masih kecil, masih kamu gendong-gendong. Sekarang, dia udah mau nikah, mas..” Dokyeom juga ikutan memeluk sang suami.

Adegan pelukan itu cukup lama, hingga mereka tak sadar bahwa Bunda nya Jake sudah sadar. “J-Jake…” ucap Bundanya yang terbata-bata.

“Bun” Jake mendekat. “Bun, ini Ayahnya Hee, dan itu papihnya Hee.” Dokyeom dan Joshua tersenyum kepadanya.

“Heeseung mana, Jake?”

Heeseung yang mendengar namanya dipanggil, ia segera mendekat, “Hee disini, Bun.” Ucapnya.

“Nak, Bunda titip Jake sama kamu, ya? Jangan kecewain dia. Bunda udah percaya sama kamu. Kalo semisal Bunda gabisa ngelihat kalian menikah, jangan sedih. Bunda tetep ngelihat dari atas.. Hee, tolong janji sama Bunda, janji kalau kamu akan terus sayang sama Jake selamanya. Jake cuma punya kamu nantinya.. umur Bunda cukup sampai sini, Hee. Tolong kalo sudah menikah, dan punya anak, beri nama anak kalian dengan nama Keenan. Bunda restuin hubungan kalian. Gausah pakai lamar-lamaran, Bunda mau kalian langsung nikah. Bunda gamau Jake kesepian nantinya. Bun-bunda mau tidur du—dulu…”

Tiba-tiba suara mesin yang bernama Elektrokardiogram berbunyi dan memperlihatkan garis lurus. Dokyeom langsung bergegas mencari dokter Rumah Sakit untuk mengecek keadaan Bunda nya Jake.

Dokter pun masuk, “mohon maaf, semuanya bisa keluar dulu.” Kata Dokter.

Jake terus menangis di pelukan Heeseung. “Hee.. Bunda gapapakan? Bunda cuma tidur kan? Itu suara mesinnya eror kan? Iyakan?” Heeseung tak berani bersuara, ia membiarkan sang pacar menangis.

Dokter pun keluar, “Mohon maaf, kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi, bu Yanti tidak bisa kami selamatkan. Saya pergi dulu.” Jake langsung masuk begitu saja dan memeluk sang Bunda.

“BUNDAAAAAAA!!!! BUN BANGUN BUN!!! Jake gabisa hidup tanpa Bunda.. Bun… Papah udah ninggalin Jake, Bunda juga mau ninggalin Jake? Bunda tega ngeliat Jake sendirian di dunia ini? Bun..” Heeseung berusaha menarik Jake dari dekapan Bundanya.

“HEE BUNDA HEE!! Itu bunda mau ditutup, Hee.. nanti Bunda gabisa napas. Hee..” Jake terus menangis melihat Bunda nya yang udah ditutup wajahnya dengan kain Rumah Sakit.

Dokyeom yang melihat sang anak kewalahan menghadapi Jake, kini ia menyuruh Heeseung mundur. “Hee, biar ayah aja.” Ucapnya.

“Jake, sini peluk Ayah.” Jake menurut, ia memeluk Dokyeom dengan sangat erat seperti ia memeluk Ayahnya sendiri. “Jake, kamu gasendirian.. masih ada Ayah, papih, adek, dan juga abang. Bunda kamu udah bahagia disana, Jake. Biarin Bunda tenang, ya? Jake gaboleh nangis.. nanti Bunda malah nangis disana. Jake kuat kan? Jake anak kuat. Lusa kamu nikah sama Hee, ya? Sesuai permintaan Bunda kamu, yang gamau ada lamar-lamaran. Jadi nanti langsung nikah, ya sayang..” Joshua, dan juga Heeseung ikut memeluk Jake. Kini ruangan Rumah Sakit penuh tangisan dari mereka yang berduka.

Kini Enchae dan juga Ayah tiba di tempat Joshua, Heeseung, dan juga Arshil berada. “Chu” sapa Ayah.

“Eh mamas.. abis belanja apa sama adek?” Tanya Joshua.

“Gasempet. Si adek udah keburu bete duluan..” Saat ini Enchae masih terus cemberut sambil memperhatikan Arshil yang tengah asik makan ice cream.

“Dek, kenalin ini namanya Arshil” Enchae tidak menjawab. Ia justru semakin intens melihat Arshil.

“Gaboleh gitu sama Arshil.. dia ini kayaknya ketinggalan sama bapak dan juga papa nya.” Ucap Joshua.

“Tapikan dia deket-deket papih. Papih jadinya gasayang lagi sama adek!”

“Adek~ gaboleh gitu, ya sama Arshil.. kasian loh dia ketinggal bapak sama papa nya.” Kata Ayah yang berusaha menenangkan anak kedua nya.

“Lagian kok bisa dia narik papih gitu aja?? Emang dia gatau apa kalo papih tuh papihnya Enchae. Bukan Papa nya Arshil.”

“Dia tadi tiba-tiba narik papih, dek.. ngajak ketukang ice cream. Yauda papih turutin aja daripada nangis. Dan tadi abang juga curiga kalo ni anak ketinggalan sama kedua orang tuanya. Kita tungguin sampai bapak, sama papa nya dateng ngejemput, ya?” Joshua berusaha menjelaskan apa yang terjadi dengan Arshil yang bisa bertemu dengan nya.

Enchae mengangguk dan berusaha mengerti. Bagaimana pun juga Arshil masih kecil. Kalo dibiarkan begitu saja justru bahaya. “Yauda deh, pih. Tapi jangan lama-lama, loh yaa!” Joshua mengangguk.

Tak butuh waktu lama, hanya sekitar 30 menit keluarga Jichu menunggu, tiba-tiba Heeseung mendengar ada seorang lelaki yang mencari anaknya yang bernama Harshil. Heeseung mendekati lelaki tersebut, “halo, om. Om nyari Arshil?” Yang ditanya mengangguk. “Ikut aku, om. Arshil ada sama papih aku.” Heeseung menarik lengan pria tersebut untuk bertemu dengan anaknya.

“HARSHIL” sapa Dika bapak dari anak tersebut.

“Bapak!” Arshil memeluk Dika dengan erat. Seperti tidak bertemu berbulan-bulan. “Kamu kemana aja, sayang.. bapak sama papa cariin.. maafin bapak, ya, nak? Maafin bapak karna ninggalin kamu..” Dika terus menciumi wajah sang anak.

Sedangkan Joshua tengah berterima kasih kepada Jichu karna sudah menjaga anaknya. “Terimakasih, mas, sudah menjaga anakku. Ini semua salah aku dan juga suami aku yang ninggalin Arshil.” Jichu mengangguk, “sama-sama. Kenalin aku Jisoo. Kamu bisa manggil aku, Jichu. Ini anak pertama aku,” Jichu menunjuk Hee, “dan ini anak kedua aku, Enchae.” Enchae mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan papa dari Arshil.

“Cantik. Kayak kamu, Chu.” Jichu tersipu malu karna dipuji dengan papa nya Arshil. “Kamu lebih cantik, Joshua.” Ucapnya.

“Ashil, ayok bilang apa sama papih Jichu” kata Joshua kepada Ashil.

“Telima kasih, iyaaa papih~ ashil pulang dulu sama papa. Dadah kak Enchae, dan abang Heeseung..” Ashil kini berpamitan dengan Hee, Enchae, dan juga Ayah.

“Dadahhh bocil~ jangan salah gandeng papih lagi!” Kata Enchae yang mengelus kepala Ashil.

“Dadah, cil. Semoga kita ketemu lagi, ya~” kini Ashil benar-benar meninggalkan keluarga Jichu untuk pulang kerumahnya.

“Tadi Ashil lucu banget, ya mas.. gemes deh.” Kata Papih yang masih terus ngebayangin tingkah Ashil.

“APASI PAPIH! Udah stop bahas bocil itu!!”

Cw // bxb, 🔞 mdni

Jake yang mendapati kabar bahwa sang kekasih sudah mabuk berat, ia segera meluncur ke tempat yang sudah diberitahu.

“Bun, nanti Hee mau nginep sini. Bunda kalo udah ngantuk, tidur aja, ya.. Jake jemput Hee dulu.” Ucap Jake.

“Loh? Biasanya Hee yang langsung kesini.”

“Iyaa bun, motor Hee lagi rusak, mobilnya juga lagi dipake ayahnya. Jake berangkat dulu, Bun.” Jake pergi setelah berpamitan dengan sang Ibunda.

Sesampainya Jake di tempat tersebut, ia langsung masuk untuk mencari Heeseung. Tak lama ia memasuki tempat, dirinya akhirnya bertemu dengan Heeseung yang sudah di rangkul dengan Beomgyu.

“Pacar lu nih, mabuk berat. Katanya gara-gara lu photoshoot sama Sunghoon.”

Dugaannya ternyata benar, kalau sang pacar pergi ke club karena dirinya.

“Makasih, Gyu. Gue pamit duluan ya sama Hee.” Beomgyu dan yang lain mengangguk. “Hati-hati.” Ucap Beomgyu

Kini Jake dan Heeseung berada di dalam mobil milik Jake. Ia segera menancapkan gas menuju kerumahnya. “Hee, kamu ini kenapa si? Aku padahal cuma begitu doang.. lagian Hoon juga naksir sama Sunoo, bukan aku.” Ucapnya walaupun sang pacar setengah sadar.

“Kamuuh udah gasayang akuhh, Jakeei~”

“Aku masih sayang sama kamu, Hee. Sayang banget. Aku gabakal pergi dari kamu. Kecuali takdir yang misahin kita, Hee.”

Heeseung kini tertidur pulas di dalam mobil Jake. “Kamu pasti capek, ya, Hee? Lagian sok-sokan mabuk.” Jake terkekeh dengan tingkah pacarnya yang seperti bocil ini.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, kini Jake tiba dirumahnya. Mang Adi membukakan pintu gerbang, “makasih mang.” Ucap Jake.

Jake memarkirkan mobilnya di garasi belakang rumahnya. “Hee, bangun, Hee..” Ia terus berusaha membangunkan Heeseung.

“Eungg~ Yeyun?” Penglihatan Heeseung masih samar-samar. Sebab ia menghabiskan empat botol alkohol sendirian.

“Iyaa, aku Yeyun. Ayok bangun! Lanjutin tidurnya di kamar aku aja.” Pinta Jake. Tetapi, Heeseung menggeleng.

“Kenapaa?”

“Gamau.. mau disini sama kamu.” Tiba-tiba tubuh Jake di tarik kedalam pelukan Heeseung. Saat ini mereka berdua masih berada di dalam mobil yang sudah terparkir.

“Hee.. pindah di dalem, aja, yuk?” Heeseung tetep menggeleng.

“Gamau, Yeyun~ mau disini!”

“Yauda iyaa..”

“Yeyun, i love u.”

“I love u too, Hee.”

“I love u”

“Iyaa Hee. Ayok mas—“ belom sempet melanjutkan, bibir Jake tiba-tiba dicium oleh Heeseung.

cup

“Di dalem, aja yuk?” Lagi-lagi Heeseung menggeleng.

“Gamauu Yeyun..”

Sungguh, tingkah Heeseung malam ini sangat seperti bayik. Jake harus sabar dengan menghadapinya.

“Nanti aku kasih lebih.”

“Hmm”

Setelah Heeseung menuruti permintaannya, Jake menuntun sang kekasih untuk memasuki rumahnya.

“Bunda mana ya yeyun?” Tanya Hee.

“Udah tidur.”

“Yahh..”

Mereka berdua segera memasuki kamar Jake yang berada di lantai dua.

“Hee, kamu mandi dulu, gih. Nanti make baju aku dulu~ kamu udah sadarkan? Maksud aku, udah gamabuk kan?” Hee mengangguk.

“Mandi bareng..”

“Aku udah mandi. Kamu aja.. bau alkohol tuh.”

Heeseung menunduk. Ia merasa kalau Jake saat ini sudah tidak sayang kepada nya. “Kamu beneran udah gasayang, ya?”

“Ya Tuhan.. iya-iya. Kita mandi bareng! Kamu dulu yang masuk.” Jake hanya bisa pasrah dengan Heeseung malam ini. Pintu kamar sudah ia kunci. Takut tiba-tiba ada yang masuk saat ia melakukan hal tidak senonoh nantinya.

“YEYUN~” teriak Heeseung dari dalam kamar mandi.

“Iyaaa sabar!! Aku beresin kasur dulu.”

“Gausah! Cepet masuk, Yeyun!”

kenapa si gabisa banget sabaran.. ucap Jake dalam hati.

Jake memasuki kamar mandi, dan ia terkejut dengan Heeseung yang sudah tidak memakai apa apa. Sepertinya Hee sudah menunggu dirinya di dalam bathtup “Ya Tuhan..” ucapnya sambil menutup mata.

“Kenapaa?? Sini mandi, Yeyun”

“Maluu..”

“Kenapa? Kamu dipegang-pegang sama Hoon gamalu tuh. Kenapa sama aku malu?”

“Kamu masih marah, ya?”

“Engga”

“Maaf, yaa..”

“Mau dimaafin?” Jake mengangguk. “Ciuman dulu.” Jake menghela napasnya. Entah setan apa yang merasuki pacarnya saat ini, ia juga tak tahu.

“Iyaa ciuman.” Jake perlahan mulai masuk ke dalam bathtup bersama dengan Hee yang sudah lebih awal berada di sana.

“Coba minta maaf depan aku”

“Aku minta maaf ya Hee, soal aku photoshoot sama Sunghoon. Maaf kalo gabilang kamu dulu.. soal Hoon yang kata kamu modus, salah, Hee. Dia naksir Sunoo, bukan aku. Kita beneran cuma temen doang.. kan kamu tau sendiri… udah ya bayiknya Yeyun jangan marah.. Ayah kamu tadi ngechat aku, soalnya om Wonu ngasih tau ke Ayah tentang postingan kamu yang mabuk itu. Terus aku bilang aja aman yah jangan gitu lagi, ya? Aku jadi ngerasa bersalah banget..” Jake menundukkan kepalanya, dan menahan air matanya.

“Hey, jangan nangis.. liat aku,” Jake menatap Heeseung. “Aku juga minta maaf ya, karna terlalu posesif.. dan aku juga minta maaf karna langsung pergi ke club gitu aja.” Jake mengangguk.

“Iyaa dimaafin..”

“Boleh?” Jake bingung, “boleh apa?” Tanyanya pada Hee.

“Cium” Jake mengangguk.

Kini jarak antara wajah mereka semakin dekat, Jake memejamkan matanya dan merasakan bibir lembut milik Heeseung sudah menyentuh bibirnya. Heeseung berusaha masuk untuk menjelajahi area dalam mulut Jake. Jake yang merasakan, ia membuka mulutnya agar Heeseung lebih leluasa di dalam. “Hmmmh” satu lenguhan berhasil keluar dari mulut Jake.

Tangan Heeseung meneken tengkuk leher Jake untuk memperdalam ciumannya.

“Ahhh… Hee… mhmmmhhh”

Heeseung melepaskan lumatannya dan beralih ke leher putih milik Jake.

“Heeseunghhh ahhhh” Jake merasakan geli bercampur nikmat saat ini.

Heeseung mulai turun ke area dada bidang milik Jake, “nen, ya?” Jake mengangguk. Ia benar-benar pasrah malam ini.

Mulut Heeseung terus mengulumi pentil sebelah kanan milik Jake. Sedangkan tangan kirinya memilin pentil satunya. “Nggghhh.. Heehh geliihhhhh~”

Heeseung melepaskan agenda nenen tersebut. “Kulum kontol aku.” Jake mengangguk.

Slurrrppp Slurrrppp

“Engghhhh Yeyunhhh”

“Mau keluarhhhh” Heeseung mengeluarkan cairan sperma nya ke muka Jake. “Cantik.” Ucapnya.

“Pindah kasur, yuk?” Ajak Hee, dan lagi-lagi dibalas anggukan.

“Ngangkang!”

Jake kini sudah dalam posisi ngangkang sesuai perintah sang kekasih. “Cantik banget lubang kamu, Jake~”

“Masukin, Hee!! Cepethhh!!”

Heeseung meludahi kontolnya terlebih dahulu, agar tidak menyakiti pacarnya. Dan kini dirinya perlahan mulai memasuki kontolnya ke lubang milik Jake.

“Sempithh bangethh”

“ARGHHHH HEESEUNG!”

“Maaf, maaf.. sakit, ya?” Jake mengangguk. Dirinya kini mengeluarkan airmata. “Kalo sakit, gausah, ya?” Ucap Hee.

“Gamau.. lanjutin.”

“Oke. Aku pelan-pelan, yaa..”

Hentakan demi hentakan terdengar jelas di dalam kamar Jake. Bahkan desahan Jake sangat amat keras. Heeseung takut nantinya terdengar oleh bunda nya Jake.

Tw // pelecehan⚠️

Heeseung segera menancapkan gas mobilnya untuk segera menuju ke sekolahan adik nya itu.

Tin tin tin

Lampu merah di perempatan lumayan cukup lama, sehingga membuat Heeseung ingin segera cepat sampai. “LAMA AMAT ANJING!” umpatnya di dalam mobil.

Setelah lampu merah sudah berganti dengan lampu hijau, ia melanjutkan perjalanannya. Tak lama, dirinya tiba di tempat adik nya sekolah. Heeseung memarkirkan mobilnya di parkiran dan segera turun.

Dirinya terus mencoba menghubungi ponsel adiknya, namun tak ada jawaban. Heeseung mencoba ke kantin yang berada di belakang sekolah, tetap saja tidak ada sang adik.

Ia melihat anak-anak tengah berkumpul di depan ruang kepala sekolah. “Misi, misi. Ada apaa, ya?” Tanya Hee terhadap salah satu siswa.

“Itu bang tadi anak kelas 11 di lecehin di gudang sekolah.” Ucapnya.

Deg

Setelah mendengar jawaban dari siswa tadi, Hee menerobos ke depan pintu. Dan benar saja, adiknya sudah nangis dipelukang sang guru.

Heeseung membuka pintu tersebut tanpa basa-basi. Guru yang melihat nya, mencoba melarangnya. “Kamu siapa? Main masuk gitu aja.” Ucap sang guru.

“Saya abangnya. Dia adik saya! Adik saya kenapa?” Heeseung meninggikan nada bicaranya. Enchae yang mendengar suara abangnya tersebut, ia berlari menuju Heeseung dan segera memeluknya.

“Hikss..hikss..abang…adek..adek dipegang-pegang, bang.. adek dibawa ke gudang abang.. adek takut abang…” Enchae terus menangis dipelukannya. Tubuh sang adik saat ini gemetar. Ia merasakan bahwa Enchae sangat ketakutan saat ini. Ia benar-benar marah terhadap guru, dan juga murid yang melecehkan adiknya itu.

“Adek.. adek tenang, yaa.. udah ada ada abang disini. Mana anaknya?” Tanya Hee. Enchae menunjuk ruangan tempat murid yang tadi membawa dirinya ke Gudang.

Heeseung berjalan masuk ke dalam ruangan itu, dan melihat bahwa murid yang bernama Bimo, dan juga dua orang temannya. Mereka bertiga kini tengah menunduk. Di dalam ruangan tersebut, sudah ada kepala sekolah, orang tua dari Bimo, dan juga ob sekolah yang sebagai saksi.

“Enchae, sini sayang..” ucap Ibu kepala sekolah yang bernama Rahma. “Enchae diapain aja sama Bimo, dan juga teman-temannya ini?” Lanjut bu Rahma.

“Aku.. aku dipegang-pegang bu. Aku dibawa ke gudang sama Bimo. Tadi aku lagi makan di kantin sama Salma, tapi Bimo narik aku maksa buat ikut dia ke gudang..” ucapnya yang kini berhasil membuat Heeseung kembali emosi.

“Masih kecil udah berani kayak gini! Saya sebagai abangnya gaterima! Orang tua saya, dan juga saya ngejaga Enchae setengah mati, tapi sama kamu malah diginiin! Mau jadi apa kamu gedenya?!” Heeseung benar-benar emosi. Sedangkan Bimo terus saja menunduk. Ia tak berani menatap Heeseung. “JAWAB!” Lanjut Hee.

“Kamu jangan kayak gitu sama anak saya! Anak saya gamungkin kayak gitu kalo gaada yang nyuruh!” Kini ibu Bimo yang bicara.

“Bu, sudah jelas-jelas kalau anak ibu yang salah. Sudah jelas-jelas anak ibu disini ketua nya! Anak ibu bisa aja dikeluarin dari sekolah ini, dan gaada sekolah yang mau nerimanya lagi. Dan sekolah ini juga bisa di tuntut karna kasus pelecehan salah satu murid!

Sontak semua guru dan kepala sekolah juga menunduk mendengar ucapan Heeseung. Sebab, sekolah ini ada campur tangan dengan Choi Seungcheol yang merupakan teman dari papih nya itu.

“Mas, jangan nuntut sekolah ini, mas.. saya mohon.. nanti saya dipecat sama mas Seungcheol..” ucap bu Rahma.

“Kalo gitu, keluarkan anak ini dari sekolah! Sebelum saya telpon daddy.” Ancam Hee.

Satu ruangan terdiam, “gaada yang berani ngeluarin? Saya telpon daddy dulu kalo gitu. Adek, tunggu sini, ya.” Enchae menuruti perkataan abangnya.

Heeseung kini menelpon Seungcheol di teras.

“Halo”

“Iya, abang? Kenapa?”

“Daddy, daddy dimana?”

“Dikantor. Kenapa sayang?”

“Kesekolah Enchae, Dad.”

*“Loh? Bukannya kamu tadi sama Uwon? Emang ada apa sama adik kamu?” *

“Adek di lecehin. Cepet daddy kesekolah..”

“Daddy jemput papah, ayah kamu, sama papih kamu dulu, ya..”

“Oke daddy.”

Heeseung kembali memasuki ruangan tersebut setelah selesai menelpon Seungcheol.

“Udah saya telpon. Tinggal tunggu beliau datang.” Ucap Hee.

“Enchae.. maafkan anak ibu.. maafkan Bimo.. mas, maafkan Bimo, mass.. saya gamau Bimo gabisa sekolah, mas.. saya tau Bimo salah, tolong dimaafkan..” kini ibunya Bimo berlutut di hadapan Heeseung.

“Bangun, Bu.” Ibunya Bimo kembali duduk di bangku nya. “Saya maafkan, tapi soal di keluarin dan di blacklist dari seluruh sekolah, itu terserah daddy.” Ucap Hee. Tak lama Heeseung berbicara seperti itu, kini satu keluarga tiba di ruangan tersebut.

“ADEKK!! Adekk kenapa sayang?” Ucap Papih yang langsung memeluk Enchae.

“Adek gapapa, papih..”

“Kamu diapain sama dia?” Tanya Papih kepada Enchae.

“Gadiapa-apain.. papih gausah khawatir. Udah ada abang yang ngelindungin adek.” Dirinya bangga mempunyai seorang anak laki-laki yang melindungi adiknya itu.

“Kamu, Enchae, kak Han dan juga abang, tunggu diluar aja.” Ucap Ayah dan dibalas anggukan oleh sang papih.

“Abang disini aja, yaa?”

“Biar daddy sama ayah kamu aja ya, bang, yang ngurus semua.” Heeseung mengangguk setelah Seunghcheol bersuara.