qianwoole11xd

Cw // sad, mpreg, accident.

“Tumben banget macet..” ucap Wonwoo yang sibuk memainkan ponselnya.

“Yank, itu kak Shua nya ajak ngobrol dong.”

“E-eh.. Gausah, Gyu.” Kata Joshua yang terus memandangi langit saat ini.

“Kak, kamu kenapa si daritadi?” Kini Wonwoo bertanya kepada ipar nya yang masih terus memandangi langit petang ini.

“Perasaan aku gaenak, Nu. Kayak bakal ada hal yang gak aku inginkan..”

“Kak, bentar.. ini di Twitter rame.. katanya ada pesawat hilang kontak.” Sontak Joshua ikut membuka ponselnya.

Ia terus mencari pesawat jenis apa, dan tujuan nya kemana.

“Kak, pesawat menuju ke Bali kak yang hilang kontak.” ucap Wonwoo yang juga sibuk mencari.

“Nu.. gamungkin kan itu pesawat Dokyeom? Nu..”

“Kak.. pesawat Suj-112 menuju ke Bali, kak. Pesawat Dokyeom..”

Feeling Joshua ternyata benar. Hal yang tidak ia inginkan terjadi.. Saat ini, pesawat yang suami, dan anak-anak nya tumpangi mengalami hilang kontak.

“Gyu.. Balik ke Bandara, Gyu..” Mingyu menuruti permintaan sang ipar.

Joshua terus spam chat Dokyeom, dan juga Heeseung. Namun, dari mereka berdua tak ada jawaban.

Saat tiba di Bandara, benar saja, keluarga dari penumpang Suj-112 sudah ramai memadati Bandara, untuk menanyakan kabar tentang pesawat itu.

Joshua mendorong untuk menuju ke petugas Bandara, menanyakan tentang kabar pesawat itu.

“Pak, pesawatnya gimana? Aman kan?” Tanya Joshua.

“Maaf, mas. Pesawat telah jatuh di perairan laut Jawa. Seluruh penumpang dikabarkan tak ada yang selamat. Kini Basarnas sudah menuju ke titik lokasi jatuhnya pesawat.”

Deg

Saat itu, dunia Joshua benar-benar berhenti. Ia tak tahu harus bertahan hidup bagaimana kalo suami, dan anak-anaknya meninggalkan dirinya seorang diri untuk selama-lamanya.

Wonwoo yang melihatnya, ia segera memopong Joshua ke belakang. “Kak, bangun, kak..” ucap Wonwoo.

“Nu.. Dokyeom, Nu.. Adik kamu.. Adik kamu ninggalin kita semua, Nu.. Hiksss.. Wonwoo..” Wonwoo memeluk tubuh Joshua untuk menenangkan nya. Walaupun dirinya juga hancur. Adik kesayangan nya pergi untuk selamanya. Saat ini, ia berpikir kalau ia gagal menjadi kakak.

“Kak, iyaa kak.. Dokyeom, Enchae, dan juga Abang, udah terbang tinggi, kak. Mereka emang gak tiba di Bali, tapi mereka tiba di tempat yang lebih indah.. Kakak gasendirian. Kakak ada aku, Mingyu, bang Cheol, dan kak Han.”

“Nu.. Aku gasiap.. Andai aku bisa lebih kuat untuk menghalangi mereka pergi ke Bali. Nu.. Anak-anak lebih bahagia sama Ayah nya, ya Nu? Mangkanya anak-anak ikut Dokyeom pergi ninggalin aku sendirian disini. Nu, tadi Hee bilang i love you, Nu, ke aku. Nu..”

Mingyu ikut memeluk mereka berdua untuk saling menguatkan satu sama lain. Ia juga sedih ditinggal teman masa SMA nya. Ternyata, Enchae lebih suka jadi Superman untuk selamanya.

Dokyeom saat ini gelisah, karena mantan suaminya itu tidak membalas pesan nya. Ia takut hal yang tidak diinginkan terjadi. Dokyeom terus mencoba menghubungi nomor ponsel Joshua, namun tidak ada jawaban. “Josh, ayok angkat.. kamu kemana.. aku takut..” ucap Dokyeom yang sambil terus menelpon.

Kriiinggg

Tiba-tiba ponsel Dokyeom berdering, ia melihat bahwa Joshua menelpon diri nya balik.

“Halo, Josh. Kamu abis darimana si? Kok gangangkat telpon aku?”

“Halo..” Dokyeom Heran, ini bukan suara Joshua. Melainkan suara seperti ibu-ibu.

“Iya, Halo. Ini siapa, ya?”

“Maaf, mas. Saya tetangga sebelah kos nya, saat ini Joshua berada dirumah sakit, mas. Tangan nya penuh darah. Sepertinya dia melakukan percobaan bunuh diri. Mas bisa segera kesini? Nanti saya share lok rumah sakitnya lewat ponsel ini.”

“Terima kasih infonya, Bu. Baik, saya tutup, ya.”

“Iya, mas.”

Dokyeom tiba dirumah sakit setelah diberi alamat Rumah Sakit nya.

“Sus, pasien atas nama Hong Jisoo ada dimana?”

“Di ruang 130, mas.”

“Makasih, sus.” Dokyeom segera menuju ruangan tersebut. Ia melihat ada bapak-bapak dan ibu-ibu yang menjaga di depan pintu ruangan itu.

“Mas.. itu Joshuanya di dalem. Kata dokter, udah boleh di tengok.” Ucap Ibu Lusi.

“Baik, Bu. Makasih yaa ibu, dan bapak yang sudah mengantarkan Joshua kesini.”

“Sama-sama, mas. Dijagain, yaa.. kayaknya dia juga lagi stres.” Dokyeom mengangguk.

Dokyeom membuka pintu kamar tersebut, dan duduk di samping Joshua. Ia melihat tangan kiri Joshua sudah di perban. “Kamu ngelakuin apa si, Josh? Sampe tangan kamu di perban gini..” ucap Dokyeom yang terus mengelus tangan Joshua.

Setelah mengirim pesan kepada sang anak, ia kembali mengelus tangan mantan suami nya. Tidak ada 5 menit, pintu ruangan terbuka.

“Ayah, siapa yang sa—“ belum sempat melanjutkan ucapan nya, Hee kaget melihat papih nya terbaring di ranjang tidur Rumah sakit dengan tangan kiri yang sudah di perban.

“Sini duduk di samping Ayah. Kita temani papih sampai papih sadar.” Hee menuruti permintaan sang ayah.

“Yeyun kemana?” Tanya Dokyeom.

“Yeyun langsung pulang, Yah. Bunda nya nelpon..”

“Ohh.”

“Yah, papih kenapa bisa sampai kayak gini?”

“Ayah juga gatau.. kamu jangan benci papih ya, bang? Kasian kan ngeliat papih kayak gini?”

“Hmm”

“Bang, kamu tunggu sini. Ayah mau ngecek handphone papih dulu.” Heeseung mengangguk.

Dokyeom mengecek ponsel milik Joshua untuk melihat apakah masih ada nomor Eden atau tidak.

Dokyeom mengetik nama Eden di ponsel milik Joshua. Ia menemukan nya, tetapi nomor tersebut sepertinya sudah di blokir oleh mantan suami nya. “Gue bagiin aja dah nomor si bangsat ini, ke nomor gue.” Ucap Dokyeom.

Setelah membagikan nomor Eden, ia kembali duduk di samping anaknya. Heeseung terlelap di samping Joshua. “Bang, abang.. pindah ke sofa aja gih” Heeseung bangun dan berjalan perlahan menuju sofa.

Tak lama Heeseung pindah, tangan Joshua bergerak. “Josh..” ucap Dokyeom.

“Mas.. aku kok ada disini? Terus kamu ngapain?” Tanya Joshua.

“Kamu galiat tangan kiri kamu? Kamu kenapa si?” Kini Dokyeom justru balik nanya kepada Joshua.

“Mas.. aku tadi nyoba nyilet tangan aku.. aku kira aku bakal mati, gataunya masih hidup, ya, mas?”

“Josh.. kenapa sampe begitunya?”

“Aku sakit mas, sakit denger anak aku benci sama aku di depan aku sendiri. Aku denger semuanya. Aku.. aku mikir udah gaada yang perduli sama aku. Kamu, Abang, udah gaperduli sama aku. Jadi, aku lebih milih ikut bunda sama ayah aku, mas.”

Dokyeom memeluk Joshua dengan erat, membiarkan yang dipeluknya itu menangis sejadi-jadinya. “Mas, aku minta maaf, mas.. aku mau kita balik kayak dulu, mass.. jadi keluarga yang bahagia, mas. Aku rela mas ngelakuin apa aja demi kita balik kayak dulu, mas.. aku rela.. mas, tolong maafin aku, mas..” ucap Joshua yang masih menangis dipelukan Dokyeom.

“Aku mau ketemu sama Eden, Josh. Boleh?”

Joshua melepaskan pelukannya, “boleh, mas. Tapi, nomor dia udah aku blok.” Ucap Joshua.

“Buka, Josh. Suruh aku. Bilang, kamu ngajak ketemuan gitu.”

Joshua menuruti permintaan suaminya untuk membuka kembali nomor Eden. “Mas, udah aku buka.” Ucap Joshua.

“Mas, aku juga udah ngechat, ketemuan di cafe ngopi bang. Itu cafe biasa aku sama dia ketemuan, mas..” lanjut Joshua.

“Yauda, aku nemuin Eden dulu, ya..” Joshua mengangguk, “hati-hati mas.”

“Oh, iya, di sofa ada abang. Kalo mau apa-apa, minta abang aja kalo aku belum balik.” Joshua kembali mengangguk.

Dokyeom pergi meninggalkan Joshua dan juga Heeseung di ruangan itu untuk menemui Jaeden.

Sesampainya di tempat Ngopi Bang, Dokyeom mencari keberadaan Eden. Ia melihat Eden duduk di pojok sambil memandangi pemandangan yang sepertinya sedang menunggu kehadiran Joshua saat ini. Dokyeom melangkah untuk mendekati Eden, “Jaeden, ya?” Tanya Dokyeom.

Eden yang merasa ada yang memanggilnya, ia pun menoleh. “Iya? Ini siapa?” Ucap Eden.

“Dokyeom. SuamiJoshua. Joshua yang udah ngelakuin sex sama kamu itu, loh..”

Jaeden kaget, bahwa yang datang menemuinya saat ini justru mantan suami dari Joshua. “E-eh.. kenapa ya, kesini?” Tanya Eden.

“Joshua bukan nya ngajak ketemuan kamu?” Eden mengangguk, “karna Joshua tiba-tiba gabisa, jadi saya aja yang gantiin. Bolehkan?” Eden menelan ludahnya saat ini.. Dokyeom yang ia tahu tidak se seram saat ini.

“Boleh..”

“Kasih tau dong kenapa kamu selingkuh sama suami saya.. terus kenapa bisa ngelakuin sex sama dia, padahal kamu juga tau kalo dia udah punya suami.”

“Sebelumnya, saya minta maaf karena selingkuh sama suami kamu. Jadi, saya mau menjelaskan kenapa saya dan Joshua bisa melakukan itu. Awalnya saya ketemu dia di tempat belanja.. saya ngeliat dia kesusahan bawa barang belanja nya. Abis itu—“

“Saya mau ke intinya langsung. Bisa?!”

“Yang waktu itu Joshua ijin ke kamu buat nginep, dia tidur sama saya. Dia bilang, dia nyaman sama saya. Dia kangen diperlakuin kayak gini sama kamu. Dia kangen diperhatiin lagi, di sentuh lagi. Tapi, kamu sibuk kerja, sibuk nyalahin dia terus! Jadinya dia dapat kenikmatan sama saya malam itu. Dan besok nya, saya ngajak dia nge mall.. tetapi, malamnya saya diputusin.”

Setelah mendengar penjelasan Eden, Dokyeom terdiam sejenak. Rupanya Joshua selingkuh karna kesalahan diri nya juga. Ia saat ini memang lagi sibuk meeting di kantor dengan klien. Dan soal ia menyalahkan Joshua itu juga benar.

“Iya. Kamu diputusin sama dia, karena anak saya yang ngeliat kalian pelukan di mall. Baik, terimakasih karna sudah menjelaskan semuanya. Saya harap, kamu bisa menemukan pasangan yang lebih baik dibanding kan Joshua!” Dokyeom pergi meninggalkan Eden sendirian. Ia kembali menuju kerumah sakit untuk menjenguk Joshua dan juga anaknya yang masih terlelap di ruangan itu.

Dokyeom kembali tiba di Rumah Sakit. Ia melihat sang anak yang masih tertidur pulas, sedangkan Joshua sibuk membaca novel. “Josh.. aku udah denger semua penjelasan Eden. Jadi, keluarga yang kamu mau, kayak gimana, Josh? Aku wujudin semuanya. Kamu mau aku perhatian lagi? Aku wujudin. Kamu mau di sentuh sama aku? Aku wujudin, Josh. Asal kamu berubah, dan minta maaf sama anak-anak.” Ucap Dokyeom.

“Mas, gak cuma aku, Tapi kamu juga! Kamu juga salah mas.. Kamu jangan nyembunyiin kesalahan kamu yang dulu-dulu. Yang kamu selingkuh sama Woozi pas aku hamil Hee, kamu nyalahin aku waktu aku keguguran, kamu nyalahin aku karna ngeizinin abang kerkom. Mas, kamu tau kan, kalo abang waktu pertama kali masuk rs karna ngelindungin aku? Kamu tau kan?! Tapi kenapa kamu bilang nya aku ngeizinin abang boong? Aku capek mas di salahin terus sama kamu. Iya aku tau kamu sekarang udah berubah, tapi kamu gamau ngakuin kesalahan kamu sama anak kandung kamu sendiri, mas! Aku mau kita balik, tapi setelah kita sama-sama ngakuin kesalahan sama Hee. Enchae di titip ke Wonu dulu. Dan kamu, harus balikin nama baik aku sama Wonwoo.”

Hee yang terbangun karna suara berisik dari kamar itu, ia memejamkan matanya. “Ada apaansi? Teriak-teriak segala.” Ucap Hee.

“Hee, kamu dengerin kesalahan Ayah kamu ini!” Kata Joshua.

“Bang, maafin Ayah, yaa.. Ayah selama ini nutupin semua kesalahan Ayah sama abang.. Ayah juga pernah selingkuh waktu kamu masih di dalam perut papih. Terus papih kamu pergi ke LA nemuin temen nya, bawa-bawa kamu di dalam perut sendirian, Hee.. Maafin Ayah, ya? Ayah juga sering nyalahin papih kamu, padahal papih kamu gangapa-ngapain.. Waktu papih keguguran, Ayah juga nyalahin papih. Ayah minta maaf, Hee..” Dokyeom berlutut kepada sang anak, “Yah, bangun..Hee maafin ayah. Tapi dengan satu syarat, Ayah gaboleh ngulangin kesalahan ayah lagi.” Dokyeom mengangguk.

“Abang.. maafin papih juga, ya sayang.. maafin papih karna udah bikin kamu trauma.. maafin papih.. papih janji, papih gabakal bikin kamu trauma, sedih lagi. Papih janji, sayang.. papih sama Ayah bakal jadi yang lebih baik lagi buat abang sama adek.” Heeseung memeluk tubuh Joshua tanpa mengucapkan satu kata pun.

Kini, keluarga mereka kembali adem seperti dulu..

Joshua mengikuti langkah kaki suami nya yang naik ke atas kamar mereka. “Tutup!” Ketus Dokyeom. Joshua menuruti perkataan sang suami, “udah mas..” ucap Joshua.

“Sini duduk di pangkuan mas,” lagi-lagi Joshua menuruti permintaan sang kepala keluarga.

“Anak-anak tuh udah pada gede, Joshua.. masa kita mau berantem terus? Mas udah mulai nyoba berubah loh.. kenapa malah kamu yang gantian kayak gini? Kamu mau mas hukum, ya? Mau nambah anak lagi? Atau emang sengaja biar mas genjot?” Joshua merinding mendengarnya. Ia takut kalo suaminya beneran ngehukum dirinya..

“M-maaf, mas..” Joshua hanya bisa mengucapkan kalimat maaf dan menundukkan wajahnya.

“Hey.. kenapa nangis? Mas cuma nanya aja.. kamu sengaja biar mas hukum, atau gimana? Itu aja, kok.”

“Terserah mas.. disini aku yang salah…” Joshua pasrah kalau malam ini dirinya beneran dihukum oleh suami nya itu.

“Engga malem ini kok di genjotnya.. malem ini mas cuma mau nen aja. Boleh?” Joshua mengangguk. Dirinya segera melepaskan kancing di pajama nya satu persatu. Tetapi, Dokyeom menahan nya.

“Kenapa mas?” Tanya Joshua.

“Kenapa sekarang? Kamu ngebet banget ya nen kamu mas isep?”

“Kirain mas mau sekarang juga.. soalnya muka mas masih marah..”

“Kalo sekarang, nanti Enchae sama abang mgedenger kamu ngedesah, gimana?”

“Hehehe.. maaf ya mas.” Joshua kembali memasang kancing yang sudah terbuka tadi.

“Iya sayang.. mas maafin.” Ucap Dokyeom, “kamu emang gamau tau, Chu, siapa yang udah ngirim foto itu?” Lanjut Dokyeom.

“Emang siapa mas?”

“Enchae. Anak kamu sendiri, Chu..”

“Aku gatau dia ada di cafe itu, mas, semalem..”

“Ya iya gatau, orang kesenengan di senderin Jisoo.”

“Mas ihhh!!”

Joshua tiba dirumahnya, ia terlihat tergesa-gesa menuju ke kamar nya yang berada di lantai 2. Ia takut sang suami beneran marah kepadanya.

“Mas” Joshua membuka pintu kamar itu, benar saja, Dokyeom tidak menjawab panggilan suaminya dan ia sibuk bermain ponsel.

“Mas, maaf.. aku gatau kalo Jisoo tiba-tiba dateng terus ikut nimbrung sama kita.” Joshua memeluk tubuh Dokyeom. Namun yang dipeluk tidak menggubris nya.

“Mandi gih” Akhirnya sang suami berbicara, “iya mas, aku mandi dulu, ya..” Joshua menuju ke kamar mandi.

Setelah selesai mandi, Joshua kembali membujuk sang suami. “Mas, serius ini kamu marah?” Tanya Joshua.

“Engga”

“Terus kenapa jawabnya singkat?”

“Lagi males ngomong aja.” Ketus Dokyeom.

“Mas, aku min—“ belom sempet melanjutkan omongan nya, tiba-tiba Dokyeom membelakangi diri nya, “mass ihh!! Kamu tuh marah mas!” Lanjut Joshua yang sambil menggoyangkan tubuh Dokyeom. Tetapi, suaminya lagi-lagi tidak merespon.

“Aku lagi ngeliat foto suami orang lagi di senderin sama mantannya. Udah gitu dia kayak kesenengan gitu..” Ucap Dokyeom yang sambil melihat foto Joshua bersama Jisoo tadi.

Joshua yang melihatnya, ia terkejut. “Mas, kamu dapet darimana? Itu gakayak yang kamu liat, mas.. aku disitu risih.” Ucap Joshua.

“Emang ini kamu?”

“Mas.. iya itu aku, maaf..”

“Ohh, kirain bukan kamu. Soalnya kayak kesenengan gitu, sih.” Dokyeom menutup layar ponsel nya, dan memejamkan matanya untuk segera tidur.

“Mass.. kok tidur sih?? Ihhh aku beneran minta maaf!!” Tak ada jawaban, Joshua membalikan tubuh Dokyeom untuk menghadap diri nya. Kini kedua wajah mereka berdeketan, dan hidung mereka berdeketan hingga tak ada jarak.

Cup

Diciumnya bibir Dokyeom, “mass bangun!!” Masih tak ada respon dari suami nya, Joshua pasrah. Joshua pasrah dengan diri nya yang bakal di ambekin sama sang suami hari esok.

Dokyeom tiba dirumah setelah menyelesaikan meeting dengan klien di kantor. Ia membawakan makanan kesukaan Heeseung dan juga Joshua.

“Ayah pulang~” ucap Dokyeom yang berjalan ke arah mereka sambil menenteng makanan. “Ini buat Heeseung dan juga suami ayah yang paling cantik.” Lanjutnya.

“Ini buat aku? Terima kasih, ya, kamu.” Kata Heeseung yang langsung mengambil makanan nya.

“Andai Ayah ada disini, pasti aku seneng banget diperhatikan sama ayah kayak gini..” Dokyeom hanya bisa tersenyum. Sedangkan Joshua mengelus pundak Dokyeom, “gapapa, mas. Berarti Heeseung mau lebih diperhatiin lagi sama kita.” Ucap Joshua dan dibalas anggukan.

“Ayah naik ke atas dulu, yaa! Mau bebersih, soalnya abis meeting.” Dokyeom pergi ke atas untuk membersihkan diri nya sehabis pulang kantor.

“Papih.. ayah kayaknya beneran udah berubah, ya? Ayah kayaknya beneran nyesel.. Hee gatega..”

“Kamu mau udahin ini semua, Hee?” Heeseung mengangguk. “Yauda, kamu nanti keatas bawain makanan buat ayah, ya! Bilang aja ini makanan buat ayah.” Heeseung kembali mengangguk.

Tok tok tok

Heeseung mengetuk pintu kamar sang ayah untuk memberi makanan yang tadi sudah disuruh oleh papih nya. Dirasa tak ada jawaban, Hee langsung membuka pintu kamar itu.

“Ayah?” Dokyeom tertidur dengan keadaan bibir yang sudah pucat. “Ayah kenapa?” Heeseung menaruh makanan terlebih dahulu di meja, dan mulai memeriksa keadaan sang ayah.

Panas

Tubuh Dokyeom semuanya panas. Heeseung yang panik, ia segera keluar dan memanggil papihnya. “PAPIH!!” Joshua yang mendengar, langsung naik keatas.

“Ada apa abang..” Heeseung menarik tangan Joshua untuk segera menuju kedalam kamar. “Papih pegang jidat ayah deh” Joshua menuruti permintaan anak nya itu.

“Astaga.. ayah kamu panas tinggi, Hee. Tolong ambilkan kompres buat ayah kamu, Hee..” Heeseung menurut. Diri nya langsung turun dan mengambil yang disuruh papihnya.

“Pasti kamu kecapekan ya, mas? Ditambah anak kamu ngerjain kamu.. maaf ya, mas. Ini permintaan Hee buat ngerjain kamu..” Joshua terus memegang tangan Dokyeom yang cukup panas itu.

Heeseung datang dengan membawa baskom dan juga kain untuk menurunkan demam sang ayah, “ini pih” Joshua memeras kain tersebut dan menaruhnya di atas dahi Dokyeom.

“Bang, kamu tidur sama ayah, ya? Papih sama Enchae tidur di kamar kamu. Temenin ayah, biar kalian saling memaafkan.”

“Iyaa, pih.” Joshua turun dan meninggalkan Heeseung bersama Dokyeom.

“Ayah.. maafin Heeseung yaaa.. makasih ayah udah ngakuin kesalahan ayah, dan minta maaf sama Hee. Sekarang, Hee yang minta maaf karna udah ngerjain ayah dengan Hee pura-pura lupa. Maaf, ya ayah.. Heeseung sayang ayah. Hee Janji, Hee gaakan cemburu lagi sama Enchae. Maaf, ayah.. ayah cepet sembuh yaa..” Heeseung memeluk erat Dokyeom yang tengah tertidur dengan badan yang masih cukup panas itu.

Dokyeom tiba dirumah sakit, ia berlari menuju ruangan Heeseung. Diri nya sangat amat menyesal dengan perilakunya waktu itu kepada sang anak. Saat ini, ia ingin meminta maaf dan berlutut kepada putra nya itu.

Dibuka pintu kamar Hee, terlihat ada Joshua, Enchae, dan juga Jake. “Heeseung!! Abang!! Jagoan ayah~” dipeluk erat tubuh jagoan nya itu.. “abang, maafin ayah soal kemarin.. maafin ayah udah main tangan kamu, maafin ayah, ya bang?” Lanjut Dokyeom.

“Maaf.. kamu siapa?” Dokyeom sontak terkejut dengan perkataan yang keluar dari mulut Heeseung.

“Nak.. ini ayah. Ayah Dokyeom..”

“Ayah saya di luar kota. Kamu siapa?” Dokyeom benar-benar kaget, bagaimana bisa anaknya berkata seperti itu.

“Chu, ini Hee kenapa? Kok bisa dia lupa sama aku?” Dokyeom bertanya kepada Joshua.

“Mas.. Hee mengalami amnesia. Bukan cuma sama kamu doang dia gak inget.. tapi sama aku, Enchae, dan juga Jake, mas. Kamu harus berusaha keras buat bikin Hee balik ingatannya dan minta maaf sama dia dengan tulus.” Ucap Joshua.

Heeseung yang mendengar itu, ia tersenyum bangga. Sebab, papihnya itu berhasil mendukung permainan yang ia buat.

“Chu.. mas..mas nyesel, Chu.. mas benar-benar nyesel. Mas minta ampun sama kamu.. mas nyesel Chu udah bikin Heeseung kayak gini. Mas gagal jadi ayah, Chu. Mas, gagal..” Saat ini Dokyeom menangis sambil berlutut di hadapan Joshua. Ia benar-benar minta ampun atas kesalahan dia.

Jake yang melihat, sebenarnya tak tega dengan permainan ini semua.. tapi biar gimanapun, ayah dari teman nya itu harus bertanggung jawab atas kesalahan nya.

“Mas, bangun.. malu ada Jake sama Enchae. Sini peluk aku, mas..” Dokyeom memeluk Joshua dengan erat, melepaskan semua penyesalan nya, dan menangis sejadi-jadi nya. Joshua membiarkan Dokyeom menangis dipelukan nya. Ia membiarkan air mata suami nya membasahi bahu nya.

“Mas, coba deketin lagi Heeseung nya.. minta maaf dengan tulus. Inget, mas, waktu itu kamu nampar Hee. Minta maaf nya yang ikhlas, tulus, dan janji gaakan ngulangi lagi.” Dokyeom mengangguk. Ia menuruti perkataan suami nya itu.

“Heeseung, kenalin saya Dokyeom. Itu suami saya, Joshua. Dan anak kecil itu, anak angkat saya, Enchae. Saya punya anak kandung cowok, hebat, ganteng sekali. Saya bangga sama dia. Tapi, dia dirumah sakit karena saya. Karena saya usir, dan saya tampar. Dia melampiaskan semuanya dengan cara balapan dan mabuk. Saya ingin sekali meminta maaf sama anak saya.. saya menyesal. Saya benar-benar menyesal atas perbuatan saya. Saya siap menerima konsekuensi apapun dari anak saya, yang penting saya di maafkan. Saya akan berusaha menjadi ayah yang lebih baik lagi untuk anak, dan juga suami saya. Kalau boleh, izinkan saya memeluk kamu seperti saya memeluk anak saya yang hebat itu setiap saat.” Heeseung mengangguk.

Dokyeom menangis di pelukan sang anak, “kalo kamu mau manggil saya dengan sebutan ayah, boleh, boleh banget. Atau kalau kamu mau ikut dengan saya kerumah, juga boleh.” Heeseung yang mendengar itu, ia menahan tangisnya.. ia tak mau permainan ini berakhir begitu saja. Kalau bisa, ia mau permainan ini bertahan sampai dua hari.

Joshua yang tak kuat melihat ini semua, ia keluar dengan air mata yang sudah jatuh membasahi pipi nya itu. Jake juga ikut keluar bersama Eunchae untuk menyusul Joshua.

“Papih!” Teriak Enchae

“Papih kenapa nangis? Siapa yang jahatin papih?” Tanya Enchae, “papih gapapa, sayang.. gaada yang jahatin papih. Papih cuma kelilipan.” Saut Joshua.

“Om, kayaknya om Dokyeom beneran nyesel deh.. itu kayaknya suara dari hatinya langsung..” ucap Jake.

“Papih, abang kenapa?” Tanya Enchae kepada sang papih.

“Enchae sayang.. abang lagi bobo.”

“Tapi mulut abang ditutupin begitu, apa abang bisa napas papih?” Pertanyaan demi pertanyaan Enchae lontarkan kepada Joshua. Diri nya pun bingung menjelaskan kepada Enchae tentang keadaan Heeseung yang sedang koma.

“Enchae sayang.. abang bisa napas kok. Sebentar lagi abang bangun buat main sama Eunchae… sabar, ya, sayang..” Joshua mengelus surai rambut anak angkat nya itu.

Kini Joshua duduk di sofa dan Enchae duduk dibawah sambil bermain dengan mainan yang sudah ia bawa dari rumah. “Papih, enchae boleh main papih?” Joshua mengangguk. “Tapi jangan berisik, ya, sayang.. abang lagi bobo” lanjut Joshua dan Enchae memberikan tanda jempol.

Tok tok tok

Joshua tengah terlelap di sofa, sedangkan Enchae masih asik bermain dibawah. Enchae yang mendengar ada suara dari pintu, ia berlari menuju pintu.

“Iya, om? Om nyari siapa? Ini ruangan abang.” Rupanya ini adik angkat nya Heeseung dalam hati Jake.

“Ohh haloo~ om temen nya abang kamu. Om boleh masuk?”

“Tapi ada papih aku lagi bobo, om. Gapapa?”

“Om tunggu luar deh, gaenak sama papih kamu.” Enchae berlari ke arah papihnya, Jake yang terkejut dengan tingkah Enchae, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sebab, saat ini anak kecil itu membangunkan sang papih yang sedang tertidur pulas.

“Papihh bangun.. ada temen abang di luar~ kata temen abang, gaenak soalnya ada papih. Papih bangun…” Enchae terus menggoyangkan tubuh sang papih, agar papih nya itu terbangun.

Setelah merasa ada yang menganggu tidur nya, Joshua pun terbangun. “Ada apa, sayang?” Enchae menunjuk ke arah pintu, “ada temen abang di depan pintu.” Kata Enchae, dan Joshua berjalan menuju pintu.

Joshua melihat Jake tengah duduk untuk menunggu diri nya di persilahkan masuk. “Jake?” Jake yang mendengar, ia segera berdiri, “iya, om” ucap Jake.

“Dari tadi, apa baru Jake? Maaf, yaa.. om ketiduran.”

“Baru, om. Gapapa, om..”

“Yuk, masuk.” Jake dan Joshua memasuki ruangan tempat Hee yang masih nyaman dengan tidur panjang nya itu. Sudah sekitar tiga minggu Heeseung koma, Jake tak bosan-bosan untuk menjenguk teman nya yang mengatakan sayang kepada nya.

“Makasih ya, Jake. Makasih karna sudah jagain Heeseung, udah mau nemenin Heeseung disini tiap hari.” Jake mengangguk, “sama-sama om. Saya lakuin ini karna ikhlas, dan saya.. saya sayang sama Heeseung, om..” Jake menunduk malu setelah berbicara seperti itu.

“Jake kalo mau duduk nemenin Hee, duduk aja yaa.. om sama Enchae di Sofa. Gapapa, kok. Om sekalian nunggu ayahnya Hee dateng..” Jake mengangguk, “makasih om.” Lanjut Jake.

Jake kini duduk di samping Heeseung yang tengah tertidur, kali ini ia yakin kalau Heeseung nya bakal bangun dari koma nya. Di pegang nya tangan Heeseung, Jake tidak perduli kalau ia menjadi tontonan oleh Joshua dan juga Enchae.

“Hee, bangun, yuk.. ada papih kamu, sama adik kamu. Ternyata Enchae lucu juga, yaa.. gemes, kayak kamu kalo lagi salting. Kamu gacapek apa ya tiduran tiga minggu disini? Ayok bangun.. aku kangen, kangen banget. Aku kangen kamu manggil yeyun yeyun.. aku sayang sama kamu, Hee.” Jake tak kuasa menahan air matanya saat ini. Ia membiarkan air matanya turun, ia benar-benar sangat rindu dengan sosok yang saat ini tengah tertidur.

Jake yang masih menangis dengan tangan Heeseung yang berada di tangkupan pipinya, ia merasakan tangan Hee bergerak. “OM!! Tangan Hee gerak, Om.. Hee bangun om!!” Joshua segera mendekat untuk melihat sang anak yang sudah terbangun dari koma nya selama tiga minggu ini.

Jake segera keluar untuk mencari Dokter. “Dok, pasien atas nama Lee Heeseung sadar, Dok.” Dokter yang mendengar itu, langsung bergegas menuju ruangan.

“Maaf, bisa tolong minggir sebentar?” Joshua dan Enchae segera mundur, agar Heeseung segera di periksa.

“Pasien sudah mulai membaik. Tapi, tolong jangan banyak bertanya dulu, yaa.. karena kepala pasien masih belum bisa bekerja dengan baik akibat benturan keras yang terjadi. Saya tinggal dulu.”

“Terimakasih, Dok.” Ucap Joshua.

“Ye-yeyun? Gue ada dimana ini??” Tanya Hee.

“Dirumah sakit, Hee. Waktu itu, lu kecelakaan. Terus koma, dan baru sadar sekarang.” Ucap Jake, “Oh, iya, ini ada papih sama Enchae” lanjut Jake dan mempersilahkan Joshua untuk duduk dan mengobrol bersama anak nya.

“Abang.. maafin papih, yaa.. maafin kalo papih nyuruh-nyuruh kamu waktu itu.. ini Enchae, katanya kangen banget main sama abang..”

“Abang!! Enchae kangen sama abang..” Enchae memeluk erat tubuh Heeseung, melepaskan kerinduan nya. “Ayuk abang kita main lagi.. enchae tidur nya sendiri mulu. Papih sama ayah berduaan di kamar nya.. enchae di kamar abang tidurnya, wangi abang. Enchae kangen” seperti abang sendiri, enchae benar benar merindukan kehadiran Heeseung dirumah.

Jake yang melihat itu, tersenyum. Sepertinya Heeseung mendengarkan perkataan nya waktu itu.

“Abang, ayah katanya mau kesini, mau minta maaf sama abang. Boleh?” Hee menatap Jake, dan yang ditatap mengerti maksud dari pria yang berada di depan nya itu. Jake mengangguk, “boleh. Tapi Hee ada rencana.” Ucap Hee.

“Apa, bang?”

“Kalo Hee pura pura amnesia gimana? Abang mau males dendam sama ayah. Abang mau bikin ayah nyesel, dan minta maaf sama Hee.”

“Abang.. bales dendam itu gabaik. Itu kan ayah kamu, nak..” ucap papih.

“Seminggu doang kok.. yaa pih?” Joshua mengangguk.

“Chat ayah nih?”

“Iyaa”

Joshua mulai mengechat sang suami sesuai permintaan anak nya itu.

Setelah mendapatkan pesan seperti itu dari sang suami, Dokyeom alias Seokmin segera menuju ke kamar anaknya yang berada di lantai bawah. Dokyeom sudah sangat rindu dengan bau tubuh Jisoo yang wangi, apalagi saat ini ia sedang berendam di Bath Tube milik sang anak.

Tok tok tok

Di ketuk pintu kamar Hee, namun rupanya tak ada jawaban. Dirinya langsung membuka pintu kamar itu secara perlahan agar sang anak tidak terbangun. “Chu? Jichu??” Dokyeom berjalan ke arah kamar mandi.

Dibuka pintu kamar mandi, terlihat Jisoo tengah menuangkan sabun cair ke tangannya untuk dibaluri ke tubuhnya. “Chu” panggil Dokyeom. Namun Jisoo terkejut, “ASTAGA! Mas!! Aku kaget!” Ucap Jisoo yang kembali melanjutkan meyabuni tubuhnya, dan Dokyeom segera menutup.

“Mas gerah juga, Chu. Mas ikut mandi, ya?” Tanpa butuh jawaban dari Joshua, Dokyeom segera melepaskan semua pakaian yang menutupi tubuh keker nya itu. Ia langsung berendem di Bath Tube bersama sang suami.

“Mas, nanti kalo Hee bangun gimana?”

“Engga sayang.. tadi aku liat Hee pules tidurnya.”

“Terus sekarang mau apa?” Tanya Jisoo.

Dokyeon mendekatkan wajah nya sampai hidungnya mengenai hidung Joshua. “Mas rindu kamu, chu. Kita main, ya.. mas pelan pelan kok.” Dokyeom langsung melumat secara perlahan bibir sexy Joshua. Dan Joshua membiarkan lidah Dokyeom menjelajahi isi mulut nya.

“Hmmphhh” lenguhan berhasil keluar dari mulut Joshua.

Dokyeom yang mendengarnya, semakin memperdalam ciumannya dan membiarkan saliva mereka saling bertukar. “M-mashh” dirasa oksigen nya sudah abis, Dokyeom melepas tautan ciuman mereka.

“Beneran mau masuk, mas? Aku takut Hee denger deh” Dokyeom bangun dari Bath Tube untuk melihat keadaan anaknya. Dibuka sedikit pintu kamar mandinya, ia mencoba mengintip Heeseung yang ternyata masih tertidur pulas.

“Chu, anaknya masih tidur pules. Mas janji main pelan-pelan.” Chu mengangguk. Dokyeom kembali menutup pintu tersebut dan masuk ke dalam Bath Tube.

“Chu, kamu di atas, ya?” Chu kembali mengangguk dan menuruti perintah suaminya yang ingin dirinya berada di atasnya.

“Pelan-pelan loh, mas..”

“Iya sayang”

Dokyeom mulai memasuki penisnya secara perlahan ke lubang milik suaminya yang sudah basah sedari tadi.

“aaahhhh” Joshua yang sadar bawa desahannya terlalu keras, ia bergerak cepat menutup mulutnya. “Maaf, mas” lanjut Joshua.

“Mas genjot, ya?” Joshua mengangguk.

“Ahh ahh, mashhh~”

“Chu, kamu baru mas genjot sekali aja, udah ngedesah.. keliatan banget kamu yang sange.” Joshua menggaruk kepalanya dan disambung dengan pipinya yang sudah merah akibat malu karna ketauan kalo dirinya juga merindukan tubuh suaminya itu.

“Aku aja yang gerak ya, mas?” Joshua mulai menggoyangkan pinggul rampingnya serta menaik turunkan pantatnya “ngghhhh masshh” Dokyeom sangat menikmati permainan dari suami cantiknya itu, dan memandangi wajah cantik Joshua.

Dokyeom mengikut alur permainan Joshua agar suaminya tidak lelah sendirian. Hentakan demi Hentakan terdengar sangat jelas di dalam kamar mandi milik anaknya itu.

“Ahh ahh massshh ahh”

“Pelan pelan mass.. ssshhhh aahhh”

Desahan demi desahan telah keluar dari mulut Joshua, “cantik chu, kamu cantik banget malem ini arghhh~ mas mau keluar chuu~” ucap Dokyeom.

Joshua tiba-tiba bangun dan memegang penis Dokyeom untuk diarahkan ke dalam mulutnya. “Kamu mau ngapain, Chu?” Tanya Dokyeom.

“Keluarin semua di dalam mulut aku mas.” Dokyeom segera mengeluarkan cairan spermanya ke dalam mulut suaminya itu dan dibantu dengan tangan cantik milik Joshua.

“Lanjut di kamar aja yuk? Takut Hee denger..” ucap Dokyeom dan dibalas anggukan oleh Joshua. “Iyaa.. tapi mas mau lanjut ngapain?” Tanya Joshua.

“Nen.. tadi mas gasempet nenen sama kamu.”

“Yauda, ayok cepet make baju”

Selesai mereka berdua memakai baju, Dokyeom membuka pintu dan dikejutkan dengan sang anak yang sudah berdiri di hadapannya.

“ASTAGA! LEE HEESEUNG!

Heeseung yang juga kaget kenapa tiba-tiba ayahnya bisa berada di kamar mandi miliknya, “ayah ngapain di si—“ Hee juga melihat papihnya yang sudah terlihat lemas di dalam kamar mandi nya, “papih?” Joshua dan Dokyeom segera menuju ke atas tempat kamar mereka tidur.

Ayah, papih keluar barengan dari kamar mandi Hee, ngapain ya? Terus muka papih kayak lemes gitu.. tapi ayah mukanya ngeliat Hee kayak orang abis keciduk nyuri perhiasan. Aneh~

Mank eak

Daniel langsung menancapkan gas untuk menuju ke tempat Zara berada. Dirinya sangat frustasi setelah melihat kembali isi room chat ia dan Zara. Zara sepertinya begitu terlihat sudah sangat mabuk, sampai-sampai mengetik saja sudah sangat ngaco.

“Beneran sinting, gue harus ngomong apa sama tante Karin?” Ucapnya sambil mengusak ngusak rambut didalam mobil.


Tak butuh waktu lama, Daniel tiba di tempat club malam itu. Ia langsung masuk kedalam mencari Zara didalam.

Ia melihat dari kejauhan Zara sedang menunduk, dirinya langsung menghampiri Zara, “baguss malah mabuk disini” Zara hanya memandang Daniel sekilas dan melanjutkan menundukkan kepala.

“Ra?” Panggil Daniel.

“Ra?” Tak ada jawaban sama sekali dari wanita yang ada didepannya itu.

“Ra?” Tetep tidak ada jawaban. Mau tak mau, Daniel harus menggendong Zara untuk segera keluar dari tempat itu. “Nyusahin, untung gue sayang.” Katanya.

Daniel langsung menidurkan Zara di kursi belakang, ia membiarkan Zara terlelap dalam tidurnya sampai tiba di appartement miliknya. “Love you, Ra.” Ucapnya sambil mencium kening milik Zara itu.


Tiba di Appart, Daniel langsung meletakan Zara di kasur besar miliknya. Ia menelpon teman perempuannya untuk meminta bantuan menggantikan pakaian milik Zara. Karna kalau tidak, ia bisa dituduh mabuk oleh om Gerald.

Pov Daniel dan Lula

“La, bantuin gue dong”

”bantuin apaan?”

”Gantiin baju cewek di kamar appart gue sekarang”

”bentar, bentar… gimana? Lu bawa cewek ke kamar? Ngapain anjing?!”

”nanti gue ceritain kalo lo udah kesini.” katanya Daniel yang langsung ditutup telponnya oleh Lula.


*tok

*tok

*tok

“Masuk, La” Lula pun memasuki appartement Daniel. Benar saja ia melihat ada sosok wanita sedang tertidur pulas dikasur milik temannya itu. “Gue harus apa terusnya?” Tanya Lula.

“Gantiin baju dia, ambil baju gue dilemari, terus pakein ke dia. Gue mau masak bentar” Lula pun mengangguk, ia menuju lemari Daniel untuk mengambil baju.

Lula pun langsung menggantikan baju Zara. “Pinter juga ni Daniel milih cewek” kata Lula. “Cakep lagi, buset dah…” lanjutnya.

“LULAA, UDAH BELOM??” Teriak Daniel dari dapur.

“Udahhh, lo dimana?” Tanya Lula balik pada Daniel.

“Dapur, sini makan.” Lula pun menuju ke dapur tempat Daniel berada.

“Oh, iya, lo katanya mau cerita dia siapa” Daniel menghentikan makannya dan mulai bercerita.

“Oke. Gue cerita sekarang.” Lula yang sudah siap sedari tadi, ia langsung mendekatkan wajahnya agar bisa mendengarkan lebih jelas.

“Jadi gini… gue sama cewek itu, oh iya gue belom kenalin namanya. Dia namanya Zara. Gue dijodohin sama dia, gatau karna apa, tapi gue nurut aja.” Lula menepuk bahu Daniel, “bagus, ini baru temen gue.” Memang. Lula dan Daniel sudah berteman cukup lama, namun, diantara mereka tidak ada saling suka, mereka berdua benar-benar sudah seperti kakak beradik. Sangat dekat, namun tidak pacaran.

“Lanjut, lanjut” kata Lula yang menyuruh Daniel untuk melanjutkan ceritanya itu.

“Iya gue dijodohin, gue mau, dia mau. Tapi ada syarat,” Lula penasaran apakah syaratnya itu? “Apa?” Tanya Lula. “Syaratnya, gue gaboleh ngepublish tentang perjodohan ini, gue sama dia satu kampus. Dia adik tingkat gue. Jadi, dia minta gue gak ngasih tau ke siapapun itu sebelum dia duluan ngasih tau.” Lanjut Daniel.

“Terus?”

“Udah.” Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari kamar, Daniel langsung menuju kekamar, “kenapa sih?” Tanya Daniel pada Zara yang menutupi badannya dengan selimut.

“MONYETTT, LO KAN YANG GANTIIN GUE BAJU?! NGAKU?!! NGAMBIL KESEMPATAN DALAM KESEMPITAN!” Daniel berhasil kena timpuk bantal dari Zara.

“Bukan gue yang gantiin, tapi Lula.” Lula? Siapa Lula? “Siapa Lula?” Merasa namanya dipanggil, Lula menyusul Daniel kekamarnya. “Gue Lula. Halo, salam kenal.” Lula menjulurkan tangan terlebih dahulu.

“H-halo… gue Zara,” Zara membalas.

“Gue temennya Daniel, jadi lo jangan cemburu yaa. Tenang aja, gue gaakan rebut dia dari lo.” Ucap Lula.

“Eh.. lo udah tau?” Lula mengangguk. “Tenang aja, gue gaakan ngasih tau siapapun.” Zara tersenyum.