qianwoole11xd

Setelah Zara selesai memakai pakaian, ia segera turun untuk bertemu dengan Daniel, Daniel itu.

“Nah ni anaknya. Dek, salim dulu sama om Gerald.” Zara pun salim kepada Gerald orang tua dari Daniel. “Nah ini Daniel, Dek.” Zara hanya melihatnya dengan tatapan sinis. Namun yang ditatap justru tersenyum.

manis ucap Zara dalam hati.

“Jadi gimana mas, jadi kita jodohin anak kita?” Zara dan Daniel sama sama kaget mendengar ucapan Kiran itu. “Mamah, apaansi? Siapa yang mau dijodohin?” Tanya Zara dengan tegas.

“Ya kamu. Kan anak mamah cuma kamu, Dek.” Benar saja firasat Zara sebelumnya bahwa dirinya akan dijodohkan. Bukan dengan om-om, melainkan dengan Daniel kakak tingkat dia di kampus.

“Nak Daniel setuju?” Tanya Kiran pada Daniel.

“Zara setuju, saya setuju, tan.” Ucapnya.

“Zara gimana?” Zara yang sedang minum langsung tersedak begitu saja. “Pelan-pelan dek kalo minum,” kata Kiran yang sambil mengusap punggung putrinya.

“Tadi mamah nanya apa?” Kiran menghela napasnya mencoba untuk menjelaskan kembali. “Kata Daniel, Daniel setuju kalo kamu setuju. Kamu setuju apa enggak?” Kini gantian Zara yang menghela napas, “alasan mamah, dan om untuk jodohin kita berdua apa?” Mereka berdua saling tatap-tatapan, seakan mereka tak ada jawaban untuk menjawab pertanyaan dari Zara.

“Om mau Daniel ada yang ngatur. Karna om sendiri sibuk dengan kerjaan yang ada di kantor,” alasan yang gabisa Zara pahamin namun ia hanya mengangguk. “Kalo mamah?” Tanya Zara pada Kiran, “kalo mamah… ya mamah mau Daniel bisa ngawasin kamu. Lagi juga mamah udah tua, Dek, kamu gak kasian sama mamah?” Zara hanya bisa menunduk diam, “oke Zara setuju.” Ucapnya. “Tapi ada satu syarat, Daniel harus jaga rahasia perjodohan ini sebelum aku yang bongkar.” Lanjutnya.

“Gimana Daniel?” Tanya Gerald pada sang anak. Daniel mengangguk menyatakan bahwa dirinya setuju dengan persyaratan yang Zara kasih.

“Yasudah Ran, saya sama anak saya pamit pulang dulu. Terima kasih nak Zara sudah menerima perjodohan ini,” Zara bangun dari kursinya untuk salim dengan Gerald, “sama-sama om. Hati-hati, ya…” Gerald dan Daniel meninggalkan rumah mereka.

“Nyusul Harkan dirumah David,” ucap Nathan, yang dibalas anggukan oleh Hardin.

Hardin segera berlari menuju rumah David untuk menyusul Harkan. “Nyalain lilinnya dulu, kan?” Harkan mengangguk. “Lu gaada rencana buat bikin Pelin kesel atau apa gitu?” Harkan hanya menggelengkan kepalanya. “Baru kali ini surprisein pacar tanpa adanya prank prank’an.” Harkan hanya menatap Hardin sinis dan langsung kembali fokus pada kue yang ia bawa.

“Jalannya pelan-pelan, aja.” Suruh Hardin.

Hardin melihat sosok Nathan dari kejauhan. Untungnya Nathan orang yang gampang peka, jadi, dirinya langsung mengisyaratkan abangnya untuk menutup kedua mata Pelin dengan tangannya. “Ini ada apasih bang?” Tanya Pelin, “nanti kamu juga tau.” Pelin menghela napas, ia hanya menuruti perkataan abangnya tadi.

Hardin, dan Harkan mulai memasuki halaman rumah, yang sudah dipenuhi oleh teman-teman baru Pelin. “Nanti kalo udah hitungan ke tiga, kamu buka mata, ya?” Pelin mengangguk.

1

2

3

Tepat dihitungan ketiga, Pelin membuka matanya, ia terkejut melihat kehadiran sosok yang sangat dirindukan olehnya. Harkan. Orang yang selama ini ia rindukan, semenjak dirinya pindah ke London.

“H-Harkan? Ini kamu?” Pelin menangkup wajah Harkan dengan kedua tangannya, untuk memastikan apakah dirinya sedang mimpi, atau tidak.

“Iya ini aku. Selamat ulang tahun wanita yang sangat sangat aku cintai. Semoga diumur kamu yang sekarang ini, kamu makin bahagia. I love you, Lin.” Tanpa aba-aba, Pelin langsung memeluk tubuh Harkan dan menangis terharu. “Thank you, thank you so much, Har. Makasih udah wujudin keinginan aku ngerayain ulang tahun sama pacar.” Harkan mengusap rambut Pelin secara gemas “gemess” kata Harkan yang berhasil membuat wajah Pelin memerah.

Namun, ada satu orang yang sedang Pelin tunggu. Yaitu, Papahnya. Papahnya belum juga datang. *Apa papah benar-benar lembur dan tidak datang ke acara ulang tahun aku?” Ucapnya dalam hati.

Tak lama kemudian terdengar suara klakson dari depan pagar rumahnya, “bang itu siapa?” Tanya Pelin pada Nathan. “Coba kamu lihat sendiri.” Pelin melangkahkan kakinya menuju depan pagar.

Pelin melihat di depannya terdapat mobil mewah impiannya dari kecil, namun, siapa yang ada di dalamnya? Tak lama, kaca mobil pun terbuka, seseorang memakai kacamata hitam, berjas rapih, nampak seperti papahnya. Laki-laki itu bersiul pada Pelin “neng diem aja, gamau deketin abang ni?” Dengan langkah yang berat, Pelin memberanikan diri untuk mendekati laki-laki itu, “bukain kacamata abang dong” Pelin pun nurut, belum semuanya dibuka, dirinya kaget bahwa laki-laki itu adalah papahnya.

“Ih papah, Pelin udah takut tau… papah beli mobil baru? Mobil papah mana?”

“Loh kata siapa ini mobil papah? Orang ini mobil kamu kok. Mobil papah tuh dibelakang rumah, udah papah taro di garasi.” Pelin langsung memeluk tubuh sang papah, “makasih banyak pah. Maaf Pelin belum bisa jadi putri terbaik buat papah. Tapi Pelin janji, Pelin janji akan bahagain papah.” Yang di peluk hanya bisa tersenyum. “Ohiya, pah, ada Harkan datang kesini” lanjutnya.

“Papah tau, orang ini rencana dia kok untuk merahasiakan semuanya dari kamu.” Pelin tak habis pikir, bisa-bisanya Harkan merencanakan semuanya. Tapi, Pelin benar benar bahagia pada malam itu. Pelin menghabiskan waktu bersama keluarga, sahabat, dan juga sang kekasih.

-END

Harkan, dan Nathan kini sedang berada di toko kue ulang tahun. “Nat, beliin yang mana, ya? Masalahnya, kuenya cantik-cantik anjir …” ucap Harkan yang bingung memilih kue untuk sang pacar.

“Itu aja yang ungu, yang ada kupu-kupunya,” Harkan pun menyadari bahwa Pelin menamai kontak di hapenya Har memakai emot kupu-kupu. “Yaudah bang, itu aja.” Nathan pun segera memanggil karyawan kue itu.

“ Just one?” Dua-duanya mengangguk, “ Come with me to the cash register.”

Nathan, dan Harkan pun menuju kekasir untuk membayar kue tersebut. “ So how much is it?” tanya Harkan, “ Two hundred thousand” kata penjaga kasirnya, kemudian Harkan mengeluarkan duit 200 ribu untuk membayarnya.

Selesai membayar, mereka berdua segera menuju ke rumah tetangganya Nathan untuk menitipkan kue.

“Terus gue?” Tanya Harkan.

“Lu tunggu disitu sampe gue telpon” Harkan mengangguk paham.

Asha tiba di Rumah Sakit bersama dengan Diffa, “Sha, gue gapapa ikut masuk? Gaenak sama Jaeden..” Kata Diffa yang menahana dirinya di depan lift.

“Gapapa, ada gue. Ayok” Diffa menghela napasnya, mengikuti kemauan temannya ini. Ia tahu kalau permintaan Asha tidak dituruti, Asha akan tetap memaksanya.

Mereka berdua tiba di depan pintu kamar dimana El dirawat. Sebelum Asha membuka pintu, Eden sudah lebih dulu membukakan pintunya. Betapa terkejutnya dirinya melihat ada Diffa berdiri di samping Asha.

“Dif, ayok masuk” namun lengan Diffa ditahan oleh Eden. “Eden, lepasin!” Minta Asha, namun Eden enggan untuk melepaskannya.

“Aku mau bicara sebentar sama Diffa, boleh?”

“Bicara apa?” Asha curiga, apa yang ingin suaminya bicarakan kepada temannya itu.

“Sebentar doang”

“Jangan ada keributan, ini rumah sakit. Kalo ampe ada keributan, aku gaakan maafin kamu, Den.” Tegas Asha yang dibalas anggukan Jaeden.

Lalu mereka berdua pergi ke taman rumah sakit yang berada di belakang. “Gue mau bicara sama lo” ucap Eden dengan keras.

“Silahkan”

“Berani-beraninya lo nginep berdua doang sama istri orang!” Emosinya sudah benar-benar diujung tanduk, namun ia berusaha keras agar tidak terjadi keributan. Dirinya ingat dengan perkataan Asha tadi * Kalo ampe ada keributan, aku gaakan maafin kamu, Den.* itu yang ada di kepala Jaeden saat ini.

“Berani-beraninya ngehamilin perempuan lain, padahal udah punya istri” entah keberanian darimana Diffa mengatakan hal seperti itu.

“Jaga mulut kamu! Saya gak pernah selingkuh apalagi sampe ngehamilin. Saya di jebak. Dia menjebak saya, dia sudah nipu kita semua.” Tegas Eden.

“Oh, iya? Ada bukti?”

Jaeden diam disaat Diffa memintanya bukti. “Kenapa diem? Gapunya? Atau emang beneran ngehamilin?” Lagi, dan lagi Jaeden dibuat emosi dengan perkataan Diffa. Namun, ia juga masih mengingat perkataan istrinya.

“Sekarang mau kamu apa?” Tanya Eden pada Diffa.

“Saya gamau apa-apa, saya cuma mau anda pilih, Asha atau sekretaris anda itu.” Lalu Diffa meninggalkan Eden tanpa mendengarkan jawaban Eden terlebih dahulu.

Nathan yang sudah sampai di Bandara setelah sebelumnya sempat mampir ke supermarket, ia langsung menelfon Harkan.

Haloo

Appan

Gue udah sampe, lu dimana? tanya Nathan yang sembari celingak-celinguk mencari keberadaan Harkan.

Oh, bentar, gue masih ngambil koper, lu dimana?

Di depan. Nanti gue foto aja.

Harkan langsung mematikan teleponnya terlebih dahulu dan segera mengambil koper yang sudah ada di depan matanya.

Notif pun muncul, bahwa Nathan sudah mengirimnya gambar keberadaan dirinya berada.

Harkan pun segera menuju lokasi sesuai gambar yang dikirim oleh Nathan. Sebelumnya, Harkan juga sempat pernah ke London waktu usianya sekitar 13 tahun. Harkan mempunyai ingatan yang sangat kuat, jadi, sangat mudah untuk Harkan menemukan keberadaan seseorang yang sekarang sedang menunggunya.

Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka berdua pun bertemu. “Gila-gila perjuangan lo perlu gue apresiasi,” ucap Nathan. “Hahaha, gue gak mau di bilang bercanda soalnya.” kata Harkan sambil tertawa ringan.

“Yaudah masukin koper lo di bagasi, terus kita ke hotel. Besok pagi gue kesini sendiri.” Harkan mengangguk.


Mereka berdua tiba di Hotel tempat dimana Harkan akan menginap, Nathan membantunya membawa barang-barang yang ia bawa, “makasih kakak ipar” ledek Harkan. Nathan hanya tersenyum.

“Udah sampe, gue mau pulang. Jangan lupa pintu dikunci. Kalo ada yang ngetuk pintu, lo intip dulu, jangan asal dibukain.” Lagi, lagi Harkan mengangguk, “siapp! Dadahh” Nathan pun mulai meninggalkan Harknan seorang diri di kamarnya.

“Capek juga, apa gue diemin Pelin sampe besok, ya? Tapi kasian juga… bales singkat aja deh, nanti gue minta bantuan Justin juga.” Batin Harkan.

“Har, papah udah pulang, sekarang lagi dalam perjalanan kerumah. Kamu nanti pulang aja, ya? Aku takut nanti papah marah … “ Bukan menjawab, justru Harkan mengacak-ngacak rambut Pelin, “gemes banget” ucap Harkan. “Emang papah marah kenapa?” lanjut Harkan.

“Ya marah karna aku pacaran lah” sahut Pelin, namun Harkan malah tertawa.

“Kamu ini, ya tinggal ngomong aja, “saya sayang sama anak bapak, saya janji gaakan nyakitin Pelin.” Gampangkan?” Timpalnya.

Pelin benar-benar tidak tahu harus menyembunyikan wajahnya yang merah akibat gombalan maut dari sang pacar ini dimana, “kamu salting, ya?” Tanya Harkan yang sudah tau lebih dulu. “Apasih” jawab Pelin.


Pelin, dan Harkan tiba dirumah, dan mereka langsung disambut dengan kehadiran lelaki berusia 40 tahun itu. Lelaki itu ialah papah dari Evelyn Angelo.

“Kamu abis darimana Lin?” Tanya papah.

“Nyari karton pah buat tugas … “ Ia terpaksa berbohong, karna dirinya takut kalo sang papah tau ia pacaran dengan seorang lelaki yang kini berada disampingnya. Nanti bisa-bisa papahnya marah.

“Boong, dia pacaran sama Harkan” teriak Hardin dari belakang dapur.

“Boong pah. Pelin gapac—“ omongan Pelin berhasil dipotong oleh Harkan, “benar, om. Saya pacarnya. Nama saya Harkan Alister, saya punya abang 2, dan kembaran.” Harkan mengulurkan tangannya dan dibalas oleh Surya.

“Tuhkan Pelin udah berani bohong sama papah” kata Surya, yang sambil tertawa melihat anaknya yang kini sedang menundukkan kepalanya.

“Maaf pah … “ Ucap Pelin.

“Pelin, lihat papah,” pinta Surya, “Pelin gapapa pacaran, tapi jangan sampai ngecewain papah, dan juga abang kamu ini. Papah liat Harkan baik kok, jadi gamungkin dong dia nyakitin kamu nantinya, ya kan bang?” Ke empat abangnya itu mengangguk.

“Jadi maksud papah, papah ngerestuin hubunga kita?” Surya mengangguk, “dengan satu syarat” Pelin yang penasaran memajukan sedikit kepalanya.

“Apa pah?”

“Jangan macem-macem.”

“Siapp, pah!” Seru Pelin yang langsung memeluk Surya begitu saja. “Makasih pah” Surya sangat senang melihat putri nya senang, dan sudah tumbuh dewasa seperti saat ini. Sebelumnya, Pelin memang jarang senyum, malah bisa dibilang gapernah senyum.

Semenjak mamahnya meninggal karna lahirin Pelin, Pelin sangat merasa menyesal dan bersalah, sama papah dan ke-empat abangnya. Karna dirinya, abang-abangnya jadi kehilangan kasih sayang seorang ibu.

Jaeden, dan Amel meninggalkan Apartemennya untuk pergi ke sebuah cafe yang berada di Jalan Juanda. “Den, kamu ada masalah, ya?” Jaeden tak menjawabnya, ia hanya fokus menyetir mobil.

“Den, aku gak nyangka kamu bakal nemenin aku ke Cafe. Aku seneng deh.” Lagi, dan lagi Jaeden tidak menjawab.

Dengan keberaniannya, Amel menanyakan harus sampai kapan mereka berdua berpura-pura seperti ini. “Kapan mau ninggalin Asha?” Jaeden yang mendengar perkataan itu langsung mengerem secara mendadak. “Aduh. Kenapa sih? Kamu mau ya, aku keguguran?” Bentak Amel.

“Lo gila? Gue udah pernah bilang kalo gue gaakan ninggalin keluarga gue. Lagian bayik yang ada di dalam kandungan lo itu bukan bayik gue. Jadi lo jangan seenaknya nyuruh gue buat ninggalin Asha.” Jaeden benar-benar tak habis pikir dengan Amel. Amel kini hanya bisa diam, dan menunduk.

“Sorry gue kelewatan. Tapi gue beneran gabisa ninggalin keluarga gue.” Ucap Jaeden yang kembali melanjutkan perjalanan.


Tak lama, Jaeden dan Amel tiba di cafe tersebut. Mereka berdua mencari tempat duduk. Tanpa mereka sadari, ada seorang lelaki yang terus memandangi mereka dari jauh. Yaitu El.

El terus saja memperhatikan kemana arah mereka berdua akan duduk. Dengan tangan yang sudah dikepalnya, ia mencoba menahan amarah yang kini hampir meledak.

Rinjani yang melihat El seperti sedang menahan amarahnya, ia langsung mencoba menenangkannya walaupun ia sendiri tak tahu apa yang menyebabkan El seperti ini.

“Tenang dulu. Kamu kenapa?” El tak mendengar Rinjani berbicara, ia terus fokus dengan Jaeden yang kini duduk di kursi pojok itu.

Amel yang ingin memanggil barista yang ada di cafe itu, ia seperti melihat El dari jauh. Namun, ia tak memberi tahu Jaeden. Justru dirinya sengaja mendekati Jaeden.

“Den, soal tadi aku minta maaf ya … “ Amel menyenderkan kepalanya di pundak Jaeden. Hal itu berhasil membuat emosi El meledak.

El langsung bangun dan menghampiri kursi Jaeden. “Gaketemu gue, jadinya ngedate sama jalang ini? HAHAHA.” Jaeden kaget dengan kehadiran El, bagaimana bisa El tau kalau dirinya sedang berada disini bersama Amel?

“Kamu kok bisa ada disini?” Tanya Jaeden.

“Seharusnya saya yang nanya kepada anda. Kenapa anda bisa ada disini dengan wanita sialan ini?” El menunjuk ke arah Amel.

“Enak aja anda bilang saya wanita sialan. Jaga mulut kamu.” Amel kini turut berdiri dari kursinya setelah dirinya dibilang Wanita sialan oleh El.

“Anda diem dulu, bisa?” Pinta El.

“Tolong jelasin ini semua bapak Jaeden yang terhormat.” Kini emosi El benar-benar sudah berada diujung tanduk. Rinjani yang melihatnya langsung berlari kearah mereka.

“El, tadi papah kerumah, terus kata mamah kamu, kamu pergi. Jadi papah—“ belom sempat melanjutkan perkataannya, El langsung membalasnya. “Jadi papah dateng kesini sama dia? Iya?! Hahaha. Puncak komedi banget.” Celetuk El.

Jaeden hanya diam. Dirinya tau kalau sang anak memang keras kepala. Ia tak mau mencari ribut di tengah keramaian. “Kenapa diem?” Kata El.

“Udah yuk mas, kita pergi dari sini.” Pinta Amel yang mengajak Jaeden untuk segera keluar dari cafe ini.

“Mau kemana? Ohh mau ke apartemennya ya? Mau berduaan ya? Iya?”

PLAK

Satu tamparan berhasil mendarat di pipi El. “Jaga mulut kamu, El. Kamu Gaada bedanya sama mamah kamu.” Hari itu juga El benar-benar benci sama papahnya. El memegangi pipinya dengan tangannya. Ia mengambil tas dan meninggalkan cafe itu dan menghiraukan Rinjani.

“INGET PESAN GUE, LO BERDUA GAAKAN BAHAGIA!” Dari arah kiri, sebuah mobil melaju kencang.

“EL AWAS!!” Teriak Rinjani. Namun, tabrakan tak bisa dihindari. El terpental, dan semua orang keluar untuk melihat kejadian tersebut.

Jaeden langsung berlari ke tempat El terpental. Ia benar-benar menyesel akan perbuatannya tadi.

“El, bangun El … maafin papah … El”

Rakry yang sudah dipenuhi rasa penyesalan, ia ingin menjenguk Harkan kembali. Pada pukul 7 malam, Rakry pun langsung menuju kerumah sakit tempat Harkan dirawat.

“Har, gue dateng. Gue dateng buat jenguk lo lagi. Ya, walau waktunya gak tepat.” Ungkap Rakry sambil menyetir mobilnya.


Tak lama, Rakry pun tiba dirumah sakit. “Misi mas, mau kemana, ya?” Tanya pak Satpam. Rakry pun bingung harus menjawab apa. Ia hanya diam.

“Mas?” Lagi, dan lagi satpam itu bertanya. “Ehhh iya pak … mau ke ruangan sodara saya pak.” Kata Rakry yang sedang berbohong.

“Tapi mas, jam segini udah gak boleh besuk … “

“Saya udah janji sama mamah saya kok, pak.”

“Kalau gitu, mas boleh masuk.”

“Terima kasih, pak.” Rakry pun segera masuk, dan menuju ruangan Harkan dirawat.

Sebelum itu, ia sempat mengintip dibalik tembok terlebih dahulu apakah disana ada abang, abangnya Harkan atau tidak. “Semoga gak ada.” harap Rakry.

Dan benar saja. Di depan pintu kamar Harkan kosong. Rakry segera mendekati kamar itu. Ia melihat keadaan Harkan yang terbaring lemas dengan alat-alat dari rumah sakit itu dari luar pintu.

“Har … maafin gue …” Rakry benar-benar hancur. Ia hancur melihat temannya koma seperti ini karna dirinya.

“Andai aja gue gak nurutin permintaan Mahen untuk bikin rem lo blong. Mungkin lo sekarang gak ada disini.” Tiba-tiba air mata Rakry keluar begitu saja. Dan disitulah Jaeden menepuk bahu Rakry.

“Woi!” Rakry terkejut dengan kehadiran Jaeden.

Rakry segera menghapus air matanya itu agar Jaeden tidak curiga. “Bikin kaget gue aja” kata Rakry.

“Ya, lo habisnya ngintip-ngintip kayak maling, hahaha.” Ungkap Jaeden. “Lo sendiri?” Lanjutnya.

“Iya. Lo habis darimana?”

“Kantin”

“Pantes tadi kosong, hahaha. Sorry, ya?”

“Kok minta maaf? Kenapa? Lo gak salah kali. Gue tadi ke kantin karna laper aja.”

“Den, gue mau jujur … tapi gue takut lo marah” Jaeden tak mengerti maksud ucapan Rakry barusan.

“Maksudnya?”

“Jadi gini yang bikin Har—“ belum sempet melanjutkan pembicaraannya, Jaeden menyuruhnya untuk duduk terlebih dahulu. “Duduk dulu, biar enak ngobrolnya. Kenapa, kenapa?” Kata Jaeden.

“Jadi yang bikin Harkan kayak gini itu gue. Tapi dibalik semua ini ada dalangnya, Den. Gue disuruh. Gue disuruh Mahen …” Jaeden yang mendengar itu langsung kaget. Ia langsung berdiri dengan muka memerah, dan tangan mengepal.

“MAHEN? MAHEN PANGESTU? IYA?!” Rakry mengangguk. “SIALAN! Bener dugaan gue kalo ini semua perbuatan Mahen. Sekarang dia dimana?” Lanjutnya.

“Gue gak tau sekarang dia dimana. Tapi, kalo lo mau nuntut gue, tuntut aja, Den. Gue siap. Karna gue juga salah.”

“Gue baka nahan lo dulu sampe Mahen bener-bener ketangkep.”

“Maaf.”

Jaeden tidak membalasnya, ia langsung pergi meninggalkan Rakry sendirian.

Seperti hari-hari sebelumnya, Rinjani tak lupa untuk menyusuri pantai sore itu. Saat itu langitnya sangat indah. Namun, Rinjani melihat ada seorang laki-laki yang sedang duduk dengan raut wajah yang sendu.

Rinjani memberanikan diri untuk mendekatinya. “Indah, ya?” Laki-laki itu kaget saat mendengar ucapan Rinjani. Aku terkekeh pelan. “Hehehe, maaf.” Lanjut Rinjani.

“Boleh aku duduk di sebelah kamu?” Tanya Rinjani, dan dibalas anggukan dari laki-laki tersebut.

Laki-laki itu mengulurkan tangannya dan memperkenalkan namanya kepada Rinjani. “Rayya, atau bisa lo sebut El.” Nama laki-laki itu adalah El.

“Aku Rinjani”

El hanya mengangguk.

“Lo ngapain sore-sore gini sendirian ke pantai?” Tanya El.

“Aku memang tiap sore selalu kepantai untuk ngelihat indahnya langit. Kamu sendiri ngapain kesini sendirian dengan muka sendu kayak gitu?” Kini Rinjani justru membalikan pertanyaan yang tadi El lontarkan.

“Gue? Ya gue sama kayak lo. Mau lihat indahnya langit”

“Bohong” Rinjani bisa membaca mata El yang sedang menyembunyikan sesuatu.

“Cerita aja kalau ada apa-apa, El. Aku siap dengerin kamu …” lanjut Rinjani.

“Gue … gue diusir” Rinjani masih belum bisa memahami ucapan El itu. “Aku masih belum paham, El … “ ucap Rinjani.

“Gue diusir sama papah gue. Dia udah gak nganggep gue anak lagi” El mulai meneteskan airmatanya. “Papah gue selingkuh. Dan selingkuhannya hamil anak papah, Nja … gue gak terima mamah gue di selingkuhin. Jadi, gue ngebentak papah gue. Gue salah, ya?” lanjut El yang semakin deras meneteskan airmatanya.

“El … kamu gak salah.” Rinjani mencoba menenangkan El, namun tiba-tiba kepala El bersandar dibahu Rinjani.

Rinjani kaget dengan El yang tiba-tiba menyenderkan kepalanya.

“Gue numpang nyender. Maaf … “ Ia paham betapa hancurnya lelaki yang saat ini tengah bersandar pada dirinya.

“Gapapa, kamu keluarin semuanya biar kamu tenang”

Harkan, dan Mahen kini sudah bersiap untuk memulai balapannya. “Siap?” Kata Mahen yang sudah sangat siap untuk melihat Harkan berlumuran darah.

Har, maafin gue … Ucap Rakry.

Bendera sudah diangkat, dan mereka pun mulai menancapkan gasnya.

Rakry terus berdoa agar Harkan selamat, dan tidak terjadi apa-apa. “Har, gue minta maaf. Gue emang gak pantes jadi temen lo.” Rakry benar-benar menyesal telah memilih duit dibanding nyawa temannya sendiri.

Mahen pun tiba terlebih dahulu. Ia tak melihat keberadaan Harkan dibelakangnya. “Hahaha, gue menang.” Teriak Mahen dengan sangat bangga.

Justin yang menyadari bahwa kembarannya itu tak kunjung kembali, ia mencoba bertanya kepada Rakry, “Ky, ini jalurnya gak jauh-jauh banget, kan? Kok Harkan lama banget?” Rakry tak menjawab.

Tiba-tiba orang lewat berteriak mengatakan bahwa ada yang jatuh di tikungan. Justin, dan yang lainnya pun langsung menuju tikungan yang dimaksud orang-orang.

panggil ambulance

ada telponnya gak di kantongnya?

ini ada surat-suratnya

Kata orang-orang yang sudah berkurumun.

“Misi mas, ini kenapa, ya?” Tanya Justin.

“Ini mas, ada yang jatuh.”

“Ciri-cirinya?”

“Makai jaket hitam, motornya hitam, celana hitam.” Justin mencoba kembali memastikan apakah benar itu Harkan, atau bukan.

“Namanya Harkan?”

“Kurang tau sa—“ belum sempat orang itu menjawab, tiba-tiba ada orang yang mengatakan bahwa yang kecelakaan itu adalah Harkan Alister.

Namanya Harkan Alister

Justin langsung menerobos gitu aja untuk melihat Harkan secara langsung. Benar saja, Harkan sudah berlumuran darah.

Justin melepaskan Helm Harkan, dan meletakkan kepala Harkan di pahanya. “Har, bangun… lo gak boleh pergi ninggalin gue. Mamah udah ninggalin gue, masa lo juga mau ninggalin gue sih… Har bangun…” kata Justin yang terus menepuk pipi Harkan.

Rakry yang melihatnya, ia sangat amat terpukul dengan kejadian ini. Ini semua salah dirinya. Kalau saja dirinya tidak mengikut perkataan Mahen, Harkan tidak mungkin seperti ini.

“Mas telpon ambulance aja” kata orang-orang sekitar.

“Ky, telpon ambulance, sekarang!” Rakry menelpon ambulance, dan Justin terus memeluk tubuh sang kembaran.