qianwoole11xd

Sesampainya mereka di tempat, Harkan langsung mencari dimana keberadaan Mahen. “Anjing, Mahen nyusahin.” Kata Harkan yang masih terus mencari.

Yang dicari justru melihat keberadaan Harkan. Mahen pun segera menghampiri Harkan, untuk segera bersiap-siap.

“Nih dia si anjing” sindir Nathan.

“Hahaha, ikut juga lo kesini? Kok cuma lo doang? Adik, adik lo kemana?” Tanya Mahen.

“Bukan urusan lo!”

Mahen yang melihat Evelyn, ia mencoba untuk memegang tangannya. Namun, Harkan berhasil menepisnya.

“Kan gue udah bilang, gak usah nyentuh dia BRENGSEK!” Bentak Harkan.

“Santai bro, santai … gue cuma mau megang, gak ngapa-ngapain.”

Harkan segera menarik Evelyn untuk menjauh dari Harkan. “Ngapain sih narik-narik?” Harkan pun melepaskan genggamannya, “gapapa. Mahen bahaya.” Jawab Harkan.

“Oh, iya, katanya mau beliin gue ice cream, mana?”

Harkan tak menjawabnya.

“IH HARKAN, JAWAB!!” Rengek Evelyn.

“Besok aja”

“Gue ngambek sama lo!”

Nathan tiba-tiba datang, “Pelin kenapa? Kok cemberut gitu?” Tanya Nathan pada adiknya.

“Harkan janji katanya hari ini mau beliin ice cream, tapi malah kesini.” Harkan yang mendengarnya justru gemes. Namun, ia tak mau kalau Evelyn tau dirinya juga suka.

“Ohh, Harkan ada janji sama Mahen. Besok aja, ya?”

“Hmm … “ Ucap Pelin malas.

“HARKAN” teriak Geral yang sudah membawa motor Harkan ke garis start. Harkan pun segera menghampiri Geral, memanaskan motornya.

“Lo balapan sama Mahen emang ada apaan? Tumben banget” tanya Geral. Memang Geral belum mengetahui hal ini. Karena, Harkan hanya memintanya untuk mengeluarkan motor miliknya ke arena.

“Hahaha, penting banget bro hari ini” jawab Harkan.

“Yaudah, yaudah … good luck bro.” Geral pamit ke luar arena setelah selesai mengerjakan tugasnya.

Tak lama Mahen pun datang dengan menggeber-geber motornya. “Siap? Siap kehilangan Evelyn?” Ledek Mahen.

“Hahaha, Mimpi.” Ujar Harkan.

Raka pun mulai berjalan ke tengah garis start untuk segera meniup pluitnya.

“Udah siap?” Mereka berdua pun mengangguk.

“Satu”

“Dua”

“Tiga”

“MULAI!” Pluit pun berbunyi, dan mereka memulai balapan ini.

“Bang, Harkan menang gak, ya?” Tanya Pelin.

“Doain aja.”


Setelah melewati 2 putaran, kini putaran terakhirlah yang menentukan siapa pemenangnya.

Raka melihat motor bewarna hitam mengkilap yang sudah dipastikan itu adalah motor milik Harkan Alister.

Dan benar saja, Harkan memenangkan balapan hari ini. Tandanya, Mahen tidak berhasil merebut Evelyn dari Harkan.

“Gimana? Kalah kan? Hahahaha. Mangkanya jangan sombong.” Bisik Harkan ke kuping Mahen.

Mahen yang panas pun kembali menantang Harkan untuk tanding kembali melawan dirinya besok.

“Kata siapa kalah? Besok kita tanding lagi. Lihat, siapa yang bakal kalah besok.” Setelah itu Mahen meninggalkan Harkan dengan muka yang sangat marah.

Evelyn, dan Harkan tiba di markas 0104 genk dimana itu adalah markas Harkan, beserta yang lainnya. Harkan melihat kehadiran Mahen, “Kemana aja lo, tumben banget baru nongol, hahaha.” Kata Harkan.

“Biasa, orang ganteng mah sibuk terus, hahaha.” Jawab Mahen, yang ikut tertawa.

uhuk

Harkan yang peka langsung mendekat kearah Evelyn. “Maaf, maaf. Ayok ikut gue ke situ.” Ajak Harkan, dan Evelyn pun menurutinya.

“Bro, kenalin ini Evelyn,” Evelyn pun mengulurkan tangannya, “Evelyn” dan Mahen pun mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan gadis cantik ini.

“Mahen.”

Harkan yang melihat Mahen tak melepaskan genggamannya, langsung menarik Evelyn. “Udahan kenalannya, gak boleh lama-lama, nanti diomelin abangnya.” Sindir Harkan.

“Cewek lo?” Tanya Mahen

“Soon.”

“Baru soon kan? Gimana kalo buat gue? Biar gue pake” Harkan yang mendengar itu langsung memukul Mahen tanpa aba-aba.

BUG

Evelyn yang melihat Harkan memukul Mahen, dirinya langsung menjauh dari gerumbulan itu.

“JAGA OMOGAN LO!” bentak Harkan. “Lo nyentuh dia sedikit pun, habis sama gue!” lanjut Harkan.

Rakry yang melihat pertengkaran antara dua temannya itu langsung memisahkannya. “Udah bego, lo juga sih, Hen.” Mahen pun segera ditarik oleh Rakry untuk menjauh dari Harkan sebelum hal yang tak diinginkan terjadi.

“Bentar dulu, Rak.” Pinta Mahen, “lo ngerti bercandakan, Har? Masa gini aja lo gak bisa diajak bercanda …. “

“Evelyn bukan bahan bercandaan. Dan bercanda lo gak lucu, BANGSAT!”

“Wettsss kalem-kalem, gimana kita taruhan aja? Kalo gue menang Evelyn buat gue, dan lo gak usah ikut campur. Begitupun sebaliknya. Gimana?”

shit, taruhan lagi, taruhan lagi. ujar Harkan dalam hati.

“Oke. Deal.”

Harkan segera menghampiri Evelyn, dan membawanya pulang.

“Pah, El ijin ke kamar mandi sebentar.” Eden pun mengangguk.

Tak hanya El yang ijin kepada Eden, Jovian pun juga meminta ijin untuk keluar sebentar, karena untuk mencari hawa. “Gue ijin,” ujar Jo, yang dibalas anggukan.

Kini hanya ada Eden, dan juga Amel asissten Eden yang menikmati minuman beralkohol itu. Pak Tian pun pergi meninggalkan mereka berdua untuk menghampiri anaknya.

“Saya tinggal, nggak papa?” Tanya Tian kepada mereka berdua.

“Nggak papa, pak.”

“Baiklah. Nanti saya akan segera kesini kembali. Ada yang mau di tanyakan lagi?” Tanya Tian.

“Pak, nanti kalau saya ngantuk, saya tidur dimana?”

“Kamu bisa tidur di kamar belakang, Amel. Sudah?Amel mengangguk, dan Tian pun mulai meninggalkan mereka berdua.

Kesempatan Amel untuk menggoda Eden pun juga semakin besar. Karena, sang tuan sudah dalam keadaan mabuk, akibat minum terlalu banyak.

Amel yang ngerasa Eden sudah mulai kacau, dirinya mulai mencium dan menikmati manisnya bibir sang tuan. “Enak…” ungkap Amel.

Setelah itu, Amel mulai menggotong Eden ke kamar belakang yang tadi diberi tahu oleh Tian.

El yang keluar dari kamar mandi dan melihat papahnya bersama sang asissten, ia mengikutinya dari belakang.

Setelah memasuki kamar, Amel mulai menutup pintunya agar tidak ada yang memergoki dirinya bersama Eden.

Amel mulai membaringkan tubuh Eden ke ranjang kasur empuk, dan membuka perlahan pakaian Eden.

“Eden, malam ini kamu akan jadi milik aku selamanya, hahahahaha.”

Eden yang dalam keadaan mabuk membiarkan Amel membuka pakaiannya, dan menikmatinya. “Terus sayang..” kata Eden yang dimana Amel mulai terpancing.

Setelah pakaian Eden terbuka, disitulah tubuh indah milik sang Tuan terpampang jelas di depan mata Amel. “Gila, gila, berasa berada di langit ke-tujuh”

Amel mulai menjilati tubuh Eden, dan hal itu membuat Eden mengeluarkan suara desahan, “ashhh, Asha kamu buat saya geli” Amel yang mendengar Eden menyebutkan nama Asha, berhenti bermain sejenak.

“Den, aku Amel, bukan Asha.”

“Lanjutkan, baby” Amel mulai menuju ke arah bibir Eden, sesampainya disana, Amel mencium dan melumat manisnya bibir sang Tuan.

El yang mendengar suara desahan dari kamar itu, mencoba membuka pintu secara perlahan agar tak menyiptakan suara. “PAPAH” El kaget dengan apa yang berusan ia lihat.

El yang sudah geram dengan perlakuan mereka berdua langsung masuk begitu saja tanpa aba-aba. “PAPAH!” Amel, dan Eden segera bangun, “Ohhhh pantes papah nggak ajak mamah, ternyata mau selingkuh.” Lanjut El.

“Abang, ini nggak seperti yang kamu lihat, sayang… wanita ini menjebak papah.” Eden segera memakai bajunya, dan menjelaskan semuanya kepada anaknya itu.

“Ngejebak gimana? Orang jelas-jelas anda sangat menikmatinya wahai Jaeden.”

Amel yang melihat pertengkaran papah, dan anak itu, hanya bisa tersenyum sinis. “Hahaha, ini yang gue mau.” Ucapnya dalam hati.

“Bener. Papah kamu yang minta saya ngegotong dia kekamar ini.” Eden benar-benar tak habis pikir dengan tingkah laku Amel. Bisa-bisanya Amel memfitnah dirinya didepan anaknya sendiri.

“JAGA UCAPAN KAMU AMEL!”

“Kenapa harus dijaga? Kan benar yang diucapin tante Amel. Bukan begitu Amelia?” seru El, dan dibalas anggukan Amel.

“El, dengerin penjelasan papah dulu”

“Apa yang perlu dijelasin lagi? Semua udah jelas. Jangan harap anda saya panggil papah lagi.”

PLAK

Satu tamparan berhasil melayang di pipi El. “El kecewa sama papah.” El meninggalkan Jaeden begitu saja.

“El, tunggu! Ini semua gara-gara kamu.” Eden mulai menyusul langkah El yang begitu cepat.

Disaat hendak keluar, El bertemu dengan Jovian, “El, mau kemana kamu?” El tak menjawab.

“Den, Den, stop. Kenapa?”

“El, El ngelihat gue sama Amel dikamar berduaan. Gue dijebak, Jo…”

“Anjing! Yauda, ayok nyusul El.”

Mereka berdua mulai menyusul kemana perginya El.

Jaeden, dan El tiba di kantor miliknya. “Pah, ini tugas El ngapain?” Tanya El. Wajar, karna dirinya tidak tau kenapa papahnya menyuruh dirinya untuk menemaninya.

“Tugas kamu tetep sama papah.”

Saat hendak membuka pintu ruangannya, datanglah Amel asisten baru Eden, “silahkan masuk pak.” Jaeden, dan El segera memasuki ruangan.

Namun, Amel enggan untuk pergi dari ruangan Eden demi mendapatkan perhatian dari bosnya tersebut.

“Kamu ngapain masih disini?” Tanya Eden pada Amel.

“Hmm … anu pak, kira-kira bapak ada yang bisa saya bantu?”

“Enggak. Nanti kalo saya butuh, baru saya panggil kamu. Sekarang, silahkan kamu keluar terlebih dahulu.” Minta Eden. Amel akhirnya keluar setelah Eden menyuruh dirinya keluar.

“Pah, tadi siapa si? Gatel banget sama papah,” benar saja, El pasti akan bertanya pada dirinya tentang siapakah Amel tersebut.

“Amel itu asisten papah yang baru, maklum papah kan ganteng” ujar Eden.


POV AMEL

“Sial, gue harus lebih perhatian lagi sama si Eden itu! Lagian itu laki-laki yang sama Eden siapa si? Anaknya? Ganteng banget … tapi tetep gantengan papahnya.” Amel berjalan menuju dapur kantor untuk mengambil minum, “liat aja, lo bakal jadi milik gue, Jaeden!”

Chika yang mendengar Amel ingin menggoda Jaeden, langsung menghampirinya. “Lo suka sama pak Jaeden?” Amel yang kaget dengan kehadiran Chika, langsung menggelengkan kepala.

“Enggak. Lo salah denger kali.” Namun, Chika yakin bahwa dirinya mendengar Amel berkata seperti itu.

“Gue bilangin sama lo, pak Jaeden itu udah punya istri. Dan cowok tadi yang sama dia, itu anaknya. Jadi, lo jangan macem-macem!” Chika langsung pergi begitu aja meninggalan Amel sendirian.

“Lo pikir gue takut sama istrinya? HAHAHAHAHA!”


Jam pulang kerja tiba. Seluruh karyawan mulai meninggalkan ruangannya masing-masing, namun tidak dengan Amel. Amel menunggu Jaeden keluar dari ruangannya untuk segera ia goda.

Setelah Amel menunggu sekitar 15 menit, akhirnya yang ditunggu keluar. “Sore menuju malam, pak.” Jaeden hanya melihatnya sekilas.

“Pak, saya boleh bareng sama bapak? Soalnya saya takut pulang sendirian …” kata Amel yang memasang muka melas.

“Enggak! Saya, dan papah saya ada urusan lain. Lagian kamu ini siapa, hanya asissten papah saya aja beraninya ngegodain!” Amel terdiam mendengar ucapan El itu.

“Ternyata benar kamu anaknya pak Jaeden … saya kira bodyguardnya”

“Anak sekaligus bodyguard untuk melindungi saya dari wanita gatal macam anda!” Jaeden segera pergi meninggalkan Amel.

Mereka bertiga pun siap menuju tempat acara pernikahan Jovian, dan Renata. “Sha, siap?” Asha mengangguk. Lalu, Eden mulai menginjak gas dan meninggalkan rumah.

Ditengah perjalanan, tiba-tiba El bertanya kepada Eden, “pah, om Jo itu siapa?” El memang belum mengetahui siapa Jovian. Sebab, Asha tidak ingin anaknya masuk ke dalam suram nya masalalu keluarga mereka.

Namun, kali ini Asha tidak ingin ada rahasia-rahasia lagi di dalam keluarga ini. “Om Jo itu—“ belum selesai bicara, Eden langsung memotong ucapan Asha.

“Biar saya aja yang menjelaskan.” Ujar Eden. “Jadi, Om Jo itu teman papah waktu papah masih kuliah.” Jelasnya.

“Tapi waktu papah ulang tahun, kok Om Jo gak dateng?”

“Om Jo sibuk di Amerika, El. Dan nomornya kehapus di hp papah.”

Setelah mereka berbincang-bincang di sepanjang perjalanan, akhirnya mereka tiba di Tempat pernikahan Jo dengan Renata.

“Sha, tetep sama saya. Jangan sampai lepas.” Asha mengangguk.

Selesai memarkirkan mobilnya, mereka bertiga mulai memasuki ruangan itu.

Jovian yang melihat kehadiran Jaeden, langsung melambaikan tangannya. “Nah, itu Om Jo, El,” kata Eden yang menunjuk Jovian.

“Orang Amerika dateng-dateng langsung nikah ajee, HAHAHAHA.” Ucap Eden yang memeluk Jovian layaknya tak bertemu puluhan tahun.

Asha yang menyusul Eden dibelakangnya, merasa canggung dengan Jo. Ia memang masih kesal atas perlakuan Jo yang menyebabkan Tyson meninggal, namun, Asha mencoba menghilangkan rasa kesalnya itu untuk hari ini.

Asha pun memberi ucapan selamat kepada Jo, “Selamat, ya.” Jovian yang mengerti Asha masih memendam kesedihan atas kematian Tyson yang disebabkan oleh dirinya, ia hanya tersenyum dan membiarkan Asha bertemu dengan Renata.

Kini Jaeden menyapa Renata seperti orang baru kenal. “Selamat, ya.” Renata hanya tersenyum, “makasih. Maaf perbuatan gue dulu.” Eden mengangguk dan keluar dari barisan salam-salaman untuk menunggu Asha serta El.

“Sha,” Renata berhasil menghilangkan gengsinya dengan menegur Asha terlebih dahulu.

Asha yang juga menghilangkan rasa kesalnya, ia memberi ucapan selamat kepada Renata. “Selamat, ya, Ta.” Selesai memberi ucapan, Asha dan El segera menyusul Eden.

Ada Apa dengan Gengsi By. qianwoole11xd

“Benar kata bunda, dibalik rasa gengsi, ada cinta yang terpendam.”

Genre: romance Tag Warning: none


Kalea memijat dahinya frustasi, beberapa kali juga dirinya mencoba menghubungi Nata yang tak kunjung menjawab telepon darinya. Bunda yang juga sedari tadi melihat putrinya mondar-mandir seperti terlihat sedang mencoba menghubungi seseorang, bunda langsung mencoba bertanya kepada Lea.

“Kamu ini kenapa sih, Lea?” tanya bunda.

“Ini bun, kak Nata.” Lea terus mencoba menghubungi Nata, namun tetap sama saja hasilnya.

“Nata kenapa, Le?”

“Lea sama kak Nata udah janji mau olahraga hari ini. Tapi, kak Nata nya gak jawab telepon Lea, bun…” Lea udah benar-benar gak habis pikir, dengan Nata yang udah ingkar janji.

“Mungkin Natanya belum bangun, sayang…” Mendengar bunda ngomong seperti itu, Lea langsung ijin pamit ke Rumah Nata untuk membangunkannya.

“Bun, Lea pamit.”

“Mau kemana?”

“Rumah kak Nata.” Lea langsung bergegas meninggalkan bundanya begitu saja.

Dasar anak remaja jaman sekarang bunda menggelengkan kepala dan menutup pintu.


Lea tiba di depan Rumah Nata, “tok tok tok, kak Nata” serunya dari depan pintu.

Tak lama pintu pun kebuka. Baru saja Lea hendak mengeluarkan semua amarahnya, namun ternyata yang membukakan pintu justru malah Nathania, mama dari seorang Windra Winata.

“Eh Lea, ada apa nak datang pagi-pagi jam segini?” tanya Nathania pada Lea.

“Ini tan, Lea sama kak Nata ada janji mau olahraga hari ini. Tapi kak Natanya gak ngejawab telepon Lea.”

“Nata belum bangun, Le. Tapi kalo kamu mau bangunin, naik aja ke atas.” Lea langsung naik ke atas tempat dimana kamar Nata berada.

“KAK NATA!!!” Lea berteriak dari depan pintu kamar Nata untuk membangunkannya.

Lea mencoba menempelkan telinganya dibalik pintu. “Gaada suara, coba dengerin lagi ah.” Lea terus fokus supaya bisa mendengar apakah ada suara dari dalam.

Tiba-tiba pintu itu terbuka ketika Lea sedang mencoba mendengarkan suara. “Aduhhhh” teriak Lea kesakitan.

Lea segerabangkit dan melihat apakah Nata sudah bangun apa belum. Dan benar saja, Nata masih tertidur lelap. Ia mendekati Nata secara perlahan dan berteriak persis di depan kuping Nata.

“KAK NATAAAA!!!”

Nata langsung terbangun dari tidurnya setelah mendengar teriakan Lea di depan kupingnya. “Lea? Lo ngapain disini? Keluar cepetan! Pamali orang belom sah udah main masuk kamar laki-laki tanpa ijin.”

“Kata siapa belom ijin? Orang sama tante Nia di ijinin wlee.”

“Dasar dari dulu lo gak pernah berubah!”

Lea yang mendengar itu, dirinya langsung mendekati Nata tanpa ada sedikitpun jarak antara mereka.

“Apa lo bilang? Gue gak pernah berubah? Gue berubah. Nih lo liat, makin cantik. Ya, kan? Lo tuh yang gak pernah berubah. Masih sama kaya manusia es, cih.”

Nata langsung mengacak-ngacak rambut Lea tanpa ada aba-aba sedikit pun. “Rasain! Ini akibatnya kalo lo ngeledek orang ganteng.”

“TANTEEE, kak Natanya—“ Nata langsung membekep mulut perempuan yang kini berada di depannya. “Lo gak usah berisik. Keluar! Gue mau mandi. Lo jangan ngadu ke mama yang enggak-enggak!” Lea didorong keluar begitu aja oleh Nata.

“Dasar cowok gak jelas! Gue sumpahin lo daper jodoh yang nyebelin, gak waras, sinting, gila, miring.”

Setelah puas ngata-ngatain Nata, Lea turun menuju ke bawah untuk menunggu Nata selesai mandi.

“Lea, ada apa sih? Tante denger kamu teriak-teriak dari atas. Diapain kamu sama Nata?”

“Ini tan, mulut Lea—“ lagi dan lagi, Nata dateng langsung memotong omongan Lea. “ayo, jadi olahraga gak?” Lea hanya memandang Nata dengan tatapan yang sinis dan langsung berpamitan kepada Nia,mama dari Nata.

“Leanya jangan digangguin terus atuh, bang …”

“Iya, ma. Yaudah Nata berangkat olahraga dulu. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”


Mereka berdua tiba di sebuah taman yang biasa dikunjungi oleh banyak orang untuk ber-olahraga. “Kak, lo laper gak si?” Nata hanya menatap dengan tatapan yang datar. “Kak ihhhh, gue serius. Lo laper gak?!” Lea kembali bertanya kepada Nata. Namun, Nata justru malah meninggalkan Lea sendirian.

Bukan malah mengejar, justru Lea sengaja. Ia tau kalau Nata tidak akan meninggalkannya seorang diri. Bisa-Bisa dirinya dimarahi oleh mamanya karna meninggalkan Lea sendirian.

Nata berhenti sejenak dibawah pohon rindang untuk bersantai sambil menunggu Lea. Sedangkan yang ditunggu tak kunjung datang. Tiba-tiba pundak Nata di tepuk oleh seorang perempuan yang juga sepertinya sedang berolahraga disini.

“Misi kak?” tanya wanita itu.

“Yaa?” seperti biasa, Nata hanya menjawab seadanya.

“Kakak sendirian?” Nata tak menjawabnya. Namun, wanita it uterus mencoba agar Nata memberikan perhatiannya sedikit. “Pacar kakak kemana?”

Kini Nata mulai berdiri mendekatinya. “gue gak punya pacar.” Tiba-tiba wanita itu tersenyum kepada Nata.

“Aku juga gak punya pacar. Gimana kalo kita deket dulu?” Bukan menjawab pertanyaan Ldya, justru Nata melihat Lea yang tengah mencari dirinya. “Leaaa” panggil Nata yang sambil melambaikan tangan.

Lea yang melihatnya langsung berlari ke arahnya. “Kamu abis darimana sih? Aku cariin juga.” Ujar Nata sambil merangkul Lea. Aneh, memang aneh. Tidak seperti biasanya Nata bersikap seperti ini, “Lo kerasukan apa kak?” tanya Lea yang merasa penasaran dengan sikap Nata.

“Kerasukan? Engga kok … udah yuk kita pulang, udah siang nih.” Ucap Nata. “Oh, iya, kita pamit pulang dulu, ya … semoga nemuin pacarnya hehe.”

Setelah dirasa udah jauh dari Ldya, Nata melepaskan genggamannya, “keenakan lo, ya, gue genggam” Lea hanya bisa tertawa. “oh ternyata karna lo digangguin cewek itu, jadi lo ngerangkul gue, ngomong kata-kata manis, cih.”

“Berisik. Ayok pulang!”


Mereka tiba di Rumah masing-masing. Lea di Rumahnya, dan Nata di Rumahnya. “Gimana bang olahraganya?” Nata terkejut, “mama, ngagetin Nata aja … “

“Hehe, maaf bang. Gimana?”

“Gimana apanya, ma?”

“Itu olahraganya … “

“Biasa aja.”

“Kok biasa?

“Ya, kaya olahraga biasa aja. Yaudah, Nata mau mandi dulu. Gerah.” Memang Nata gak terlalu suka kalo badannya berkeringat, walaupun hanya sedikit.


“Kak, nanti siang anterin bunda ke toko kue, ya …. “

“Buat?”

“Kamu lupa, kalo papah bentar lagi ulang tahun?”

Lea menepuk jidatnya, bagaimana bisa dirinya lupa dengan tanggal lahir papahnya sendiri. “Maaf, bun hehehe.” Kata Lea, “yauda nanti Lea anterin.”

“Bun, mau jam berapa?” tanya Lea, “sekarang kak.” Lea yang mendengar itu langsung turun menuju ke Ruang Tamu.

“Bunda mah selalu mendadak … untung Lea udah rapih. Ya, walau make kaos doing hehehe. Seenggaknya rapihkan?” bunda mengangguk.

Disaat mereka ingin jalan, Nata datang secara tiba-tiba. “Ada apa Nat?” tanya bunda.

“Ini bun, disuruh ngasih kue bikinan mama.” Nata langsung menyerahkan kue itu ke bunda Lea.

“Nata mau ikut?” Nata yang melihat Lea di samping bundanya sedang senyum-senyum sendiri langsung merasa aneh. “Engga deh, bun.”

“Loh kenapa?”

“Gak apa-apa, bun.” Sebenarnya Nata tidak enak untuk menolak ajakan bunda. Namun, anaknya sendiri lah yang bikin Nata ingin menolaknya.

Dengan senang hati, Lea turun dan langsung menyuruh bunda pindah tempat duduk supaya Nata aja yang menyetir mobilnya. “Lo ikut, terus lo nyetir. Bunda lagi sakit, jadi gak bisa nyetir.”

Bunda hanya bisa tertawa melihat putrinya menjailin Nata. “Maafin, ya, Nat. Lea emang begitu.” Nata paham dengan sifat Lea yang sangat nyebelin itu. Sebab, bukan satu atau dua bulan aja Nata dan Lea kenal. Mereka berdua kenal sudah sedari umur 5 tahun disaat Nata pindah ke rumah tersebut.

Setelah semuanya sudah siap, kini Nata mulai menancapkan gas mobilnya untuk menuju ke sebuah tempat kue.

Tiba lah mereka di toko kue tersebut setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit.

“Selamat datang, selamat datang di toko neocake.” Ujar pelayan.

Bunda masuk dan langsung melihat-lihat kue mana yang cocok dan keliatan enak buat ulang tahun Dendra. “Bun, kuenya harusnya yang coklat, ya … “ kata Lea.

“Beli aja sono sendiri! Ini buat papah. Enak aja”

Nata langsung menarik tangan Lea begitu aja tanpa aba-aba. “Ih apaan sih narik-narik, so asik.” Kata Lea yang melepaskan tangannya dari tangan Nata. “Lo mau kue kan?” Lea mengangguk, “iya. Tumben lo … “

“Gue ada kue yang cocok buat lo” Lea penasaran, kue apa yang akan diberi tahu Nata kepada Lea.

“Nah kue ini,” Lea bingung, maksud dari Nata menunjuk kue pink bergambar Babi itu apa. “Maksudnya?”

“Iya, Babi. Cocok kaya lo kalo lagi nyebelin, hahahaha.” Nata langsung lari menuju tempat dimana bunda berada, untuk berlindung dari Kalea.

“NATAAAA!!!”

“Bun tolongin Nata … Nata dikejar Lea.” Kata Nata yang kini berada dibalik tubuh bunda.

“Emang kamu kenapa kok bisa dikejar?” baru aja Nata mau menjawab, datanglah seseorang yang barusan di sebut-sebut. “Nataaa! Awas lo!!!” Lea mencoba menangkap Nata yang berada dibelakang bunda.

“Aduhhhh ini kalian ada apa sih?” tanya bunda yang pusing melihat mereka tiap hari bertengkar terus.

“Ini bun, masa Lea dibilang mirip babi. Kan Lea cantik, ya, bun … “ Bunda tertawa.

“Cantik kok. Emang siapa yang bilang Lea mirip babi?” Lea menunjuk seseorang yang kini berada disamping bunda, yaitu NATA.

“Oh, Nata .. gak apa-apa kok.”

“Ihhh bunda kok malah belain kak Nata sih?”

“Kan calon mantu. Ributnya nanti lagi. Sekarang ayok pulang.”

Mereka pun meninggalkan toko kue setelah selesai mengambil kue untuk ulang tahun Dendra papah Lea.


“Nata”

“Iya, bun?”

“Tadi bunda beliin ini,” Lyandra mengeluarkan sebuah roti untuk diberikan kepada Nata dan Nathania. “Makasih bun. Kalo gitu, Nata pulang, ya … “ Lyandra mengangguk.

“Dah sana masuk, ngapain masih disini? Suka, ya, kamu sama Nata?”

Lea langsung menatap bunda, “dih, Lea suka sama dia? Aduhh bun … “

Lea langsung menuju ke kamarnya yang berada di lantai 2 itu. Lea melihat buku diary yang mana biasa dirinya menuliskan sesuatu.

Dibuku diary itu, banyak sekali catetan tentang dirinya bersama Nata yang selama ini menemani dirinya dari kecil sampai saat ini. “Apa jangan-jangan benar kata bunda kalo gue suka Nata?” Lea menampar pelan pipinya, “bangun Le anjir … gak mungkin lo suka sama dia. Lo kan pernah nyumpahin dia dapet jodoh sinting, gila, miring. Ya, kali lo jodohnya.”

Sebaliknya, Nata yang tiba dirumahnya disambut hangat oleh sang mama tercina. “Hay ganteng. Abis darimana nih?” Nata menyerahkan roti yang tadi dikasih bunda Lea. “Dari bunda Lea.”

“Oh, kamu abis dari toko roti?” Nata mengangguk. “Yaudah, mah. Nata mau mandi dulu, gerah.”

Nata masih memikirkan kata-kata bunda yang bilang bahwa dirinya adalah calon mantu. “Kalo calon mantu, berarti … enggak gue gak mau sama Lea.” Nata menggaruk kasar rambutnya. “Tapi kalo beneran gue suka sama Lea? Kan banyak orang bilang, ‘jangan benci-benci, nanti malah jadi cinta.’ Gakkkk gue gak mau. LEAAAAA!!!”

Nia yang mendengar teriakan itu, langsung berlari menuju kamar Nata.

“Apa sih bang teriak-teriak?”

“E-eh enggak, ma.”

“Jangan teriak-teriak. Udah malem, gak baik.” Lagi-lagi Nata mengangguk.


Lyandra yang ngerasa bahwa ada sesuatu antara Lea dan Nata, kini dirinya mencoba untuk menghubungi Nia. “Pliss, ayok angkat, Ni.” Lyandra yang gak sabaran itu terus berharap Nia mengangkat telponnya.

Tiba-tiba terdengar suara, ‘hallo’ dari teleponnya.

Hallo kata Nia yang menjawab telepon dari Lyandra.

Hallo, hallo

Tumben nelpon, biasanya langsung kerumah, Ly

Ada yang mau aku omongin

Apa?

Kamu ngerasa gak sih kalo Nata sama Lea kaya nyembunyiin sesuatu?

Ngerasa kok. Emangnya kenapa, Ly?

Gak apa-apa. Aku cuma mastiin aja. Kirain aku doang yang ngerasa begitu.

Nata belum ada pacarkan, Ni? tanya Lyandra.

Setau aku belum sih … lagian siapa yang mau sama dia, dia dingin gitu kaya papahnya.

Kecuali anak aku. Mereka berdua pun sama-sama tertawa.

Ni?

Iya?

Gimana kita jodohin aja anak kita? Kan udah kenal dari kecil, pasti tau dong sifatnya satu sama lain …

Nikah?

Tiba-tiba terdengar suara Nata dari belakang, “siapa yang mau nikah mah?” Nia langsung mematikan teleponnya begitu saja.

“Kenapa bang?” Nia berpura-pura tidak mendengarnya.

“Itu tadi mama teleponan sama bunda Lyandra kan?” Nia mengangguk, “terus siapa yang mau nikah, ma?”

“Kalian.” Nata menatap Nia bingung, “maksudnya?”

“Iya kamu sama Lea.”

Nata tak percaya bahwa dirinya benar-benar akan menikah dengan Lea, perempuan yang ia kenal dari kecil, perempuan yang paling nyebelin menurut Windra Winata.

“Mama serius?” ia tetap berusaha menanyakan hal itu.

“Mama serius, sayang … emang mama pernah bercanda?”

“hmm … iya juga. Yauda Nata ke atas lagi, ya.” Nia mengangguk.

Untung saja anaknya ini penurut, coba kalau enggak, bisa-bisa dia sekarang gak tau kabur kemana.


Hari sudah berganti, Lea yang sudah bangun lebih awal, kini membereskan tempat tidurnya dan menuju ke bawah untuk memastikan apakah bundanya sudah bangun apa belum.

Belum aja Lea menginjak anak tangga, bundanya sudah memanggilnya lebih dulu. “Leaa, bangun. Sarapan dulu.”

“Iya, bun.”

“Selesai sarapan, ke Rumah Nata dulu, ya …”

“Ngapain?”

“Ngasih sarapan, ini bunda masaknya kebanyakan” Lea mengangguk. Tak lama dari itu, Lea bergegas untuk ke Rumah Nata sesuai perintah yang bunda kasih, “Lea berangkat dulu, bun. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam”


Lea pun tiba di Rumah Nata, disaat Lea ingin mengetuk pintunya, namun, pintu itu terbuka. Dan rupanya itu adalah Nata. “LO? Ngapain kesini pagi-pagi?” Sebenarnya Lea malas berdebat dengan Nata pada pagi-pagi seperti ini. Namun, karna Nata menanyakan hal itu, Lea pun menjawab.

“Yang pasti bukan mau ketemu sama lo.” Saut Lea. “Gue mau ngasih ini,” Lea menyerahkan rantang yang berisi makanan pada Nata. “Dari bunda, gue pamit. Salam buat tante Nia.” Disaat Lea hendak melangkah kan kakinya untuk pergi, Nata menahannya.

“Dih apaan lo megang-megang?” Nata langsung melepaskannya setelah Lea berbicara seperti itu. “Ogah gue juga megang lo.” Lea menekukkan tangannya ke dada, “apaan nahan-nahan tangan gue?”

“Lo udah tau kalo kita mau nikah?” mendengar hal itu, Lea justru ketawa, “HAHAHAHA, ngaco lo?”

“Gue serius. Tadi malam, mama sama bunda telponan bicarin soal jodoh sama nikah-nikah gitu. Terus gue tanya ke mama, katanya kita yang mau dijodohin terus nikah.”

Lea masih gak paham sama apa yang Nata bicarakan, “Lo ngomong apa sih, kak?”

“Nanti aja deh. Kalo enggak, lo tanya sama bunda coba. Bener apa enggak.”

“Ya, oke.” Lea mulai melangkahkan kakinya untuk segera pergi dari Rumah Nata.


Sesampainya Lea di Rumah, ia mencoba menanyakan hal yang baru saja Nata ucapkan tadi. “Bun, bunda dimana?”

“Di dapur, kak.”

Lea menghampiri bunda yang kini sedang asik berbincang bersama bibi. “Ada apa kak?” Lea bingung harus mulai darimana, “bunda semalem telponan sama siapa?”

“Kamu denger, kak?” Lea mengangguk. “Sama tante Nia.”

“Ngobrolin apa?” bunda tak bisa menjawabnya. “Bun, Lea nanya loh ini, masa dicuekin?”

“Nanti malem kamu bakal tau, Le.”

“Hmm … okee.”


Waktu yang dinanti-nanti telah tiba. Dimana Dendra akan pulang seperti biasa pada ulang tahunnya. Kini Lea, Lyandra, dan bibi sudah menyiapkan semuanya, dan mengundang Nia dan Nata.

Lyandra yang mendapatkan sebuah notif bahwa Dendra sudah dekat, dirinya langsung mematikan semua lampu agar Rumah terlihat seperti tidak ada orang.

Lea mengintip sedikit dari jendela untuk memastikan apakah papahnya sudah sampai apa belum. Tak lama dari Lea mengintip, terdengar suara klakson mobil yang sudah dipastikan itu adalah Dendra. Lyandra menyiapkan kue ulang tahun, Lea menyiapkan party pooper, sedangkan Nata bagian menyalakan lampu.

Ini lah saatnya, Dendra membuka pintu. “Bun, Le, kamu dimana? Kok gelap?” tanya Dendra yang sudah khawatir Rumah kosong.

Dan betapa terkejutnya Dendra ketika lampu dinyalakan, dan Lea mulai menekan tombol dari party pooper tersebut. Lyandra membawa kue sambil menyanyikan selamat ulang tahun untuk suami tercinta.

“Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday mas Dendra, happy birthday to you … “ sebelum meniup lilin Dendra berdoa terlebih dahulu, agar panjang umur, sehat terus, dan bisa bahagiain anak istri.

Selesai berdoa, Dendra langsung meniup lilin, “huuh” Dendra langsung mencium kening sang istri. “Terima kasih, bun.” Tak lupa juga dengan Kalea putri tercinta mereka. “Terima kasih, Lea, anak papah.”

Dendra juga melihat bahwa ada Nia dan Nata yang kini sedang menyaksikan kebahagiaan keluarganya. “Hay, ganteng. Makin ganteng aja nih anak Nia.” Kata Dendra yang memuji Nata ganteng. Sedangkan yang dipuji justru salah tingkah.

“Makasih, om … “

“Ayok duduk-duduk.” Kini semuanya ikut duduk.

Bibi mulai mengambil makanan untuk di taro di meja makan. “Ini bu, pak, masakannya. Silahkan dimakan.” Semua mengangguk, “Makasih, bi.” Ucap Nata


Setelah semuanya selesai makan termasuk bibi yang enggan gabung bersama mereka, kini Dendra mengajak berbincang-bincang ringan di Ruang Tamu.

“Oh, iya, Ma, aku mau nanya” ucap Nata kepada Nia. “Nanya apa bang?”

“Emang bener, Nata sama Lea bakal nikah?” Lyandra yang mendengar semua itu langsung menatap mata Nia, “Iya. Bunda udah percaya sama kamu, Nat. Jadi bunda, om, dan mama kamu setuju kalo kamu sama Lea, kita jodohin.” Lanjut Lyandra.

“Lea setuju kan?”

“Lea setuju, biar Lea enak ngeledekin kak Natanya.” Nata hanya menatap Lea datar.


Hari yang dinanti-nanti tiba, yaitu HARI PERNIKAHAN LEA DAN NATA. Dimana semuanya udah siap, tamu yang ingin menyaksikan akad mereka pun sudah berdatangan. Mempelai lelaki pun tiba untuk menjemput sang kekasih.

“Nata, duduk sini.” Kata Dendra.

Setelah mempelai pria duduk, mempelai wanita pun tiba. Dengan gaun berwarna putih, indah, dan cantik, berhasil membuat Nata menatap Lea dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Lea pun duduk disamping Nata. “Lo cantik, Le.” Lea memukul pelan pundak Nata, “berisik!”

Kini penghulu sudah menyerahkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Nata. “Nak Nata, bisa kita mulai?” Nata mengangguk.

Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Windra Winata bin Adrian Winata dengan anak saya yang bernama Kalea Syanaputri dengan maskawinnya berupa mas kawin, Tunai.

“Gimana para saksi, sah? Sah?” saksi pun menjawab ‘sah’ dimana akhirnya Lea dan Nata resmi menjadi pasangan suami istri.

“Nata, om titip anak om, ya … om yakin, Nata bisa jadi suami yang baik buat Lea.” Nata mengangguk dan memeluk Dendra.

-END-

Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, namun Dimas tak kunjung pulang. Sementara itu, Zidan sudah tertidur nyenyak di samping Ileen.

krek

Bunyi suara pintu. Ileen yakin itu adalah Dimas. Ileen membangunkan dirinya dari ranjang kasur secara perlahan agar Zidan tetap terlelap.

Dan benar saja, itu Dimas.

“Zidan mana?” tanya Dimas.

“Udah tidur pak,” Dimas yang mendengar Ileen memanggil dirinya pak langsung mendekat ke arah Ileen. “Jangan panggil gue pak, gue masih muda.” Ileen mengangguk.

“Dim, aku pulang, ya?”

“Tunggu.” Kata Dimas yang menyuruh Ileen untuk menunggu sebentar.

Ileen pun duduk di sofa ruang tamu, ia melihat bahwa Dimas belom mengganti bajunya. Dan Dimas mendekati Ileen, “lo nginep aja, soalnya Zidan kalo udah deket sama orang gabisa ditinggal. Takutnya dia besok bawel nanyain lo terus.” Ileen terkejut mendengarnya

“Gausah Dim, besok aku dateng pagi aja biar Zidan gak berisik … ”

“Udah lo nginep disini, lo tidur di kamar sama Zidan.”

“Tapi Dim … “

“Gaada tapi-tapi. Udah gue mau mandi dulu, lo bisa naik keatas sekarang.” Ileen mengangguk.

Kini Bian, Dean, Tyo, dan Winatra menuju ke arah kerumunan di tengah kampus. Semua orang berteriak.

”terima, terima” ”ayok terima, kapan lagi jadi pacar Gevan.”

Begitulah teriakan dari mahasiswa-mahasiswa Kampus. Dean yang ingin tau lebih dalem, ia meminta untuk orang memberinya jalan.

“Misi”

“Misi bentar.”

Orang-orang pun memberinya jalan. Ketika sudah sampai di Depan, ia melihat Clara sedang berpelukan bersama dengan laki-laki yang bernama Gevan. Ia mahasiswa baru di Kampus ini.

Hancur, hancur rasanya hati Bian ketika melihat Clara memeluk Gevan sangat erat seakan-akan tak membiarkan Gevan untuk pergi darinya.

“No, gue ke kelas dulu. Ada yang ketinggalan.” Deanno yang sangat tahu bahwa Bian kini sedang hancur, ia mengangguk dan membiarkannya pergi.

“Clara brengsek! Bisa-bisanya dia selingkuh.”

Clara yang melihat Deanno, langsung melepaskan pelukan erat Gevan. Ia menatap mata Gevan seolah-olah sesuatu telah terjadi.

“La, you okay?”

Clara tak menjawab, ia pergi menyusul Deanno yang lebih dulu meninggalkannya.


“Dean, tunggu!” Perintah Lala.

Deanno menghentikan langkahnya setelah mendengar suara itu.

“Apa?” Kata Deanno yang sudah malas berbicara.

“Gue minta maaf. Gue beneran minta maaf, gue sayang sama Bian. Tapi gue juga sayang sama Gevan.” Deanno hanya bisa menghela napas.

“Terus?”

“Terus gue harus gimana, Dean?”

“Semua ada di tangan lo. Bertahan sama Bian dan tinggalin Gevan, atau lepasin Bian dan lo lanjut sama Gevan.”

Clara kini benar-benar sudah kacau. Ia tak tahu harus memilih yang mana. Dean pun meninggalkan Clara di lorong sendirian.

Dibalik indahnya kemegahan rumah itu, ada kehancuran sebuah keluarga. Keluarga Arkananta, keluarga yang dikenal akan kesopanan, keramahan, dan kebaikannya pada semua orang. Namun, berbeda ketika keluarga itu berada di dalam rumah.

Setelah Dimas ditinggal pergi oleh sang mamah untuk selama-lamanya, hidup Dimas sangat berubah dratis. Ia sudah tak diperdulikan oleh sang papah yang dulu sangat sayang kepadanya.

Dimas pun tak tahu apa yang bikin papahnya seperti ini. Dimas yang masih berusia 5 tahun itu sudah kehilangan sosok ibu dan perhatian dari sang papah. Namun, Dimas masih mempunyai tante. Tante Shakila, tante Shakila ini adalah adik dari papahnya Dimas, Arkananta Rayenza.


Dimas yang sedang asik bermain, tiba-tiba sang papah datang dari balik pintu dan melihat rumah yang sudah berantakan seperti kapal pecah itu. Lalu, Arka langsung membentak Dimas dan menyuruh Dimas untuk segera membereskan nya.

Tak sengaja, Dimas memecahkan sebuah vas bunga kesayangan sepeninggalan alm sang ibu. Papahnya pun semakin murka dan menyeret Dimas ke kamar mandi. “Sini kamu! Dasar beban keluarga! Bisa-bisanya kamu mecahin vas bunga kesayangan istri saya! Sini! Ikut saya!” Arka terus menyeret Dimas, sedangkan Dimas hanya bisa menangis, “pahh maafin Dimas, Dimas gasengaja pah … pah, jangan hukum Dimas. Dimas beneran gasengaja … “

Dimas yang sudah ketakutan itu pun kini hanya bisa pasrah atas apa yang akan dilakukan papahnya kepada dirinya.

“Sini kamu!” Arka menyiram Dimas dengan air yang ada di bak kamar mandi. “Ini akibat kamu mecahin vas bunga istri saya!”

“Pahh, ampunn …. Dimas Janji, Dimas janji gaakan nakal lagi. Ampun pah …. “

Tak cuma itu, setelah Dimas sudah basah kuyup, Arka mengunci Dimas sendirian di kamar mandi.

“Pahhhh!! Ampunn … Maafin Dimas … papah …. Hiks hiks”

Shakila yang mendengar suara Dimas, ia langsung menuju sumber suara itu. Kamar mandi, Shakila mendengar suara itu dari arah kamar mandi. Ia melihat bahwa Dimas terkunci di dalam situ, Shakila langsung mendobrak pintunya.

“Dimas sayang, tunggu Tante.”

Shakila terus mendobrak pintu kamar mandi dengan sekuat tenaga.

“Tante, tolongin Dimas … Dimas takut …. “

Shakila yang mendengar itu, ia mencoba mendobrak pintu nya dengan sangat kencang.

“Dimas sayang sabar, ya … “

“Dimas, Dimas denger tante kan?”

“Denger, tan.”

“Dimas menjauh dulu dari balik pintu, biar tante dobrak.”

Dimas pun menurut, ia segera menjauhi pintu kamar mandi. Tak lama, pintu pun berhasil di dobrak oleh sang tante.

Shakila langsung mencari Dimas dan memeluknya. “Dimas sayang, tenang … ada tante disini. Dimas gausah takut lagi, ya?” Dimas tak menjawab, tubuhnya sangat dingin. Bahkan tubuhnya sudah mengigil karna kedinginan.

“Ayok kekamar Dimas, ganti baju.”


“Sekarang Dimas ceritain kenapa Dimas bisa dikurung dikamar mandi dengan keadaan basah kuyup gitu … “

Dimas pun menceritakan kejadian yang menyebabkan dirinya dikurung di kamar mandi.

“Mas Arka benar-benar keterlaluan! Dimas tunggu sini, biar tante nyamperin papah.”

Shakila keluar dari kamar Dimas dan menuju ke ruang tamu tempat dimana Arka sedang menonton tv.

“MAS!” Arka menengok.

“Dateng-dateng kok teriak, kenapa?”

“Kenapa, kenapa. Dimas kamu apain mas?! Tega kamu sama anak kamu sendiri!” Arka pun bangun dari sofa dan berdiri di hadapan Shakila.

“Tega? Dia yang tega! Dia yang ngebunuh ibunya sendiri!”

“Mas, tapi itu gasengaja. Dimas bukan pembunuh!”

“Alah! Tetap saja dia pembunuh! Dia yang menyebabkan istri mas meninggal. Gara-gara dia, Eva ketabrak terus meninggal!”

“Itu bukan salah Dimas!”

“Tetap saja salah Dimas!”

Dimas yang mendengar keributan dari atas, dirinya memberanikan diri untuk turun dan bertemu oleh sang tante dan papah.

“Nah ini pembunuhnya!” Arka menunjuk Dimas yang berdiri di samping Shakila.

“Tante, emang aku pembunuh? Aku bukan pembunuh tante … aku cuma mau ngambil mobil-mobilan … “ Shakila yang melihat wajah Dimas yang pucat, ia mencoba membujuk Dimas untuk mundur terlebih dahulu.

“Dimas, kamu ke dapur dulu bentar sama bibi, ya? Biii, bawa Dimas ke dapur.”

“Siap non.”

Shakila melanjutkan adu mulut bersama dengan sang kakak Arkananta.

“Jadi mau mas gimana?”

“Usir anak itu!”

“Oke, tapi aku juga akan keluar dari rumah ini!”

“Shakila!”

Shakila tak mendengar teriakan Arka dan memilih untuk mengajak Dimas ke kamarnya. “Ayok Dim kita kekamar dan beresin baju kamu.”

Dimas yang mendapat kabar dari Yudha teman nya itu, bahwa tante nya sedang ingin melahirkan. Dimas langsung meminta ijin ke dosen dan segera menuju ke Rumah Sakit yang diberi tahu oleh Yudha.

“Tan, tahan jangan lahir dulu. Dimas belom sampe soalnya.” Kata Dimas yang mempercepat laju kendaraannya itu.


Tak butuh waktu lama, Dimas pun tiba di Rumah Sakit dan segera memarkiran kendaraannya di tempat parkir.

Setelah Dimas memarkirkan kendaraannya, Dimas segera menuju ke ruang bersalin, dimana tantenya akan melahirkan.

“Yudh..” Dimas yang terlihat sangat ngos ngosan, kini sedang mengatur napasnya kembali.

“Lo kalo masih ngos ngosan, gausah ngomong.” Kata Yudha.

“Tai.”

“Jelasin gimana bisa tante gue lahiran sekarang.” Lanjut Dimas yang meminta penjelasan Yudha.

Yudha pun menjelaskan kejadian sebelumnya. “Jadi gini, gue kan gamasuk, ya tadi.. terus tiba-tiba gue dichat sama tante lo—“ belom sempat melanjutkan, Dimas langsung memotongnya.

“Dichat apaan? Kok dia gangechat gue?”

“Lo sabar dulu anjing! Tante lo ngechat gue, kalo dia mau lahiran. Dan gue disuruh kerumah lo abis itu gue panggil ambulans deh.” Dimas bernafas lega. Untung saja ada temannya yang bisa membantu dia dan tantenya.

“Gue gak sabar anjing” kata Dimas yang menggoyang-goyangkan tubuh Yudha.

“Anjing! Gausah goyang-goyangin tubuh gue juga!” Dimas hanya bisa tertawa, “hehehe maaf.”

Setelah menunggu 1 jam lamanya, akhirnya Dokter pun keluar. Namun, wajah Dokter membuat kedua remaja itu heran, “Dok, gimana keadaan tante saya?” Dokter hanya menghela napas.

“Dok?”

“Suami tante kamu kemana?” pertanyaan Dokter membuat Dimas tak bisa menjawab.

“Suaminya ada disini?” Dokter kembali bertanya kepada dua remaja yang kini sedang menunduk.

“Suami tante saya gatau kemana, Dok. Saya sama tante saya cuma tinggal berdua aja.”

“Terus dia? Saya kira dia suami nya.”

“Dia teman saya Dok. Dia memang dekat sama tante saya, dan kebetulan tadi saya masih ada jadwal kuliah.”

“Jadi gimana dok? Tante saya selamat kan sama bayiknya?”

Kini Dokter menjelaskan semua yang telah terjadi. “Bayiknya selamat, namun…” Dimas semakin bingung, “namun apa Dok?”

“Tante kamu gabisa diselamatkan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun tante kamu belom bisa kami selamatkan.”

“Kamu yang kuat, Ya. Saya permisi dulu.” Kata Dokter yang langsung pergi meninggalkan Dimas dan Yudha.

Dimas terperosok ke lantai, ia tak menyangka bahwa tantenya meninggalkan dia sendiri bersama dengan anaknya. “Yud, kayanya takdir emang gangebolehin gue bahagia, ya?” Yudha kini mencoba menenangkan sang teman.

“Dim … tante lo hebat. Dia mengeluarkan malaikat kecil yang lo tunggu-tunggu. Dia rela kehilangan nyawanya demi malaikat kecil itu, Dim. Dim, lo harus tau, sekarang emang mungkin takdir belom bisa bikin lo bahagia. Tapi, suatu saat lo pasti akan bahagia. Percaya.”

“Satu lagi, lo gak berduaan doang. Ada gue, abah gue, dan emak gue, Dim. Keluarga gue bakal ngurus jagoan kecil tante lo. Jadi, harus tetep kuat, ya? Sebentar lagi, Dim.” Dimas mengangguk, ia menghapus air matanya agar tantenya bahagia disana.

“Yudh, nama yang bagus apa?”

“Zidan? Zidan Arkananta? Nama belakangnya make nama lo.”

“Bagus, oke Zidan.”