qianwoole11xd

Tara yang dirasa tubuhnya sudah mendingan, ia kini mulai kembali bekerja. “Tara,” Tara terkejut disaat ngerasa pundaknya ditepuk oleh seseorang. Tara pun menengok kebelakang.

“Pak Tian bikin kaget aja,” benar, pak Tian lah yang menepuk pundak Tara dari belakang.

“Syukurlah kamu sudah masuk kembali. Saya keteteran soalnya gaada kamu …” kata pak Tian yang tertawa kecil.

“Alhamdulillah pak, berkat doa dan dukungan dari teman-teman saya dan bapak hehehe.”

“Oh, iya, Tara, cita-cita kamu apa?” Tara memikirkan jawaban untuk pertanyaan pak Tian barusan.

“Hmmm apa, ya?”

“Mungkin menikah dengan wanita yang saya cintai?”

Pak Tian pun tersenyum. Dirinya juga pernah muda dan bucin seperti Tara. “Saya doakan cita-cita kamu itu tercapai.”

“Aamiin.”

“Kamu sakit apa kemarin?”

“Kecapean aja pak.” Jawab Tara bohong.

“Oh, yasudah. Kalo dirasa cape, jangan dilanjutin, ya …” Tara mengangguk.

“Punten paket,” ucap Tara yang terus mengetuk-ngetuk pintu rumah Vira.

Vira pun mulai membuka kan pintu, namun tiba-tiba Tara langsung memeluknya. “Kangennnn!!” Tara mengeratkan pelukannya dan membiarkan Vira kehabisan napas.

“Tara anjing! Kamu mau aku mati?” Tara akhirnya melepaskan pelukannya. “Hehehe maaf,” Vira langsung meninggalkan Tara dan kembali menuju ke dapur.

Tara pun mengikuti langkah wanita nya itu. “Lagi bikin apa si sayang?” Vira tak membalasnya.

“Raa ….”

“Apa si?”

“Kamu sayang gak si sama aku?”

Vira langsung menghentikan kegiatan memotong wortel. “Kenapa nanya gitu?” Kini tangan Vira mulai melipat.

“Ya, abisnya aku nanya kamu malah diem aja,” Vira hanya bisa tertawa, “apasi sayangkuh … kan aku lagi motong. Kamu mau emang tangan aku kepot—“ Mulut Vira langsung di bungkam dengan bibir manis Tara.

Jie yang melihat dari lantai 2 hanya bisa menghela napas, “gini banget nasib punya kakak bucin.” Vira yang melihat Jie sedang berdiri, langsung mendorong tubuh Tara agar segera menjauh dari dirinya.

“Calangeoo” kata Tara yang menunjukkan jari ala-ala drakor.

“Tar, kalo mau jalan tuh jangan mendadak gini! Udah tau panas, mager juga.” Kata Vira yang mood nya sedang tidak baik.

“Utututu gemes banget princess aku,” Tara mengelus dan beralih mengacak-ngacak rambut Vira.

Tara memang suka mengacak-ngacak rambut dari sang kekasih. Dikarenakan diri nya sangat gemas bila Vira marah-marah.

Beda dengan Jie, Jie yang kini duduk di kursi belakang hanya bisa menghela napas. Dirinya menjadi nyamuk antara Tara dan kakaknya Vira.

“Disini banyak nyamuk, ya?” Sindiran halus Jie membuat Tara merasa.

“Hehehe, maaf, ya? Soalnya kakak kamu gemes,” kini Tara mencubit pipi Vira hingga merah.

“Ihhhh, aku turun ni!” Ancam Vira.


“Jie, kamu gak mau cari cewek?” Pertanyaan Tara berhasil membuat Jie tersedak.

uhuk uhuk

“Jiee sorry, sorry…” Jie hanya mengangguk menandakan bahwa dirinya tak apa-apa.

“Tadi kak Tara bilang apa? Cari cewek?”

Tara mengangguk, “iya, kamu gak mau cari cewek?” Tara kembali mengulangi pertanyaan yang sebelumnya ia katakan.

“Engga, soalnya nanti berantem terus kaya kalian.” Tara dan Vira saling menatap satu sama lain, “apaan, Tara yang mulai duluan.” Tara menghela napasnya.

“Tuhkan mulai..” Jie hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

Baru saja dirinya bilang kalau nanti bakal berantem kaya kalian berdua, dan ternyata beneran berantem.

“Gemes banget, pengen gue nikahin!”

“Cantik banget calon pacar,” yang di goda pun tersenyum malu.

“Apaansi, mau kemana?”

“Mau nya kemana?”

“Taman?”

“Terserah deh wkwkwk.”


Mereka berdua pun tiba di taman yang sangat cantik pada malam itu. “Mau ngomong apa?” Tanya Lala pada Bian.

“Jadi pacar gue, ya, La? Temenin gue sampai akhir. Mau, kan?” Yang di tanya justru diam tak mengerti.

“Maksudnya?”

“Temenin gue, ya, La?”

“Langsung ke intinya aja deh.”

“Lo mau jadi pacar gue?”

“Engga…”

“Engga salah lagi HAHAHAHA.” Kini Bian memeluk Lala tanpa aba-aba, dan Lala pun membalasnya.

“I love you.”

“Love you too.”

“Lo lama amat si, ngapain?” Tanya Deanno.

“Ngaca lah, udah ganteng apa belom, hahaha.”

“Sama aja gila nya kaya Tyo.”

Kini mereka berdua meninggalkan lingkungan rumah Bian.


“Akhirnya nyampe juga… mau langsung naik apa istirahat dulu?” Kata Winatra kini bersemangat untuk segera menanjak puncak.

“Lo pada naek duluan deh, gue nanti belakangan…” Bian sebenarnya enggan untuk naik, karena diri nya tau nanti nya bakal drop dan bikin teman-teman nya khawatir. Namun, Bian harus terlihat sehat di depan teman-teman nya.

“Gue juga bareng Bian aja. Gue masih cape, ya, anjir!” Ungkap Deanno yang terlihat lemas.

Pada akhirnya, Tyo dan Winatra naik terlebih dahulu dan meninggalkan Dean bersama Bian.

“Ndra, muka lo pucet. Lo cape, ya? Mau balik aja?” Bian yang mendengar perkataan Dean tersebut, ia langsung bergegas menjauh dari Deanno agar temannya itu tak curiga.

“HEH MAU KEMANA LO!!” Teriak Deanno.

Setelah dirasa diri nya sudah tidak picat, Bian menghampiri Dean kembali. “Apaan? Tadi gue ngambil barang bentar di mobil.” Kata Bian yang sedang berbohong.

“Yauda ayok baik. Udah gak capekan?”

“Engga.”

Bian dan Deanno kini mulai menyusul Typ dan Winatra yang sudah cukup jauh. “Pelan-pelan.” Ucap Deanno.

Namun, tiba-tiba di pertengahan jalan, darah mengalir begitu saja lewat idung Bian. “You okay, Bi?” Tanya Deanno yang memastikan bahwa teman nya itu tidak apa-apa.

“Okay. Ayok lanjutin, nanti Tyo sama Winatra nunggu di atas.” Namun, Deanno menggeleng. “Turun aja yuk? Apa lo mau pulang? Lo sakit?” Bujuk Deanno.

“Gue gak sakit, cuma kecapean.”

“Yauda gue telpon tyo dulu bentar.” Bian mengangguk, “ayok kita turun dulu deh.” Ajak Deanno pada Bian.

Jam menunjukkan pukul 12.00 Siang. Dimana Bian yang masih ada kelas, kini dirinya harus ijin dikarenakan diri nya harus pulang.

Bian, Qiandra Abian. Anak tunggal dari keluarga Mahesa, kini dirinya hanya tinggal bersama mamah nya. Dikarenakan Papah nya sudah lebih dulu meninggalkan nya.

Abian terkenal dengan kecerdasan nya. Dan Abian juga ramah terhadap semua orang, ia pun menuruti apa kata mamah nya bahkan kalau diri nya di jodohkan.


Ia keluar dari ruang kelas dengan sangat tergesah-gesah. ”Itu Bian kenapa buru-buru gitu?” Kata orang yang melihat nya.

entahlah ada urusan apa yang membuat dirinya begitu sangat terburu-buru.

Bian yang begitu terburu-buru, ia bahkan menabrak orang yang menghalangi jalan nya. Sampai suatu ketika …

BRUG

“Maaf, maaf … “ Kata Bian yang membantu membereskan buku-buku dari orang yang ia tabrak.

“Mangkanya kalo jalan tuh liat-liat.”

“Maaf, sekali lagi gue minta maaf.” Namun perkataan Bian tak di dengar oleh perempuan yang kini ada di hadapan nya.

“Hallo? Gue minta maaf.” Namun lagi-lagi tak ada jawaban.

“Ini nametag gue kemana anjir?! Ihhh!” Clara, Clara Ziovany. Nama yang sangat cantik sama seperti wajah nya.

Bian menemukan barang yang kini Clara cari. “Ini nametag lo?” Tanya Bian yang dibalas anggukan.

“Clara Jiopani?”

“CLARA ZIOVANY!” Tegas Clara yang langsung mengambil hak milik nya. “Thanks.” Lanjut nya.

Clara meninggalkan Bian yang masih menatap nya dari belakang. ”Clara?”

Jam menunjukkan pukul 12.00 Siang. Dimana Bian yang masih ada kelas, kini dirinya harus ijin dikarenakan diri nya harus pulang.

Bian, Qiandra Abian. Anak tunggal dari keluarga Mahesa, kini dirinya hanya tinggal bersama mamah nya. Dikarenakan Papah nya sudah lebih dulu meninggalkan nya.

Abian terkenal dengan kecerdasan nya. Dan Abian juga ramah terhadap semua orang, ia pun menuruti apa kata mamah nya bahkan kalau diri nya di jodohkan.


Ia keluar dari ruang kelas dengan sangat tergesah-gesah. *”Itu Bian kenapa buru-buru gitu?” Kata orang yang melihat nya.

*entahlah ada urusan apa yang membuat dirinya begitu sangat terburu-buru.

Bian yang begitu terburu-buru, ia bahkan menabrak orang yang menghalangi jalan nya. Sampai suatu ketika …

*BRUG

“Maaf, maaf … “ Kata Bian yang membantu membereskan buku-buku dari orang yang ia tabrak.

“Mangkanya kalo jalan tuh liat-liat.”

“Maaf, sekali lagi gue minta maaf.” Namun perkataan Bian tak di dengar oleh perempuan yang kini ada di hadapan nya.

“Hallo? Gue minta maaf.” Namun lagi-lagi tak ada jawaban.

“Ini nametag gue kemana anjir?! Ihhh!” Clara, Clara Ziovany. Nama yang sangat cantik sama seperti wajah nya.

Bian menemukan barang yang kini Clara cari. “Ini nametag lo?” Tanya Bian yang dibalas anggukan.

“Clara Jiopani?”

“CLARA ZIOVANY!” Tegas Clara yang langsung mengambil hak milik nya. “Thanks.” Lanjut nya.

Clara meninggalkan Bian yang masih menatap nya dari belakang. *”Clara?”

Zavira dan Jie kini segera menuju tempat dimana Tara ngajar dance. “Emang kenapa si, kak?” Tanya Jie yang penasaran sebenernya ada apa. Namun, tak ada jawaban dari sang kakak.


Setelah 45 menit menempuh perjalanan, kini kakak beradik itu tiba di tempat dance yang diajar oleh Tara.

“Ayok masuk.” Vira menarik tangan Jie untuk segera masuk dan memastikan bahwa Tara baik-baik saja.

Vira yang melihat Tara sedang terbaring lemah, ia langsung menghampirinya. “Tar, bangun… Tara!” Vira mencoba membangunkan Tara dengan cara menggoyang-goyangkan tubuh Tara.

“Tar… ini aku… bangun.” Namun hasilnya sama saja, Tara belum juga bangun.

“Ada yang punya minyak—“ tanpa basa-basi, Septi langsung mengeluarkan minyak kayu putih dari dalam tasnya dan memberikan pada Vira. “Nih kak..” kata Septi.

Zavira mendekatkan minyak kayu putih yang diberikan oleh Septi ke hidung Tara. Tak perlu waktu lama, tangan Tara mulai bergerak dan matanya secara perlahan terbuka.

Alhamdulillah

Akhirnya kak Tara sadar juga.

Zavira membangunkan Tara secara perlahan dan duduk di samping Tara. “Kok kamu kesini?” Zavira menatap tajam Tara dengan matanya, setelah mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut sang pacar.

“Kamu pingsan, masa aku diem aja?! Lagian kan udah dibilang, jangan kecapean.” Tara yang males berdebat, akhirnya ia memutuskan menyenderkan kepalanya di pundak Vira.

“Ayok pulang.” Lanjut Vira.

“Aku belum selesai ngajar, Ra.”

“Ga, kamu tadi habis pingsan. Masih mau ngelanjutin ngajar? Kalo kamu kenapa-napa aku gak mau tanggung jawab, ya.”

“Tara, bukan Arga.” Tara paling males kalo Vira sudah memarahi dirinya. Sebab, pastinya Vira akan memanggilnya dengan sebutan Arga.

“Yauda kalo gak mau dipanggil Arga, nurut.” Tara menghela napas, ia menuruti apa kata sang pacar.

Tara membereskan barang-barangnya, tak lupa dirinya berpamitan pada murid yang diajar olehnya. “Sampai sini dulu latihannya. Semangat. Kakak pulang dulu..” Tara menggandeng Vira menuju keluar dan disusul oleh Jiano dibelakang.

Zavira yang sudah tiba di lokasi dimana Tara dan Atuy berada, ia segera masuk kedalam untuk mencarinya.

Tak lama ia mencari, akhirnya dirinya menemukan dua laki-laki yang ia cari. “Mas, tolong bantuin temen saya bawa ni cowo, ke dalam mobil saya. Cepet, gapake lama.” Perintah Zavira kepada pelayan club.

Tara pun digotong oleh Yuta dan pelayan di club untuk masuk ke mobil Zavira. “Gue aja yang nyetir, lo temenin Tara di belakang.” Kata Atuy yang mengambil alih mengemudi. Zavira mengangguk dan pindah tempat duduk di samping Tara.

Kepala Tara ia taro di pahanya, dan ia mengelus ngelus lembut rambut Tara. “Dasar gila, udah tau gabisa mabok, so soan mabok. Jadi ginikan, nyusahin.” Atuy hanya tertawa setelah mendengar Zavira mengomeli Tara yang sedang dalam keadaan mabuk itu.

I love you, Ra. Zavira yang kaget mendengar Tara berbicara, ia langsung menepuk nepuk pipi Tara.

“Heh, bangun bangun udah pagi.” Tara masih saja belom sadar.

Ra, maaf. Aku gabisa hidup tanpa kamu, jadi jangan tingalin aku lagi. lagi lagi Tara mengeluarkan suara menyebut nama Zavira. Namun, Zavira tak peduli. Efek mabuk kata dirinya.

“Ini mau kerumah siapa?” Tanya Atuy.

“Rumah gue aja.”

“Gapapa emang sama bunda lo?”

“Gapapa, lagian bunda juga udah tidur.” Atuy mengacungkan jempol ke arah spion mobil di dalam.


“Jiee, jiee” teriak Zavira dari ruang tamu.

Jie pun turun dari tangga, “kenapa kak?” Jie melihat bahwa Tara sudah dalam keadaan tak sadarkan diri akibat mabuk berlebihan.

“Bantuin kak Atuy gotong Tara ke kamar kamu.” Perintah Zavira.

“Kamar Jie?”

“Iya, cepet. Ini makhluk berat banget.” Jie langsung menggotong Tara bersama dengan Atuy.


“Thank you, Tuy. Hati-hati.” Atuy mengangguk dan melambaikan tangannya pada Jie. “Dadah anak ganteng.” Jie membalas lambaian Atuy.

“Jie, kakak pinjem baju kamu ya? Buat ganti baju Tara. Bau alkohol.” Jie langsung mengambil bajunya di dalam lemari dan menyerahkannya pada Zavira.

“Gantiin, ni.” Jie menggeleng, “kakak aja, kan kakak pacarnya.” Kata Jie yang langsung keluar begitu aja.

“Dasar anak setan.”

Kini Zavira tinggal berdua di kamar Jie bersama Tara. Ia mulai mengangkat baju Tara yang sudah menyengat bau alkoholnya. Tak lupa dirinya menahan napas agar bau alkohol tidak tercium olehnya. “Nyusahin, gausah mabok besok besok.” Disaat Vira mengangkat baju Tara, tiba tiba Tara melotot begitu saja.

“Monyet, gue kaget.” Kata Zavira yang langsung menampar muka Tara.

“Aku dimana?”

“Aku dimana, aku dimana. Dikamar Jie, rumah gue. Gausah mabok besok besok, nyusahin.” Tara hanya tersenyum. “Nih ganti baju sendiri, gue mau balik kekamar gue.” Lanjut Zavira, belom sempat berdiri, tangannya ditahan oleh Tara.

“Disini aja, temenin aku. Aku kangen kamu, Ra.” Kalo boleh jujur, dirinya juga kangen dengan boba eyes dari laki-laki yang sekarang ada dihadapan dirinya.

“Ra?” Tanpa aba aba, Tara langsung meraih rahang Zavira dengan tangannya dan menyatukan bibirnya.

Zavira kini hanya bisa membeku, padahal ini bukan kali pertama dirinya dicium oleh Tara. Namun, tetap saja dirinya kaget.

Tara melepaskan ciumannya, dan menatap Zavira yang kini mulai menjadi batu. “Kenapa? Kaget? Kangen aku juga kan? Gausah gengsi, ayok main.” Kini Tara kembali menyentuh bibir Vira dengan bibirnya.

Zavira mendorong tubuh Tara untuk segera berhenti menciumnya. “Inget ga si, ini dikamar siapa?” Bentak Vira. Tara hanya terdiam, “Maaf.”

“Ganti baju di kamar mandi, cepetan.” Tara mengangguk, ia langsung menuju ke kamar mandi untuk segera berganti pakaian yang sudah bau alkohol.


“Kamu tidur sama Jie, aku di kamar aku. Besok pagi, aku anter pulang.” Tara kini hanya menurut perkataan pemilik rumah tersebut.

“Ra…” Zavira menghentikan langkahnya disaat Tara memanggil namanya.

“Kenapa?”

Tangan Tara kini terbuka lebar, menandakan bahwa dirinya sedang ingin dipeluk. “Peluk … kangen.” Zavira langsung menuju ke arah Tara dan memeluknya.

“Udah? Aku ngantuk.”

“I love you, Vira sayang.”

Zavira yang sudah tiba di lokasi dimana Tara dan Atuy berada, ia segera masuk kedalam untuk mencarinya.

Tak lama ia mencari, akhirnya dirinya menemukan dua laki-laki yang ia cari. “Mas, tolong bantuin temen saya bawa ni cowo, ke dalam mobil saya. Cepet, gapake lama.” Perintah Zavira kepada pelayan club.

Tara pun digotong oleh Yuta dan pelayan di club untuk masuk ke mobil Zavira. “Gue aja yang nyetir, lo temenin Tara di belakang.” Kata Atuy yang mengambil alih mengemudi. Zavira mengangguk dan pindah tempat duduk di samping Tara.

Kepala Tara ia taro di pahanya, dan ia mengelus ngelus lembut rambut Tara. “Dasar gila, udah tau gabisa mabok, so soan mabok. Jadi ginikan, nyusahin.” Atuy hanya tertawa setelah mendengar Zavira mengomeli Tara yang sedang dalam keadaan mabuk itu.

I love you, Ra. Zavira yang kaget mendengar Tara berbicara, ia langsung menepuk nepuk pipi Tara.

“Heh, bangun bangun udah pagi.” Tara masih saja belom sadar.

Ra, maaf. Aku gabisa hidup tanpa kamu, jadi jangan tingalin aku lagi. lagi lagi Tara mengeluarkan suara menyebut nama Zavira. Namun, Zavira tak peduli. Efek mabuk kata dirinya.

“Ini mau kerumah siapa?” Tanya Atuy.

“Rumah gue aja.”

“Gapapa emang sama bunda lo?”

“Gapapa, lagian bunda juga udah tidur.” Atuy mengacungkan jempol ke arah spion mobil di dalam.


“Jiee, jiee” teriak Zavira dari ruang tamu.

Jie pun turun dari tangga, “kenapa kak?” Jie melihat bahwa Tara sudah dalam keadaan tak sadarkan diri akibat mabuk berlebihan.

“Bantuin kak Atuy gotong Tara ke kamar kamu.” Perintah Zavira.

“Kamar Jie?”

“Iya, cepet. Ini makhluk berat banget.” Jie langsung menggotong Tara bersama dengan Atuy.


“Thank you, Tuy. Hati-hati.” Atuy mengangguk dan melambaikan tangannya pada Jie. “Dadah anak ganteng.” Jie membalas lambaian Atuy.

“Jie, kakak pinjem baju kamu ya? Buat ganti baju Tara. Bau alkohol.” Jie langsung mengambil bajunya di dalam lemari dan menyerahkannya pada Zavira.

“Gantiin, ni.” Jie menggeleng, “kakak aja, kan kakak pacarnya.” Kata Jie yang langsung keluar begitu aja.

“Dasar anak setan.”

Kini Zavira tinggal berdua di kamar Jie bersama Tara. Ia mulai mengangkat baju Tara yang sudah menyengat bau alkoholnya. Tak lupa dirinya menahan napas agar bau alkohol tidak tercium olehnya. “Nyusahin, gausah mabok besok besok.” Disaat Vira mengangkat baju Tara, tiba tiba Tara melotot begitu saja.

“Monyet, gue kaget.” Kata Zavira yang langsung menampar muka Tara.

“Aku dimana?”

“Aku dimana, aku dimana. Dikamar Jie, rumah gue. Gausah mabok besok besok, nyusahin.” Tara hanya tersenyum. “Nih ganti baju sendiri, gue mau balik kekamar gue.” Lanjut Zavira, belom sempat berdiri, tangannya ditahan oleh Tara.

“Disini aja, temenin aku. Aku kangen kamu, Ra.” Kalo boleh jujur, dirinya juga kangen dengan boba eyes dari laki-laki yang sekarang ada dihadapan dirinya.

“Ra?” Tanpa aba aba, Tara langsung meraih rahang Zavira dengan tangannya dan menyatukan bibirnya.

Zavira kini hanya bisa membeku, padahal ini bukan kali pertama dirinya dicium oleh Tara. Namun, tetap saja dirinya kaget.

Tara melepaskan ciumannya, dan menatap Zavira yang kini mulai menjadi batu. “Kenapa? Kaget? Kangen aku juga kan? Gausah gengsi, ayok main.” Kini Tara kembali menyentuh bibir Vira dengan bibirnya.

Zavira mendorong tubuh Tara untuk segera berhenti menciumnya. “Inget ga si, ini dikamar siapa?” Bentak Vira. Tara hanya terdiam, “Maaf.”

“Ganti baju di kamar mandi, cepetan.” Tara mengangguk, ia langsung menuju ke kamar mandi untuk segera berganti pakaian yang sudah bau alkohol.


“Kamu tidur sama Jie, aku di kamar aku. Besok pagi, aku anter pulang.” Tara kini hanya menurut perkataan pemilik rumah tersebut.

“Ra…” Zavira menghentikan langkahnya disaat Tara memanggil namanya.

“Kenapa?”

Tangan Tara kini terbuka lebar, menandakan bahwa dirinya sedang ingin dipeluk. “Peluk … kangen.” Zavira langsung menuju ke arah Tara dan memeluknya.

“Udah? Aku ngantuk.”

“I love you, Vira sayang.”